SELAMAT DATANG DI PPA&K VIRTUAL CLASS

Media peningkatan kompetensi secara online di bidang Audit Internal, Audit Forensik, Manajemen Risiko, Good Corporate Governance, Akuntansi, Keuangan dan Perpajakan.

Materi diklat dikembangkan spesifik dan aplikatif untuk menjawab tuntutan kebutuhan saat ini dan masa depan. Model pembelajaran dirancang melibatkan serangkaian proses yang mendorong setiap peserta berbagi pengetahuan, keterampilan nilai-nilai dan pengalaman dengan dipandu oleh fasilitator yang profesional dan berpengalaman.

Daftar Diklat

No Nama Diklat Biaya Waktu Pelaksanaan

News

DIKLAT DAN SERTIFIKASI GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) PERIODE JANUARI 2024

10 Jan 2024

Pusat Pengembangan Akuntasi dan Keuangan (PPA&K) kembali aktif membuka diklat virtual di awal tahun 2024. Ada dua diklat virtual yang dibuka pada 8 Januari 2024, diantaranya Certified Governance Professional (CGP) dan Certified Governance Oversight Professional (CGOP). Pembukaan diklat dilakukan melalui Zoom dan diikuti oleh peserta yang berasal dari BUMN. Selain Direktur Utama dan Direktur Operasional PPA&K serta perwakilan dari LSP-MKS juga turut hadir untuk membuka kegiatan ini.

Pada pembukaan diklat virtual, Bapak Supriyadi yang merupakan Direktur Utama PPA&K memberikan sambutan hangat bagi para peserta. Beliau menyingung mengenai Peraturan Menteri BUMN Nomor Per-2/mbu/03/2023 Tahun 2023 Tentang Pedoman Tata Kelola dan Kegiatan Korporasi Signifikan BUMN. Adanya peraturan yang belum lama diterbitkan ini mengharuskan BUMN beradaptasi dalam perkembangannya. Maka dari itu dibutuhkan sumber daya yang kompeten pada pelaksanaan dan pengawasannya.

”Seluruh organ perusahaaan diminta untuk bisa memahami dan memiliki kompetensi terkait dengan tata kelola, mulai dari Dewam pengawas/Dewan Komisaris, Komite, Direksi, seluruh manajemen, SPI, dan sebagainya,” kata Bapak Supriyadi.

Menurut Bapak Supriyadi, optimalisasi terhadap penerapan peraturan ini harus dlakukan dengan maksimal. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan terkait dengan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governace (GCG).

”Dengan mengikuti diklat dan uji kompetensi ini, diharapkan para peserta bisa dinyatakan kompeten dan bisa memberikan hal terbaik kepada perusahaannya,” ujarnya sebelum menutup sambutan.

CGP dan CGOP merupakan program diklat dan sertifikasi yang berkaitan dengan tata kelola perusahaan. Diklat CGP sendiri diikuti oleh para peserta yang ingin mendapatkan sertifikat kompetensi di bidang tata kelola. Kemudian nantinya peserta bisa menerapkannya pada praktik tata kelola setelah dinyatakan kompeten di bidang pelaksanaan tata kelola korporasi atau tata kelola publik, serta manajemen risiko berbasis tata kelola. Sedangkan Diklat CGOP merupakan program yang bertujuan untuk mendapatkan sertifikat kompetensi pengawasan di bidang pengawasan dan pembinaan tata kelola publik, serta manajemen risiko.

Adapun peserta yang diikutsertakan berasal dari perusahaan yang sejak dulu mempercayakan PPA&K sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan, seperti PT Jasa Raharja terhitung sudah mengirimkan 1.051 peserta dan para peserta tersebut telah mengikuti sebanyak 21 jenis diklat. Disamping itu ada pula PT Asuransi Kredit Indonesia (ASKRINDO) yang telah mengikuti 17 jenis diklat dengan total peserta yang pernah mengikuti sebanyak 311 peserta.

Diklat dan Sertifikasi CGP akan dilakukan mulai tanggal 8 hingga 12 Januari 2024, sedangkan Diklat dan Sertifikasi CGOP akan selesai satu hari lebih cepat yakni, dimulai tanggal 8 sampai 11 Januari 2024. Bagi pelaksanaan uji kompetensi, PPA&K telah bekerjasama dengan LSP MKS dan menjadwalkan peserta dan melangsungkannya pada hari terakhir program ini berjalan.

Adanya upaya untuk mengoptimalisasi tata kelola perusahaan ini merupakan salah satu perwujudan PPA&K untuk terus mengembangkan kompetensi dan mendukung perubahan yang baik bagi tata kelola perusahaan di Indonesia.

Read more

PROGRAM DIKLAT AUDIT INTERNAL DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DISELENGGARAKAN BERSAMAAN DI DUA TEMPAT

16 Dec 2023

Program pendidikan dan pelatihan (diklat) rutin diselenggarakan oleh PPA&K setiap bulan dan terbuka bagi BUMN, BUMD, Rumah Sakit, Intansi Pendidikan, dan Perusahaan Swasta. Terbagi antara kelas virtual dan tatap muka, diklat yang diselenggarakan PPA&K semakin dikenal dan bisa menjalin mitra dengan berbagai instansi/perusahaan di berbagai kota. Pelaksanaan diklat tatap muka sendiri terbagi di beberapa kota, yaitu Bogor untuk pelaksanaan Program Diklat Audit Internal serta Yogyakarta untuk pelaksanaan Program diklat Manajemen Risiko dan Good Corporate Governance (GCG). 

Di tahun 2023 bulan Desember merupakan saat terakhir penyelenggaraan diklat sebelum kita berganti ke tahun yang baru. Ada tiga diklat yang diselenggarakan di Bogor, yaitu Diklat Dasar-Dasar Audit yang dibuka tanggl 11 Desember 2023, kemudian pada tanggal 14 Desember 2023 dibuka Diklat Khusus Bagi Kepala SPI. Kemudian untuk diklat yang diselenggarakan di Yogyakarta adalah Certified Governance Oversight Professional (CGOP) dan dibuka pada 12 Desember 2023.
 
Pada pembukaan Diklat Dasar-Dasar Audit di Bogor, Bapak Supriyadi, Direktur Utama PPA&K, datang dan memberikan sambutan. Ucapan selamat datang diucapkan kepada para peserta karena baru pertama kali bergabung dalam mengikuti Program Diklat Audit Internal. Sebagai awalan, beliau menyapa para peserta dengan menanyakan berapa lama bergabung di pada bagian audit internal atau Satuan Pengawasan Internal (SPI). Tidak mengejutkan bahwa peserta yang mengikuti Diklat Dasar-Dasar Audit ini merupakan orang yang baru bergabung dalam kurun hitungan bulan bahkan ada yang baru dua minggu bergabung menjadi bagian SPl. Diketahui bahwa sebelum bergabung menjadi Auditor, para peserta kebanyakan berasal dari bagian operasional.

“Ada sesuatu yang berbeda antara penugasan operasional dan Satuan Pengawas Internal, cara kerjanya juga berbeda, maka dari itu harus diklat terlebih dulu,” ujar Bapak Supriyadi. 

Beliau juga sedikit menjelaskan bahwa posisi yang dipegang oleh peserta di perusahaannya memiliki peranan penting dalam pengendalian internal perusahaan tersebut. Posisi yang berada dibawah pimpinan perusahaan membuat peserta harus mampu membaca situasi dan memberikan rekomendasi terbaik sehingga peserta perlu diberikan pemahaman dasar-dasar audit selama sepuluh hari berjalannya diklat.

”Kalau di dalam Undang-Undang, kita dikatakan harus memberikan rekomendasi terbaik kepada direktur utama terutama dalam rangka asesmen terhadap risiko, pengendalian internal, dan tata kelola perusahaan,” jelasnya. 

Berbeda dengan Diklat Dasar-Dasar Audit yang dilakukan selama sepuluh hari di Bogor, Diklat CGOP yang dilakukan di Yogyakarta hanya berlangsung selama tiga hari disertai dengan uji kompetensi bersama Lembaga Sertifikasi Kompetensi Mitra Kalyana Sejahtera (LSP-MKS). Kegiatan pembukaan diklat diikuti oleh peserta yang terdiri dari komisaris perusahaan dan dihadiri oleh Bapak Budi Hanta selaku Direktur Operasional PPA&K. Sesuai dengan namanya, Diklat CGOP ini bertujuan agar pimpinan perusahaan bisa lebih kompeten di bidang pengawasan dan pembinaan tata kelola perusahaan atau tata kelola publik.  Selain itu, peserta juga diharapkan kompeten dalam bidang pengawasan di bidang Manajemen risiko berbasis tata kelola. 

Pada pelaksanaan Diklat ini, baik di Bogor maupun di Yogyakarta, PPA&K menghadirkan para pengajar yang memiliki jam terbang tinggi dalam berkarir di bidang Audit Internal, Manajemen Risiko, dan Tata Kelola. Kelebihan ini menarik atensi peserta diklat sehingga aktivitas di dalam kelas bisa hidup karena adanya diskusii yang menarik dengan pengajar. Diklat ini merupakan diklat terakhir yang di tahun 2023, PPA&K selalu mencoba untuk berinovasi agar terus memberikan yang terbaik dan berupaya untuk terus menjalin mitra dengan instansi atau perusahaan supaya bisa berkontribusi dalam pengembangan kompetensi sumber daya manusia. Diklat PPA&K akan kembali dilaksanakan pada bulan Januari 2024. 

Read more

GO LIVE SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RISIKO (SIMR) PADA PERUMDA PASAR JAYA

06 Dec 2023

PPA&K tidak hanya sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan yang berperan mengembangkan SDM di bidang Audit Internal, Audit Forensik, Manajemen Risiko, Good Corporate Governance (GCG), Akuntansi, Keuangan, dan Perpajakan. Seiring dengan perkembangan teknologi, PPA&K juga turut serta dalam mengembangan sistem manajemen risiko yang bisa digunakan oleh berbagai intansi atau perusahaan dalam mengelola manajemen risiko demi mencapai efektivitas dam efisiensi.

Perumda Pasar Jaya merupakan salah satu instansi yang sejak lama menggunakan jasa PPA&K. Pada tahun 2023 ini, Perumda Pasar Jaya melakukan digitalisasi Sistem Manajemen Risiko (SIMR) dan bekerjasama dengan PPA&K dalam pengembangannya. Tepat di tanggal 5 Desember 2023 sistem tersebut diresmikan dalam kegiatan Go Live SIMR Perumda Pasar Jaya yang dihadiri oleh Perumda Pasar Jaya yang terdiri Jajaran Dewan Pengawas, Direksi, dan Kepala Divisi, Serta tidak ketinggalan Tim dari PPA&K sebagai konsultan.

Menurut Ibu Ratih Mayasari selaku Direktur Keuangan Perumda Pasar Jaya, dikembangkannya SIMR karena ini merupakan saat yang tepat untuk melakukan digitalisasi dengan tujuan mengelola database yang baik terhadap pelaporan Manajemen Risiko. Manajemen Risiko yang konseptual dan adminitratif membuatnya harus dilaporkan secara berkala, yang dalam hal ini Perumda Pasar Jaya harus melaporkannya setiap triwulan.

“Nanti (pelaporan manajemen risiko) bisa dilakukan secara lebih easy oleh para user dan akan bisa dilihat, akan ada dashboard update atas tabel matriks yang ada, kepada pemilik risiko yang lebih atas,” ujar Ibu Ratih pada sambutannya.

Sejalan dengan itu, Ketua Dewan Pengawas Perumda Pasar Jaya, Bapak Suko Pranoto menyerukan agar pemanfaatan SIMR bisa dilakukan secara maksimal supaya kinerja perusahaan dapat meningkat.

“Tolong diinfomasikan kepada operasional di lapangan apa itu risk management, bagaimana sistem ini dibangun, jalannya bagaimana, dengan alat apa,” imbaunya.

Bapak Supriyadi selaku Direktur Utama PPA&K menambahkan bahwa digitalisasi memang sangat dianjurkan di era globalisasi seperti sekarang. Dinyatakan dalam ISO 31000 Tahun 2018 tentang Manajemen Risiko, pelaksanaan penilaian risiko terdiri dari identifikasi risiko, analisis risiko, dan evaluasi risiko, perlakuan risiko, pemantauan dan peninjauan, perekaman, dan pelaporan. Proses yang panjang tersebut harus dikekola sedemikian rupa agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan.

”Manajemen Risiko kini bukan barang statis, melainkan hal dinamis, sehingga jika ada risiko yang muncul bisa diinfokan kepada divisi manajemen risiko untuk bisa dilakukan penilaian,” kata Bapak Supriyadi.

Atas kepercayaan yang besar dari Perumda Pasar Jaya, kerjasama ini akan berlanjut dan PPA&K akan terus berinovasi agar bisa mengembangkan sistem informasi yang lebih baik lagi.

”Aplikasi ini akan membantu kinerja perusahaan dan kedepannya nanti akan terus kita kembangkan,” tutupnya.

Sebelum kerjasama dengan Perumda Pasar Jaya dalam mengembangan SIMR berlangsung, PPA&K juga telah mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Risiko (SIMKO) di onstansi lain seperti PT Angkasa Pura Solusi dan PT Jasa Marga (Persero). Baik SIMKO maupun SIMR, keduanya tidak hanya bisa dipakai oleh BUMN atau BUMD, tapi bisa juga di aplikasikan untuk menunjang kinerja manajemen risiko perusahakaan swasta.

Read more

PRINSIP-PRINSIP UTAMA TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

20 Oct 2023

Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance - GCG) adalah fondasi universal bagi perusahaan dan organisasi di seluruh dunia dalam mengelola bisnis mereka dengan prinsip-prinsip seperti integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Di Indonesia, GCG telah menjadi komponen penting dalam mengatur tata kelola perusahaan, membangun kepercayaan pemegang saham dan pemangku kepentingan, serta merangsang pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Untuk merenung lebih dalam tentang GCG di Indonesia, mari kita telusuri inti prinsip-prinsip yang membentuk pondasi kerangka kerja ini.

1. Prinsip Kepatuhan (Compliance):

Prinsip pertama dalam GCG adalah kepatuhan terhadap peraturan dan undang-undang yang berlaku. Perusahaan diwajibkan untuk mematuhi semua regulasi yang berkaitan dengan bisnis mereka, termasuk regulasi pasar modal, peraturan lingkungan, dan peraturan ketenagakerjaan. Kepatuhan ini menciptakan fondasi yang kuat untuk menjaga integritas perusahaan dan menghindari risiko hukum.

2. Prinsip Transparansi (Transparency):

Transparansi adalah prinsip GCG yang menekankan pentingnya memberikan informasi yang jelas dan akurat kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Ini termasuk publikasi laporan keuangan yang transparan, informasi tentang kebijakan bisnis, dan keputusan strategis perusahaan. Dengan transparansi yang baik, perusahaan menciptakan kepercayaan dan membantu pemegang saham membuat keputusan yang informasional.

3. Prinsip Akuntabilitas (Accountability):

Akuntabilitas adalah prinsip GCG yang menekankan bahwa setiap orang di perusahaan bertanggung jawab atas tindakan dan keputusannya. Ini mencakup dewan direksi, manajemen eksekutif, dan seluruh staf perusahaan. Akuntabilitas adalah dasar dari sistem pengambilan keputusan yang kuat dan membantu mencegah konflik kepentingan.

4. Prinsip Kejelasan Peran (Clarity of Roles):

Setiap individu dalam perusahaan harus memiliki peran yang jelas dan tanggung jawab yang terdefinisi dengan baik. Ini termasuk pemisahan antara pemegang saham, dewan direksi, dan manajemen eksekutif. Dengan demikian, prinsip ini menghindari penyalahgunaan kekuasaan dan konflik kepentingan yang mungkin muncul jika peran tidak terdefinisi dengan baik.

5. Prinsip Kepentingan Pemegang Saham (Shareholder Interests):

Prinsip ini menekankan bahwa kepentingan pemegang saham harus ditempatkan pada prioritas utama dalam pengambilan keputusan perusahaan. Ini mencakup pembagian dividen yang adil dan pengambilan keputusan yang mempertimbangkan kepentingan jangka panjang pemegang saham.

6. Prinsip Kepentingan Pemangku Kepentingan Lainnya (Stakeholder Interests):

Selain pemegang saham, perusahaan juga harus memperhatikan kepentingan pemangku kepentingan lainnya, seperti karyawan, pelanggan, masyarakat, dan lingkungan. Prinsip ini mempromosikan tanggung jawab sosial perusahaan dan berkelanjutan.

7. Prinsip Transparansi dalam Pelaporan Keuangan (Transparency in Financial Reporting):

Pelaporan keuangan yang tepat waktu, akurat, dan komprehensif adalah prinsip kunci dalam GCG. Perusahaan harus memastikan bahwa laporan keuangan mereka memenuhi standar akuntansi yang relevan dan memberikan gambaran yang jelas tentang kinerja keuangan perusahaan.

8. Prinsip Pengawasan (Oversight):

Pengawasan yang efektif adalah prinsip penting dalam GCG. Dewan direksi harus memiliki mekanisme pengawasan yang kuat terhadap manajemen eksekutif, termasuk audit independen dan komite pengawas.

Kesimpulan:

Prinsip-prinsip utama Tata Kelola Perusahaan yang Baik di Indonesia membentuk dasar dari bagaimana perusahaan mengelola bisnis mereka secara etis dan bertanggung jawab. Penerapan prinsip-prinsip ini membantu menciptakan lingkungan bisnis yang sehat, meningkatkan kepercayaan investor, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, GCG merupakan aspek penting yang harus dipahami dan diterapkan oleh setiap perusahaan yang ingin mencapai keberhasilan jangka panjang.

 

Ryan Hegar
Fasilitator, Asesor & Konsultan GCG  

 

 

 

 

 

 

Read more


News

ASAL USUL TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK DI INDONESIA: DARI AWAL HINGGA SEKARANG

06 Oct 2023

Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance - GCG) telah menjadi landasan utama dalam mengelola perusahaan dan organisasi di seluruh dunia. Di Indonesia, GCG bukanlah konsep yang muncul begitu saja, tetapi melibatkan sejarah panjang, perubahan peraturan, serta usaha keras untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan etika dalam dunia bisnis. Dalam artikel ini, kami akan mengulas perjalanan panjang dari asal usul GCG di Indonesia, dari masa-masa awal hingga saat ini.

Sebelum Era GCG:

Sebelum kita membahas tentang era GCG, penting untuk memahami kondisi bisnis di Indonesia pada masa lalu. Di tahun 1980-an, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Namun, dalam lingkungan bisnis yang berorientasi pada pertumbuhan tersebut, sering kali kurang diperhatikan aspek-aspek seperti transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan hak pemegang saham minoritas. Bisnis seringkali berjalan berdasarkan hubungan personal dan kebijakan yang ambigu.

Munculnya Kesadaran Akan Pentingnya GCG:

Pertumbuhan ekonomi yang pesat juga diikuti oleh beberapa kasus penyalahgunaan kekuasaan dan skandal korupsi dalam dunia bisnis. Hal ini memunculkan kesadaran akan perlunya perubahan. Pada tahun 1990-an, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang cukup parah, yang menjadi pemicu bagi reformasi dalam sektor bisnis. Sebagai tanggapan terhadap krisis ini, pemerintah dan para pemangku kepentingan mulai mengakui perlunya prinsip-prinsip GCG yang kuat.

Peran Pemerintah dan Regulator:

Pemerintah Indonesia, bersama dengan regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), memainkan peran penting dalam mempromosikan GCG. Pada tahun 2006, OJK memperkenalkan Pedoman GCG, yang memberikan kerangka kerja untuk perusahaan dalam menerapkan prinsip-prinsip GCG. Pedoman ini secara bertahap diperbarui dan ditingkatkan untuk menjawab perubahan dalam lingkungan bisnis.

Implementasi GCG dalam Perusahaan:

Selama beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan di Indonesia telah mulai menerapkan prinsip-prinsip GCG dalam operasi mereka. Dewan direksi dan manajemen eksekutif telah lebih memperhatikan transparansi dalam pelaporan keuangan, menjaga hak pemegang saham minoritas, dan meningkatkan pengawasan internal. Perusahaan yang memiliki komitmen yang kuat terhadap GCG sering mengalami peningkatan kinerja dan mendapatkan kepercayaan dari pasar dan investor.

Tantangan dan Masa Depan GCG di Indonesia:

Meskipun progres telah dicapai, tantangan dalam menerapkan GCG di Indonesia masih ada. Beberapa perusahaan masih menghadapi kendala dalam mengubah budaya organisasi mereka dan memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip GCG. Kemajuan juga harus terus diperjuangkan dalam hal perlindungan hak pemegang saham minoritas dan penanganan konflik kepentingan.

Masa depan GCG di Indonesia harus mempertimbangkan perkembangan global, seperti tren dalam keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Perusahaan-perusahaan di Indonesia perlu terus beradaptasi dan mengembangkan praktek-praktek terbaik agar tetap relevan di pasar global yang semakin kompetitif.

Kesimpulan:

Dari masa-masa awal yang kurang memperhatikan aspek GCG hingga perkembangan saat ini yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan etika dalam bisnis, Indonesia telah mengalami perjalanan panjang dalam menerapkan GCG. Meskipun tantangan masih ada, komitmen untuk memperkuat GCG di seluruh sektor bisnis adalah langkah penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mendukung perkembangan bisnis di masa depan. GCG bukanlah sekadar peraturan, tetapi sebuah budaya yang harus ditanamkan di setiap lapisan organisasi untuk mencapai keberhasilan jangka panjang.

 

Ryan Hegar
Fasilitator, Asesor & Konsultan GCG  

Read more

DIKLAT VIRTUAL AUDIT INTERNAL BULAN OKTOBER 2023 SUDAH DIBUKA

03 Oct 2023

Audit Internal bisa dikatakan sebagai unit penting bagi operasional perusahaan. Dibutuhkan tenaga ahli yang disebut auditor internal untuk mengelola hal tersebut. Demi mendapatkan SDM yang memadai, perusahaan harus mendukungnya dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (diklat). 

PPA&K sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan, memfasilitasi adanya program diklat dan sertifikasi Audit Internal. Program tersebut terdiri dari lima jenjang yang wajib diikuti secara bertahap untuk bisa mendapatkan gelar Auditor Internal. Setiap bulan PPA&K selalu menyelenggarakan program tersebut dan pada bulan Oktober 2023 ini program diklat sudah dibuka. Pembukaan dilakukan secara virtual pada 2 Oktober 2023 dengan melibatkan peserta dari berbagai perusahaan. Pada bulan ini, diklat yang berjalan adalah Diklat Dasar-Dasar Audit juga Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit. Tentunya kegiatan ini juga dihadiri oleh Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi dan Direktur Operasional, Bapak Budi Hanta. 

Pada sesi sambutan, Bapak Supriyadi mengibaratkan bahwa Auditor Internal merupakan posisi yang strategis di perusahaan karena mereka yang memeriksa dan menganalisis kegiatan di perusahaan. Selain itu, Auditor Internal lah yang melakukan pengendalian agar operasional perusahaan dapat berjalan dengan semestinya. 

"Auditor internal bagaikan leher di perusahaan karena bertugas merekomendasikan segala hal terutama terhadap Governance, Risk Management, dan Control (GRC)," ujar Bapak Supriyadi. 

Salah satu yang menjadi faktor dalam keberhasilan audit ialah cara seorang auditor berkomunikasi, baik komunikasi dengan tim maupun dengan pimpinan. Bapak supiyadi menuturkan bahwa ini juga merupakan fakator yang sangat penting. Maka dari itu dibutuhkan teknik dalam berkomunikasi. 

"Tidak hanya mampu berkomunikasi, tapi sebagai seorang auditor internal ini, Bapak dan Ibu juga harus mampu untuk memahami secara psikologis agar bisa me-manage konflik," jelasnya. 

Pada pelaksanaan diklat, peserta akan mendapatkan pembekalan dari para pengajar yang sudah berpengalaman belasan tahun di bidang audit internal. Peserta Diklat Dasar-Dasar Audit akan melaksanakan diklat sampai dengan tanggal 11 Oktober 2023, sedangkan Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit lebih cepat satu hari yaitu 10 Oktober 2023. Diharapkan setelah mengikuti diklat ini, para peserta bisa terus terpacu untuk menjadi seorang Auditor Internal yang kompeten sehingga bisa mendorong perusahaan agar reputasinya terjaga.

Read more

KERJASAMA PPA&K & PT KERETA API LOGISTIK DALAM ASESMEN GOOD CORPORATE GOVERNANCE

30 Sep 2023

PPA&K menjalin kerjasama dengan PT Kereta Api Logistik (PT KALOG) dalam Asesmen Good Corporate Governance (GCG). PT Kalog mempercayakan asesmen GCG kepada PPA&K. Kegiatan ini berlangsung selama tiga bulan, mulai dari bulan Juli sampai dengan September 2023. 

Selama periode pekerjaan, PPA&K melaporkan secara berkala mengenai progres pengerjaan yang telah dilakukan dan rutin berkoordinasi dengan Tim Counterpart. Terakhir, pada 25 September 2023 PPA&K dan  PT KALOG melakukan exit meeting untuk pemaparan hasil akhir asesmen. Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi dan Tim Konsultan PPA&K yang dikepalai oleh Bapak Nur Abdilah. Selain itu dari pihak PT Kalog dihadiri secara virtual oleh Bapak TLN Ahmad Malik selaku Direktur Utama dan Tim Counterpart Assesment GCG PT KALOG yang hadir secara tatap muka dengan ketua tim Ibu Dwi Wulandari.

Tim konsultan yang bertugas melaporkan beberapa hal seperti hasil assesmen PT KALOG tahun buku 2022, perbandingan skor asesmen GCG tahun buku 2021 dan 2022, serta Area of Improvement dan Rekomendasi. Hasil asesmen diperoleh dari penilaian tingkat kesesuaian berdasarkan SK-16/S.MBU/2012 Tentang Indikator/Parameter Penilaian dan Evaluasi atas Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance)

Proses pertama yaitu pengambilan data dengan cara review dokumen. Selanjutnya akan dilakukan konfirmasi data kepada pihak PT KALOG untuk memvalidasi data yang diterima serta perubahan apa yang ada selama periode tertentu. Selain itu, Asesor juga akan memberikan quesioner untuk mengukur tingkat pemahaman GCG seluruh Insan PT KALOG. Terakhir, akan disusun laporan akhir asesmen GCG PT KALOG yang diantaranya berisi hasil asesmen dan rekomendasi. 

Hasil asesmen tersebut akan diukur berdasarkan dengan parameter yang sudah ditetapkan antara lain, Komitmen Terhadap Pengelolaan GCG secara berkelanjutan, Pemegang Saham, Dewan Komisaris, Direksi, Pengungkapan Informasi dan Transparansi. 

Hasil Asesmen GCG PT Kalog menunjukkan kualitas Baik. Tim Konsultan PPA&K memberikan rekomendasi perbaikan yang dapat dipertimbangkan oleh PT KALOG agar nilai GCG di tahun berikutnya bisa meningkat. 

Peningkatan ini sangatlah penting karena merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menentukan keberhasilan usaha dan akuntabilitasnya dalam jangka panjang. Hal ini juga berpengaruh terhadap peningkatan kinerja dan penciptaan citra perusahaan yang baik. Adanya kerjasama dengan PT KALOG membuat PPA&K terpacu untuk terus membantu dan mendorong keberhasilan kinerja perusahaan serta bisa menumbuhkan rasa kepercayaan yang lebih kepada PPA&K sebagai lembaga yang terdepan dan terpercaya.

Read more

VOC DAN GCG : PELAJARAN BERHARGA DALAM SEJARAH BISNIS

29 Sep 2023

Sejarah perusahaan dagang Belanda yang mendominasi perdagangan dunia pada abad ke-17, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), seringkali dipandang sebagai salah satu perusahaan paling berpengaruh dalam sejarah dunia. VOC didirikan pada tahun 1602 dan diberikan hak istimewa oleh Pemerintah Belanda untuk berdagang di wilayah Asia Timur dan Indonesia. Namun, pada akhirnya, VOC mengalami kebangkrutan dan runtuh pada tahun 1799. Salah satu faktor kunci dalam runtuhnya VOC adalah praktik korupsi yang merajalela dan kegagalan dalam menerapkan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance - GCG). Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi bagaimana korupsi dan ketidakpatuhan terhadap prinsip GCG berkontribusi pada runtuhnya VOC, dan apa pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut.

Korupsi dalam Struktur Organisasi VOC:

Salah satu faktor utama yang menyebabkan runtuhnya VOC adalah adanya praktik korupsi yang merajalela di seluruh struktur organisasinya. Para petinggi VOC, termasuk para pejabat senior dan gubernur-gubernur jenderal, seringkali memanfaatkan posisi mereka untuk tujuan pribadi. Mereka terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan, suap, dan mengalihkan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi. Hal ini merusak keuangan VOC secara signifikan dan mengurangi kepercayaan pemegang saham dan kreditor terhadap perusahaan.

Ketidakpatuhan terhadap Prinsip GCG:

Salah satu prinsip utama dalam GCG adalah pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan, sehingga mencegah konflik kepentingan. Sayangnya, VOC gagal menerapkan prinsip ini secara efektif. Para pejabat VOC sering kali memiliki kepemilikan saham pribadi dalam perusahaan-perusahaan yang bersaing dengan VOC sendiri, menciptakan konflik kepentingan yang signifikan. Prinsip transparansi juga terabaikan, dengan laporan keuangan yang sering kali tidak akurat atau terlambat.

Dampak Negatif pada Keuangan dan Reputasi:

Akibat dari praktik korupsi dan pelanggaran prinsip GCG adalah menurunnya kinerja keuangan VOC. Keuangan perusahaan yang semula sehat menjadi terancam akibat penyalahgunaan dana dan pencurian aset perusahaan. Kepercayaan publik dan investor yang semula kuat mulai luntur, dan pasar saham VOC mulai mengalami goncangan.

Krisis dan Runtuhnya VOC:

Krisis finansial yang melanda VOC pada akhir abad ke-18 menjadi puncak dari sejumlah masalah yang telah lama terkendala. Pada tahun 1799, VOC secara resmi dinyatakan bangkrut oleh pemerintah Belanda, yang akhirnya mengakhiri eksistensinya sebagai perusahaan dagang yang dominan.

Pelajaran Berharga dari Runtuhnya VOC:

Runtuhnya VOC adalah pelajaran berharga dalam sejarah bisnis yang menyoroti pentingnya penerapan prinsip GCG yang kuat. Praktik korupsi, konflik kepentingan, dan ketidakpatuhan terhadap prinsip GCG dapat membahayakan bahkan perusahaan paling kuat sekalipun. Peristiwa ini menunjukkan bahwa menjaga integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam bisnis adalah kunci untuk kelangsungan dan keberhasilan jangka panjang.

Kesimpulan:

Runtuhnya VOC karena praktik korupsi dan ketidakpatuhan terhadap prinsip GCG adalah peringatan penting bagi semua perusahaan dan organisasi di seluruh dunia. Dalam dunia bisnis yang semakin kompleks, menjaga standar etika yang tinggi dan menerapkan prinsip-prinsip GCG yang kuat adalah kunci untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan menghindari nasib yang sama dengan VOC. Sejarah VOC adalah pengingat yang kuat bahwa integritas dan Tata Kelola Perusahaan yang Baik adalah fondasi yang tak tergantikan untuk keberhasilan bisnis.

 

Ryan Hegar
Fasilitator, Asesor & Konsultan GCG  

Read more


News

PERKEMBANGAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK SEJAK ERA KLASIK HINGGA MODERN

22 Sep 2023

Konsep Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance - GCG) telah menjadi pondasi yang tak tergantikan dalam dunia bisnis dan keuangan kontemporer. GCG memayungi prinsip-prinsip yang merangkum bagaimana perusahaan dan organisasi mengatur diri mereka, termasuk elemen-elemen penting seperti transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan perlindungan hak-hak pemegang saham. Untuk memahami perjalanan panjang dan perkembangan GCG hingga saat ini, mari kita melangkah mundur dalam sejarah, melintasi berbagai era mulai dari zaman klasik hingga era modern yang melibatkan dinamika perusahaan dan tata kelola yang semakin kompleks.

Era Klasik dan Awal Perkembangan GCG:

Pada masa-masa klasik, konsep GCG seperti yang kita kenal saat ini belum sepenuhnya terbentuk. Namun, sejarah mencatat beberapa praktik dan prinsip yang menunjukkan pemikiran awal tentang cara mengelola bisnis dan organisasi dengan etika yang baik. Misalnya, dalam Yunani Kuno, filsuf-filsuf seperti Plato dan Aristoteles telah membahas masalah etika dalam bisnis dan peran pemilik dalam mengelola perusahaan. Prinsip-prinsip ini memberikan fondasi awal untuk pemahaman tentang tanggung jawab pemilik terhadap pemegang saham dan masyarakat secara lebih luas.

Era Klasik (abad ke-4 SM - abad ke-18 M): Pada masa ini, perusahaan-perusahaan masih berbentuk usaha keluarga atau persekutuan dagang yang sederhana. Prinsip-prinsip GCG belum terlihat secara eksplisit, tetapi sudah ada beberapa nilai dasar yang mendasari pengelolaan usaha, seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Contoh perusahaan yang berdiri pada era ini adalah Bank of Venice (1157), Bank of Barcelona (1401), dan Bank of Amsterdam (1609).

Revolusi Industri dan Pemisahan Kepemilikan:

Perkembangan GCG yang lebih nyata terjadi selama Revolusi Industri pada abad ke-18 dan 19. Saat perusahaan mulai tumbuh lebih besar dan kompleks, pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan menjadi semakin penting. Pemegang saham yang terpencar-pencar membutuhkan mekanisme untuk melindungi kepentingan mereka. Inilah saat di mana konsep dewan direksi dan manajemen eksekutif muncul sebagai elemen utama dalam struktur perusahaan.

Era Revolusi Industri (abad ke-18 - abad ke-19): Pada masa ini, terjadi perubahan besar-besaran dalam bidang teknologi, transportasi, dan komunikasi yang memicu pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global. Perusahaan-perusahaan mulai berkembang menjadi lebih besar, kompleks, dan beragam. Muncul pula bentuk perusahaan baru seperti perseroan terbatas (limited liability company) dan konglomerat. Prinsip-prinsip GCG mulai diperlukan untuk mengatur hubungan antara pemilik modal, manajemen, dan pihak lain yang terlibat dalam usaha. Contoh perusahaan yang berdiri pada era ini adalah East India Company (1600), New York Stock Exchange (1792), dan General Electric (1892).

Pengaruh Perang Dunia dan Regulasi:

Setelah Perang Dunia I dan II, terjadi perkembangan signifikan dalam regulasi dan peraturan perusahaan. Masyarakat semakin menyadari bahwa perusahaan memiliki dampak besar pada ekonomi dan masyarakat, dan oleh karena itu, prinsip-prinsip GCG yang lebih ketat menjadi semakin penting. Badan regulasi seperti Komisi Sekuritas dan Bursa (Securities and Exchange Commission - SEC) di Amerika Serikat didirikan untuk mengawasi pasar modal dan memastikan transparansi dan akuntabilitas.

Era Modern (abad ke-20 - sekarang): Pada masa ini, terjadi perkembangan pesat dalam bidang politik, sosial, budaya, dan lingkungan yang mempengaruhi dunia bisnis. Perusahaan-perusahaan menghadapi tantangan dan peluang yang semakin kompleks dan dinamis. Prinsip-prinsip GCG menjadi semakin penting untuk menjaga kepercayaan, reputasi, dan kredibilitas perusahaan di mata pemegang saham, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Muncul pula berbagai standar, kode etik, regulasi, dan praktik terbaik GCG di tingkat nasional maupun internasional. Contoh perusahaan yang berdiri pada era ini adalah Microsoft (1975), Google (1998), dan Alibaba (1999).

Globalisasi dan Standar Internasional:

Dalam era globalisasi, banyak perusahaan beroperasi di berbagai negara dengan beragam peraturan dan budaya bisnis. Hal ini memicu upaya untuk menciptakan standar internasional dalam GCG. Sejumlah organisasi internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) telah berperan dalam mengembangkan pedoman GCG yang diadopsi oleh banyak negara.

Perkembangan Teknologi dan Era Digital:

Perkembangan teknologi informasi dan era digital juga telah mengubah lanskap GCG. Akses informasi yang cepat dan transparan, serta penggunaan teknologi untuk melacak dan melaporkan kinerja perusahaan, telah menjadi bagian integral dari praktik GCG modern. Demikian pula, keamanan data dan privasi telah menjadi perhatian utama dalam era digital ini.

Tantangan Masa Depan dan Kesimpulan:

Saat ini, GCG terus menghadapi tantangan baru, termasuk isu-isu keberlanjutan, etika dalam kecerdasan buatan, dan ketahanan bisnis dalam menghadapi perubahan mendalam. Namun, perkembangan GCG dari era klasik hingga modern mencerminkan kesadaran akan pentingnya etika, transparansi, dan akuntabilitas dalam dunia bisnis. Kesimpulannya, GCG telah menjadi landasan utama dalam mengelola perusahaan dan organisasi di era modern, dan pemahaman yang lebih baik tentang sejarahnya dapat membantu kita mengatasi tantangan-tantangan masa depan dengan lebih bijak dan bertanggung jawab.

Tahapan perkembangan GCG yang telah terjadi sejak era klasik hingga modern menunjukkan betapa pentingnya GCG dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan perusahaan di tengah perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis. Dalam era modern, GCG semakin menjadi fokus utama perusahaan, yang harus diprioritaskan untuk mencapai kinerja, nilai, dan akuntabilitas yang baik. Perusahaan harus memahami prinsip-prinsip GCG dan mengimplementasikannya dalam setiap aspek bisnisnya untuk mencapai tujuan jangka panjang yang berkelanjutan.

Ryan Hegar
Fasilitator, Asesor & Konsultan GCG 

 

 

Read more

PELAKSANAAN DIKLAT TATAP MUKA DI BULAN SEPTEMBER 2023

16 Sep 2023

Jika sebelumnya Pusat pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) sudah melaksanakan diklat secara virtual, kali ini saatnya diklat tatap muka kembali dilaksanakan. Adapun diklat yang terlaksana berasal dari program diklat audit internal yaitu, Diklat Dasar-Dasar Audit, Diklat Audit Operasional, dan Diklat Komunikasi Psikologi Audit. Diklat ini diselenggarakan di Green Forest Hotel, Bogor, Jawa Barat dan dibuka serentak pada 11 September 2023. 

Seperti biasa, acara pembukaan diklat dilakukan pada malam sebelum hari pembelajaran dimulai. Untuk memberikan gambaran materi yang akan dipelajari, maka PPA&K memberikan modul kepada peserta dan mewajibkan para peserta membuat rangkuman untuk setiap modul yang ada sebelum materi dibahas. 

Selama berada di dalam kelas, para peserta juga dapat mendiskusikan mengenai materi yang sudah mereka rangkum. Tentunya, diskusi dilakukan peserta dengan para praktisi dan akademisi profesional dan berpengalaman yang bertugas menjadi pengajar diklat. Semakin besar rasa keingintahuan peserta terhadap materi, maka semakin banyak bahan diskusi dan semakin interaktif pula kelas yang berlangsung. Selain itu, para pengajar juga akan dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan yang terjadi pada perusahaan tempat para peserta bekerja. Selama mengikuti diklat, peserta tidak hanya duduk didalam kelas dan belajar. PPA&K juga mengajak para peserta untuk malakukan aktifitas lain seperti senam pagi dan outing. Waktu ini dimanfaatkan bagi para peserta untuk bersantai sejenak ditengah waktu diklat yang cukup panjang. Bagi para peserta Diklat Dasar-Dasar Audit dan Diklat Audit Operasional memulai waktu diklat sejak 11 september sampai dengan 21 September 2023. Sedangkan bagi peserta Diklat Komunikasi Psikologi Audit akan menyelesaikan Diklat pada 20 September 2023. Khusus bagi peserta  Diklat Audit Operasional akan melakukan asesmen pada 21 September 2023.

Read more

ASAL USUL TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK: DARI AWAL HINGGA SEKARANG

15 Sep 2023

Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance - GCG) adalah salah satu konsep paling penting dalam dunia bisnis saat ini. GCG menentukan bagaimana perusahaan dan organisasi diatur dan dijalankan, dengan penekanan pada prinsip-prinsip seperti transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan kepatuhan hukum. Namun, sebelum GCG menjadi pusat perhatian global, bagaimana asal usulnya dan bagaimana konsep ini berkembang menjadi hal yang sangat penting dalam dunia bisnis di seluruh dunia? Dalam artikel ini, kita akan melakukan perjalanan melalui sejarah GCG, dari masa-masa awal hingga saat ini.

Masa-masa Awal GCG:

Tata kelola perusahaan yang baik bukanlah konsep yang baru. Sejarahnya dapat ditelusuri sejak zaman kolonialisme, ketika perusahaan-perusahaan dagang Eropa seperti VOC dan British East India Company mendominasi perdagangan dunia. Perusahaan-perusahaan ini memiliki struktur organisasi yang kompleks, dengan pemegang saham, direksi, manajer, dan pegawai yang terlibat dalam pengambilan keputusan bisnis.

Namun, perusahaan-perusahaan ini juga sering menghadapi masalah-masalah seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang, konflik kepentingan, dan kurangnya pengawasan. Hal ini menyebabkan kerugian bagi pemegang saham dan masyarakat luas. Misalnya, VOC bangkrut pada tahun 1799 karena manajemen yang buruk dan hutang yang menumpuk. Sementara itu, British East India Company menjadi penyebab terjadinya Pemberontakan India pada tahun 1857 karena praktik-praktik eksploitatif dan tidak adilnya.

Untuk mengatasi masalah-masalah ini, muncul berbagai upaya untuk mereformasi tata kelola perusahaan. Salah satu upaya awal adalah Undang-Undang Perusahaan Inggris tahun 1844, yang mengharuskan perusahaan untuk menyampaikan laporan keuangan mereka secara publik. Upaya lain adalah Undang-Undang Sarbanes-Oxley tahun 2002 di Amerika Serikat, yang dibuat sebagai respons terhadap skandal-skandal akuntansi seperti Enron dan WorldCom.

Konsep GCG pertama kali muncul di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, tetapi perhatian serius terhadap GCG baru dimulai beberapa dekade yang lalu. Pada tahun 1932, Amerika Serikat mengalami Depresi Besar, yang sebagian besar disebabkan oleh kejatuhan pasar saham dan praktik bisnis yang kurang etis. Sebagai respons terhadap krisis ini, pemerintah AS mengesahkan Securities Act of 1933 dan Securities Exchange Act of 1934, yang mendirikan Komisi Sekuritas dan Bursa (Securities and Exchange Commission - SEC) untuk mengatur pasar modal dan mendorong praktik bisnis yang lebih transparan.

 

Pengaruh di Seluruh Dunia:

Ketika praktik GCG mulai diterapkan dengan lebih serius di Amerika Serikat, dampaknya segera merambat ke seluruh dunia. Negara-negara lain, terutama negara-negara dengan ekonomi yang berkembang pesat, mulai memahami pentingnya menerapkan prinsip-prinsip GCG untuk meminimalkan risiko dan meningkatkan kepercayaan investor.

Peran Organisasi Internasional:

Selama beberapa dekade terakhir, berbagai organisasi internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memainkan peran penting dalam mempromosikan GCG di seluruh dunia. Mereka memberikan panduan dan pedoman kepada negara-negara anggota tentang bagaimana menerapkan prinsip-prinsip GCG dalam sektor bisnis mereka.

Perkembangan Peraturan dan Pedoman:

Pengembangan peraturan dan pedoman GCG telah menjadi prioritas utama di banyak negara. Sebagai contoh, Komite Tingkat Tinggi (High-Level Committee - HLC) di India diberikan mandat untuk menyusun panduan GCG untuk perusahaan-perusahaan India pada tahun 2003. Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan peraturan yang mengatur GCG dalam konteks perusahaan terbuka.

Upaya-upaya ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab perusahaan kepada pemegang saham dan masyarakat. Selain itu, juga muncul berbagai standar dan kode etik yang mengatur tata kelola perusahaan, seperti OECD Principles of Corporate Governance, UN Global Compact, dan ISO 26000.

Penerapan GCG dalam Praktik Bisnis:

Salah satu tonggak penting dalam perkembangan GCG adalah penerapannya dalam praktik bisnis. Banyak perusahaan di seluruh dunia sekarang memiliki kode etik dan pedoman internal yang mengatur perilaku bisnis mereka. Dewan direksi dan manajemen eksekutif diberikan tanggung jawab untuk memastikan perusahaan mematuhi prinsip-prinsip GCG.

Tantangan dan Masa Depan GCG:

Meskipun ada kemajuan yang signifikan dalam menerapkan GCG di seluruh dunia, tantangan masih ada. Terutama, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia harus menghadapi tantangan seperti perkembangan teknologi yang cepat, keberlanjutan, dan pengawasan regulasi yang lebih ketat. Masa depan GCG akan mencakup penyesuaian dengan perubahan ini dan upaya untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip GCG tetap relevan dalam lingkungan bisnis yang terus berubah.

 

Kesimpulan:

Dari awal yang sederhana hingga menjadi norma bisnis global yang sangat penting, sejarah GCG adalah kisah tentang bagaimana praktik bisnis telah berubah seiring waktu. Dalam dunia yang semakin kompleks dan terhubung, penting untuk terus memperkuat prinsip-prinsip GCG agar bisnis dapat beroperasi dengan etika, transparansi, dan keberlanjutan yang kuat. Sebagai pemangku kepentingan dalam dunia bisnis, kita semua memiliki peran untuk memastikan bahwa GCG tetap menjadi bagian integral dari setiap organisasi.

 

Ryan Hegar
Fasilitator, Asesor & Konsultan GCG 

Read more

PPA&K KONSISTEN UNTUK MENJADI LEMBAGA KEPERCAYAAN BAGI PERKEMBANGAN SDM PERUSAHAAN

06 Sep 2023

Sudah lebih dari 15 tahun PPA&K bertumbuh menjadi lembaga pendidikan dan pelatihan bidang audit internal, audit forensik, manajemen risiko, good corporate governance, ekonomi, keuangan, dan perpajakan. Pada bulan September 2023 ini, terlaksana empat diklat secara virtual, yaitu, Diklat Audit Operasinal, Qualified Risk Management Professional (QRMP), Qualified Risk Governace Professional (QRGP), dan Certified Mitigation in Procurement (CMiP). 

Atas konsistensi PPA&K dalam menyelenggarakan program diklat, sampai saat ini kepercayaan klien terus meningkat. Berbagai perusahaan baik BUMN, BUMN, Instansi Pendidikan, Rumah sakit, hingga Badan Swasta yang sejak lama mengikuti pelatihan di PPA&K kerap kembali mengirimkan peserta pada diklat yang berbeda. 

"Terima kasih karena sejak dulu memilih kami, dan terima kasih atas keppercayaan Bapak dan Ibu semua karena kami bisa berkontribusi dalam perkembangan SDM di perusahaan Bapak dan Ibu sekalian," kata Bapak Supriyadi, Direktur Utama PPA&K, pada pembukaan diklat virtual, 4 September 2023. 

Pada diklat virtual September 2023 ada beberapa perusahaan mengirimkan lebih dari satu peserta, diantaranya IAIN Metro, PT Pegadaian Galeri 24, PT Sarinah, Politeknik Pelayaran Banten, PT Pegadaian, dan PT Perusahaan Pengelolaan Aset. Kepercayaan yang telah diberikan oleh klien tersebut dipertahankan PPA&K dengan memberikan pelayanan terbaik, seperti menghadirkan pengajar yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya. 

Pelaksanaan diklat sendiri akan selesai pada waktu yang berbeda. Diklat Audit Operasional yang  merupakan jenjang kedua dalam program diklat Audit Internal akan selesai pada 13 Septemeber 2023. Pada diklat tersebut peserta akan mempelajari lebih dalam mengenai pokok kegiatan badan usaha sampai pelaksanaan audit pada setiap kegiatan. 

Kemudian Diklat dan sertifikasi QRMP yang akan selesai pada 11 Septemeber 2023. Diklat ini bisa diikuti oleh para manager di seluruh unit kerja yang berperan sebagai pemilik risiko tingkat operasional. Selanjutnya bagi para direksi yang berperan sebagai pemilik risiko tingkat tingkat strategis, serta bagi dewan komisaris/dewan pengawas yang menantau efektivitas proses manajemen risiko, mengikuti diklat dan sertifikasi QRGP yang akan selesai pada 7 September 2023. 

Terakhir ada diklat CMiP yang akan selesai pada 8 Februari 2023. Diklat ini bertujuan untuk memberikan nilai tambah atas kompetensi mitigasi SDM pada berbagai instansi dalam menganalisa risiko pengadaan barang/jasa atau organisasi dengan menggunakan alat simulasi yang disebut korupmeter dan pembahasan mengenai modus korupsi yang populer.

Berbeda dengan Diklat Audit Internal yang akan diuji oleh LSPAI, Diklat QRMP, QRGP, dan CMiP akan diuji oleh LSP-MKS, yang khusus menguji kompetensi manajemen risiko. Setelah selesai mengikuti rangkaian dan dinyatakan lulus, berarti peserta telah dinyatakan kompeten pada bidangnya masing-masing sehingga dapat mempergunakan ilmu yang didapat untuk diterapkan pada pekerjaannya masing-masing.

Read more


News

TIGA SERTIFIKASI DILAKSANAKAN SECARA VIRTUAL DI BULAN AGUSTUS 2023

09 Aug 2023

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) berawal dari lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) yang  berfokus pada GRC (Governance, Risk, and Control). Atas adanya transformasi, kini PPA&K menyelenggarakan diklat mulai dari Audit Internal, Risk Management, Good Corporate Governance (GCG), Akuntansi, Keuangan, dan Perpajakan yang di selenggarakan secara rutin setiap bulan.

Memasuki bulan Agustus 2023 PPA&K kembali membuka diklat secara virtual. Kali ini ada tiga sertifikasi yang dilaksanakan. Diklat yang berjalan pada Bulan Agustus diantaranya Audit Internal yang meliputi Diklat Dasar-Dasar Audit, Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit, Diklat Pengelolaan Tugas-Tugas Audit. Kemudian Diklat sertifikasi Certified Governance Professional (CGP) dan Qualified Risk Management Analyst (QRMA). Pembukaan diklat dan sertifikasi dihadiri oleh para peserta yang berasal dari intansi pendidikan dan BUMN dan dilaksanakan secara online melalui Zoom pada 7 Agustus 2023. 

Diantara diklat yang berjalan, ada tiga diklat yang merupakan diklat berjenjang yakni Audit Internal terdiri atas Diklat Dasar-Dasar Audit, pada diklat ini peserta akan mempelajari pengertian dan pemahaman proses dan teknik audit. Kemudian ada Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit yang akan membekali peserta dengan pengetauan mengenai ilmu psikologi dan komunikasi yang dibutuhhkan dalam mendukung kegiatan seorang auditor. Sedangkan pada Diklat Pengelolaan Tugas-Tugas Audit, peserta akan diberikan pemahaman terkait dengan kepemimpinan dalam audit, norma audit, dan kegiatan pengelolaan dalam proses audit, serta pengetahuan mengenai pengelolaan SDM dan pengendalian mutu. 

Adapun GCG atau Tata Kelola Perusahaan seperti Diklat CGP yang bertujuan mendapatkkan sertifikasi kompetensi Pelaksana Bidang Tata Kelola korporasi atau tata kelola publik, serta manajemen risiko. Selain itu, Diklat Manajen Risiko seperti Diklat QRMA yang diperuntukan bagi staf di seluruh unit kerja, staf penyelia, dan para asisten manajer yang berfungsi sebagai Risk Officer tingkat madya yang berperan sebagai risk analyst bagi organisasinya. 

Bedasarkan database PPA&K, sebagian peserta sebelumnya sudah pernah mengikuti diklat di PPA&K. Hal ini karena adanya faktor kepercayaan sehingga para peserta kembali melaksanakan diklat di PPA&K untuk mengembangkan kapasitas dan kualitas dirinya. 

"Mungkin ini adalah pertemuan kita yang ketiga dan yang kelima bagi peserta yang mengikuti Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit dan Diklat Pengelolaan Tugas-Tugas Audit," ujar Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi, dalam sambutannya. 

Beliau juga mengingatkan bahwa pelaksanaan diklat akan selesai di waktu yang berbeda. Diklat CGP dan Diklat QRMA akan selesai terlebi dulu pada 11 Agustus 2023. Setelah itu ada Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit akan selesai pada 15 Agustus 2023, sedangkan Diklat Dasar-Dasar Audit dan Pengelolaan Tugas-Tugas Audit akan selesai pada 16 Agustus 2023. Khusus bagi Diklat CGP, QRMA, dan Pengelolaan Tugas-Tugas Audit akan dilakukan Uji Kompetensi pada hari terakhir diklat. 

"Untuk Pengelolaan Tugas Tugas Audit akan melaksanakan uji kompetensi oleh LSPAI, sedangkan peserta diklat CGP dan QRMA akan dilakukan uji kompetensi oleh LSP-MKS," tutupnya. 

Tersedianya banyak program diklat yang diselenggarakan PPA&K memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk meningkatkan sistem kerja dan kualitas SDM dalam rangka mendukung kinerja perusahaan. Selain itu PPA&K juga akan terus melakukan inovasi untuk bisa menjadi lembaga diklat yang semakin terdepan dan terpercaya, baik sekarang maupun di masa depan.

Read more

EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS PERUSAHAAN DENGAN AUDIT OPERASIONAL

04 Jul 2023

Peningkatan efisiensi dan efektivitas perusahaan menjadi sangat penting ditengah persaingan bisnis yang semakin ketat. Perusahaan atau organisasi perlu melakukan audit operasional atau mengevaluasi efisiensi dan efektivitas operasional, karena hal tersebut merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai target. 

PPA&K sebagai salah satu lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) yang sudah berpengalaman selama lebih dari 15 tahun, mendukung sumber daya yang ada di setiap perusahaan untuk bisa melakukan audit operasional dengan adanya pelaksanaan diklat yang rutin diadakan. Pada diklat virtual periode Juli 2023 PPA&K membuka Diklat Audit Operasional yang diikuti oleh peserta berbagai perusahaan. 

Pada pembukaan yang dilakukan pada 3 Juli 2023 ini, Bapak Supriyadi selaku Direktur Utama PPA&K menyambut baik para peserta yang ikut serta pada diklat kali ini. 

"Ini merupakan jenjang kedua pada diklat Audit Internal sebelum para peserta meraih gelar PIA," ujar Bapak Supriyadi. 

Seperti yang diketahui, sebelum para peserta mendapat gelar Professional Internal Auditor (PIA) dari Lembaga Sertifikasi Profesi Audit Internal (LSPAI), para peserta wajib mengikuti lima jenjang. Jenjang pertama adalah Diklat Dasar-Dasar Audit, kemudian Audit Operasional + Asesmen, Komunikasi Psikologi Audit, Audit Kecurangan + Asesmen, dan terakhir Pengelolaan Tugas-Tugas Audit + Asesmen. 

Lebih lanjut, Bapak Supriyadi menjelaskan pada tingkat kedua Program Diklat Audit Internal ini peserta akan mendapatkkan pembekalan mulai dari gambaran umum Audit Operasional sampai kegiatan pengelolaan yang ada di perusahaan. 

"Kalau Diklat Audit Operasional, kita akan membahas lebih dalam mengenai berbagai aspek kegiatan, diantaranya adalah keuangan, operasional, SDM dan sebagainya," jelasnya.

Setelah Diklat Audit Operasional selesai dilaksanakan, peserta akan melakukan uji kompetensi atau asesmen yang akan dilakukan oleh LSPAI yang sudah berbasis Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dijadwalkan diklat ini dilakukan mulai 3 sampai 12 Juli 2023, dengan uji kompetensi yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2023. Selain pada diklat virtual, rutinitas dalam menyelenggarakan diklat terus dilakukan dengan dibukanya diklat tatap muka pada 10 Juli 2023.

Read more

KEMBALI BERSINERGI, PT PEGADAIAN (PERSERO) MELAKSANAKAN _IN HOUSE TRAINING CERTIFIED FORENSIC AUDITOR_ (CFRRA) DI PPA&K

20 May 2023

Pelayanan yang prima menjadi sebuah kunci dalam kesuksesan pada sektor jasa. Kepercayaan kepada sebuah lembaga tentunya dipengaruhi oleh layanan yang diberikan. PPA&K selalu mengusahakan pelayanan terbaik bagi seluruh peserta yang mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat). Pelayanan yang maksimal akan meninggalkan kesan tersendiri yang membuat peserta akan kembali untuk mengikuti program diklat yang berbeda di tempat yang sama. 

Seperti halnya PT Pegadaian (Persero) yang kembali melaksanakan In House Training (IHT) bagi para pegawainya. Kali ini IHT yang dilaksanakan adalah Certified Forensic Auditor (CFrA), diselenggarakan pada tanggal 19 sampai 26 Mei 2023 secara online. Kemudian dilanjutkan dengan uji kompetensi bersama Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Forensik (LSP-AF) pada tanggal 29 sampai 31 Mei 2023 secara tatap muka.

Selain dihadiri para peserta, pembukaan IHT yang dilaksanakan secara online ini juga dihadiri oleh pejabat PT Pegadaian (Persero) yang terdiri dari Bapak Hermawan Aries Andi selaku Kepala SPI dan Bapak Eko Cahyanto selaku Lead Departemen Sertifikasi dan LSP. Tidak Ketinggalan dari PPA&K juga dihadiri oleh Direktur Utama, Bapak Supriyadi dan Direktur Operasional, Bapak Budi Hanta. 

Pembukaan diawali dengan laporan kegiatan oleh Bapak Eko Cahyanto, yang menyampaikan terlebih dahulu mengenai tujuan diadakannya IHT CFrA ini. Atas dasar belum meratanya jumlah auditor yang bersertifikat CFrA disetiap wilayah maka PT Pegadaian (Persero) ingin para pegawainya mendapatkan pembekalan ini. 

"Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kualifikasi para pegawai PT Pegadaian (Persero) di bidang auditor khususnya auditor forensik," ujar Bapak Eko Cahyanto. 

Selanjutnya Bapak Supriyadi memberikan sambutan kepada 30 Pegawai PT Pegadaian (Persero) yang sangat antusias dalam mengikuti IHT CFrA. Beliau menyampaikan bahwa kerjasama dengan PT Pegadaian (Persero) sudah terjalin cukup lama, bahkan peserta yang pernah ikut serta pada diklat di PPA&K dari PT Pegadaian (Persero) sudah lebih dari seribu peserta. 

"Ada sekitar 1.648 peserta yang terdaftar pada database kami dari PT Pegadaian (Persero)," ungkapnya. 

Beliau juga menyampaikan terimakasih pada PT Pegadaian (Persero) yang masih menaruh kepercayaan kepada PPA&K. Berdasarkan data, PT Pegadaian telah melakukan 24 jenis diklat bersama PPA&K.

"PT Pegadaian (Persero) termasuk perusahaan yang selalu cepat merespon setiap perubahan lingkungan bisnis yang terjadi, dengan langsung membekali para pegawainya supaya memiliki kompetensi sesuai bidangnya," ujar Bapak Supriyadi. 

Bapak Supriyadi juga memberikan semangat kepada para peserta serta mengimbau agar peserta enjoy dan meninkmati selama menjalani pendidikan dan pelatihan. Pada dasarnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai pembelajaran karena pengajar PPA&K berasal dari Praktisi dan Akademisi berpengalaman.

"Ikutilah kegiatan ini dengan penuh suka cita," tutupnya. 

Terakhir ada sambutan dari Kepala SPI PT Pegadaian (Persero), Bapak Hermawan Aries Andi, yang menyatakan bahwa CFrA adalah Sertifikasi penting yang harus dimiliki oleh auditor di bidang forensik, karena ancaman fraud pasti selalu ada, terlebih PT Pegadaian (Persero) merupakan perusahaan keuangan dengan transaksi skala besar. 

"Dari transaksi yang kecil sampai yang besar ada di PT Pegadaian (Persero), sehingga sangat dibutuhkan para auditor yang mampu mengidentifikasi kejadian fraud agar bisa dilakukan pencegahan," ujarnya sekaligus membuka In House Training CFrA PT Pegadaian (Persero).  

Uji kompetensi akan dilakukan secara tatap muka di Novotel Cikini, Jakarta, oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Forensik (LSP-AF). Uji kompetensi ini tentunya dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta sebagai seorang auditor forensik. 

Harapan kedepan agar kerjasama antara PPA&K dan PT Pegadaian (Persero) ini terjalin semakin baik dan bisa terus berlanjut untuk terus mengembangkan dan memajukan SDM yang unggul pada PT Pegadaian (Persero).

Read more

LIMA DIKLAT VIRTUAL PERIODE MEI 2023 DIBUKA!

08 May 2023

Setelah sebelumnya kelas brevet pajak AB tatap muka dibuka, sekarang Pusat pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) membuka Diklat Virtual Periode Mei 2023. Pembukaan diklat dilakukan secara virtual melalui Aplikasi Zoom pada Senin, 8 Mei 2023 pukul 08.00 WIB. 

Pada periode ini, diklat yang dilaksanakan terdiri dari Dasar-Dasar Audit yang akan membekali peserta terkait dengan aktifitas audit seperti pelaksanaan audit hingga pembuatan laporan hasil audit. Diklat Audit Operasional yang akan memberikan pemahaman kepada para peserta mengenai kegiatan pengendalian serta pelaksanaan audit secara Operasional. 

Kemudian Diklat Audit Kecurangan yang akan memberikan peserta pemahaman komprehensif mengenai kecurangan yang kerap terjadi dalam organisasi serta bagaimana cara meminimalisir kecurangan yang akan terjadi. Peserta Diklat Audit Operasional dan Audit Kecurangan akan melakukan uji kompetensi pada hari terakhir diklat.

Selain itu ada pula Diklat Audit atas Laporan Keuangan, yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi bagi para auditor internal dalam melakukan audit terhadap laporan keuangan sekaligus mempersiapkan menjadi tim audit yang profesional dan kompeten. 

Terahir adalah Diklat Qualified Risk Management Professional (QRMP), salah satu bagian dari Diklat Manajemen Risiko yang diperuntukan bagi pimpinan unit kerja atau para manajer di seluruh unit kerja di tingkat operasional yang bertugas memastikan proses manajemen risiko dijalankan dengan tepat oleh unit kerjanya. QRMP juga merupakan diklat yang akan melakukan uji kompetensi pada hari terakhir Diklat. Peserta yang mengikuti Diklat berasal dari BUMN, Perusahaan Swasta, Instansi Pendidikan, dan Rumah Sakit. 

Pembukaan diklat kali ini disambut hangat oleh Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi. Ucapan selamat bergabung beliau sampaikan kepada para peserta yang baru pertama kali mengikuti diklat di PPA&K. Beliau juga memperkenalkan PPA&K sebagai lembaga yang sudah lama bergerak pada bidang pendidikan dan pelatihan. 

"Sudah lebih dari 23.000 peserta diklat yang telah mengikuti diklat di tempat kami. Berdasarkan database, para peserta diklat di PPA&K berasal dari 1.523 instansi di Indonesia," ujar Bapak Supriyadi. 

Selanjutnya Bapak supriyadi menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan selama pembelajaran adalah praktikal, jadi peserta dapat lebih memahami bagaimana pelaksanaan di lapangan. Harapan setelah dilaksanakannya diklat ini adalah agar peserta memperoleh ilmu untuk mempermudah mereka dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dalam pekerjaan.

"Selamat mengikuti diklat, semoga Bapak dan Ibu bisa mengikutinya dengan penuh suka cita, dan jangan sungkan untuk aktif dalam berdiskusi karena pengajar kami sudah belasan bahkan dua puluh tahun berpengalaman," tutupnya. 

Diklat Virtual Periode Mei 2023 diagendakan akan selesai pada waktu yang berbeda. Diklat Dasar-Dasar Audit dan Audit Operasional akan selesai pada 17 Mei 2023. Audit kecurangan akan selesai pada 12 Mei 2023. Audit atas Laporan Keuangan akan selesai pada 10 Mei 2023, dan terakhir QRMP akan selesai pada 15 Mei 2023

Read more


News

PT PEGADAIAN (PERSERO) KEMBALI MELAKSANAKAN IN HOUSE TRAINING, KALI INI DIKLAT DAN SERTIFIKASI QUALIFIED RISK MANAGEMENT PROFESSIONAL (QRMP)

15 Mar 2023

Risiko kegiatan usaha semakin kompleks seiring dengan perkembangan dunia bisnis yang semakin dinamis. Sangat dibutuhkan strategi dari masing-masing pelaku usaha untuk melakukan manajemen risiko yang memungkinkan akan terjadi. Salah satu unsur penting yang menentukan keberhasilan atas pengelolaan risiko perusahaan adalah SDM yang berkompeten.

Peran dari tiap unit dengan mempertimbangkan kompetensinya sangat dibutuhkan untuk pembagian tugas dan tanggungjawab yang jelas. Seperti halnya PT Pegadaian yang melakukan pelatihan bagi para Pimpinan unit kerja/manajer atau setingkat dengan level Qualified Risk Management Professional (QRMP). 

PPA&K sebagai lembaga pendidikan dan Pelatihan berkesempatan untuk menyelenggarakan In House Training (IHT) bagi PT Pegadaian. Adanya kemajuan teknologi memberikan kemudahan termasuk pada bidang pendidikan dan pelatihan, contohnya seperti fasilitas e-learning yang dapat digunakan untuk menghubungkan para peserta dari berbagai wilayah. IHT QRMP dilaksanakan secara virtual mulai dari tanggal 13 sampai 17 Maret 2022 pada pukul 08.00 - 17.00 WIB. 

Peserta akan diberikan akun Learning Management System (LMS)sehingga dapat mengakses materi, latihan soal, bahkan ujian melalui sistem tersebut. Pengajar yang berasal dari praktisi dan akademisi berpengalaman pun bisa diajak berdiskusi oleh peserta melalui video converence yang dilakukan via zoom. 

Sebelum memulai pembelajaran peserta akan diberikan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta. setelah itu dilanjutkan dengan pembelajaran yang membahas 9 unit kompetensi Manajemen Risiko dalam penerapan ISO 31000 Tahun 2018. Peserta juga akan melakukan post-test di akhir pembelajaran untuk mengetahui peningkatan pemahaman setelah diberikan pembekalan materi. Di hari terakhir, peserta yang memenuhi syarat akan melakukan uji kompetensi untuk bisa mendapatkan gelar QRMP.

Read more

PESERTA WORKSHOP MANAJEMEN RISIKO DIPERKENALKAN DENGAN SIMKO

11 Mar 2023

Peserta Workshop Penguatan dan Akselerasi Penerapan Manajemen Risiko Berbantuan Sistem Informasi Manajemen Risiko (SIMKO) menerima materi dan praktik langsung dari Sigit Widyanto, narasumber sekaligus pengembang aplikasi SIMKO. Workshop terkait dengan Manajemen Risiko dilaksanakan di Hotel Grand Tjokro Premiere, Bandung pada 8 Maret 2023. 

 

Para peserta sangat antusias dalam praktik penggunaan aplikasi SIMKO. Dibantu oleh tiga anggota tim, Bapak Sigit membantu para peserta mulai dari masuk ke aplikasi hingga tata cara menggunakan aplikasi SIMKO. 

 

Para peserta sudah difasilitasi dengan empat akun yang dapat dipergunakan sebagai hak akses selama satu bulan secara gratis, yang terdiri atas risk assessor, officer, owner, dan admin. Sebelum praktik penggunaan aplikasi, peserta diperkenalkan terlebih dahulu dengan fitur aplikasi SIMKO. Pada workshop tersebut penjelasan mengenai fitur aplikasi dijelaskan secara rinci disertai dengan tampilan layar sehingga para peserta dapat lebih mudah memahaminya. 

 

Selama sesi praktik, narasumber sangat aktif membersamai para peserta. Jika ada peserta yang mengalami kesulitan untuk menggunakan aplikasi, akan langsung dihampiri dan diberikan arahan penggunaan sesuai dengan langkah yang sudah dijelaskan. 

 

SIMKO dikembangkan sebagai inovasi dan terobosan baru yang membantu manajemen dalam mengelola risiko secara efektif dan efisien. Perkembangan perusahaan saat ini sudah pasti diiringi dengan perkembangan teknologi informasi yang dipergunakan sebagai alat bantu perkembangan tata kelola perusahaan. Baik itu di lingkungan Pemerintahan Pudat dan Daerah, Kementerian, BUMN, maupun BUMD. 

 

Selain itu SIMKO dapat menjadi alat untuk membantu perusahaan dalam menerapkan Manajemen Risiko berdasarkan Peraturan Menteri No.5 Tahun 2022. Peraturan tersebut mengamanahkan bahwa pelaksanaan identifikasi, pengukuran, pengendalian , pelaporan, dan monitoring risiko harus didasarkan pada sistem informasi manajemen risiko yang tepat waktu dan laporan yang akurat dan informatif.

Read more

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RISIKO (SIMKO) DAN PERATURAN MENTERI BUMN NOMOR 5 TAHUN 2022

01 Mar 2023

Pengelolaan risiko merupakan praktek bisnis yang saat ini telah diterima dan dilaksanakan sebagai bentuk dari kehati-hatian dalam seluruh kegiatan. Perbankan, pemerintahan, industri, perkebunan, pertambangan, kehutanan, dan berbagai seluruh sektor lainnya dipastikan saat ini telah menerapkan manajemen risiko. Dengan penerapan manajemen risiko yang melembaga, konsisten, dan berkualitas telah terbukti meningkatkan kesiapsediaan organisasi menghadapi ketidakpastian yang pada akhirnya meningkatkan probabilitas pencapaian tujuan.

Pengelolaan risiko yang berkualitas adalah pengelolaan risiko yang meliputi seluruh aspek, kegiatan, serta fungsi dalam organisasi atau perusahaan. Pengelolaan risiko memerlukan penanganan yang komprehensif karena pencapaian tujuan juga merupakan upaya bersama yang melibatkan seluruh sumber daya yang ada di organisasi. Pengelolaan risiko yang komprehensif akan membawa konsekuensi pada luas, ragam, dan intensitas serta kuantitas informasi yang sangat signfikan.

Penanganan risiko dengan kuantitas yang signifikan ini sangat rentan dan hampir tidak mungkin untuk ditangani secara manual. Penanganan data dalam jumlah besar dan ragam kegiatan yang sangat kompleks membutuhkan sistem informasi yang khusus menangani risiko.

Sistem informasi yang menangani risiko sangat unik dan spesifik karena berkaitan dengan proses bisnis dari manajemen risiko tersebut yang juga spesifik. Pengelolaan risiko akan memerlukan proses identifikasi kejadian yang terus berkembang serta bervariasi, penanganan kemungkinan kejadian dan dampak, penetapan nilai risiko, identifikasi pengendalian tersedia dan pengendalian yang direncanakan dalam bentuk mitigasi juga merupakan informasi tersendiri. Sistem ini juga harus terbuka untuk dikaitkan dan interface dengan sistem lain yang terkait dengan risiko seperti sistem pengelolaan audit internal, sistem pendukung pengambilan keputusan, dan sistem lain yang terkait. Untuk itu diperlukan sistem informasi yang khusus mengelola risiko atau SIMKO.

Kementerian BUMN dalam triwulan 4 2022 menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 5 yang mengatur mengenai Manajemen Risiko. Dalam Pasal 24 ditetapkan untuk dapat mengelola risiko secara handal dalam tiap tahapan prosesnya diperlukan dukungan sistem informasi. Dukungan sistem informasi ini akan memberikan keyakinan yang memadai kepada para pemangku kepentingan bahwa pengelolaan risiko telah berjalan sebagaimana mestinya. Kami telah berhasil mengembangkan sistem informasi yang khusus mengelola risiko (SIMKO). Sistem ini sangat sesuai dengan ekspektasi pengelolaan risiko yang handal dan komprehensif.

Read more

LIKELIHOOD DAN IMPACT : DUA PILAR UTAMA PENGELOLAAN RISIKO

22 Feb 2023

Saat ini telah banyak literasi yang menguraikan membahas mengenai manajemen risiko. Pembahasan ini mulai dari teori dasar dan teori klasik mengenai risiko, penerapan manajemen risiko secara umum, sampai dengan pembahasan manajemen risiko yang spesifik dilaksanakan dalam industri yang spesifik. Semua literasi ini memberikan pedoman serta petunjuk mengenai manajemen risiko dari berbagai sudut. Dengan mengkaji literasi ini akan meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan juga memperkaya knowledge mengenai praktek bisnis yang merupakan representasi dari penerapan kehati-hatian.

Dalam teori-teori mengenai pengelolaan risiko, terdapat satu persamaan definisi yaitu risiko merupakan suatu potensi atau kemungkinan terjadinya sesuatu. Potensi kejadian ini umumnya adalah kejadian yang dapat berpotensi menghambat atau risiko yang bersifat negatif. Definisi ini dirumuskan oleh ISO 31000 dan COSO ERM. Selain itu terdapat kemungkinan juga adanya potensi yang justru mendorong, mempercepat, dan meningkatkan probabilitas pencapaian tujuan. Potensi ini oleh ISO 31000 dirumuskan sebagai risiko positif. Karena risiko bersifat ketidakpastian maka terdapat dua pilar yang memiliki korelasi dan menjadi menjadi bagian dari proses identifikasi yaitu kemungkinan keterjadian (likelihood) dan analisis dampak (kerugian) yang ditimbukan (impact).

Kemungkinan Keterjadian – Likelihood

Sebagai bentuk praktek atas antisipasi adanya peristiwa atau kondisi yang mungkin terjadi di masa depan, maka salah satu pilar yang memegang peranan adalah kemungkinan keterjadian atau likelihood. Memprediksikan potensi suatu kejadian di masa depan akan sangat bergantung pada penentuan besaran kemungkinan keterjadiannya peristiwa yang sudah diidentifikasi. Dalam penetapan keterjadian ini berlaku ketentuan pokok dalam manajemen risiko yaitu:

  1. Tidak ada peristiwa atau risiko yang kemungkinan kejadiannya sama sekali tidak akan terjadi, atau
  2. Tidak ada risiko yang diprediksi pasti terjadi
  3. Dalam notasi dapat dituliskan 0% < likelihood < 100%.

Peristiwa yang sudah diidentifikasi ini merupakan risiko yang diduga dapat terjadi di masa depan. Masa depan disini mengandung pengertian masa depan dalam jangkauan yang relevan yang terkait dengan pencapaian tujuan, misalkan dalam kaitan pencapaian tujuan tahunan maka rentang waktu masa depan adalah dalam satu tahun. Pengelolaan risiko akan menetapkan prediksi atau probabilitas terjadinya peristiwa ini dalam satu tahun ke depan.

Penetapan probabilitas ini tentu bukan merupakan suatu kepastian melainkan merupakan kemungkinan yang terdapat kemungkinan tepat dan akurat, bisa jadi lebih tinggi frekuensinya, lebih rendah, atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Tetapi dalam pengelolaan risiko penetapan kemungkinan keterjadian merupakan salah satu unsur yang memiliki kontribusi signifikan.

Likelihood ini bisa didefinisikan dengan berbagai cara dan dapat terbagi menjadi beberapa tingkatan. Perumusannya bisa berdasarkan ukuran kualitatif yang dapat didefinisikan dalam berbagai kemungkinan frekuensinya misalkan:

  1. Sangat Sering
  2. Sering
  3. Cukup Sering
  4. Jarang, dan
  5. Sangat Jarang.

Mengkonversi sering atau jarang ke dalam frekuensi kemungkinan kejadian dalam satu periode atau satu tahun bisa beragam tergantung persepsi. Namun dari ukuran kualitatif ini dapat disepakati bahwa jarang memiliki arti lebih sedikit kejadiannya di bandingkan dengan sering.

Selain itu likelihood juga dapat didefinisikan dalam bentuk kuantitatif atau menggunakan parameter angka tertentu. Namun penetapan angka ini tidak mungkin dalam satuan yang pasti seperti 3 kejadian; 5 kejadia; atau 12 kejadian karena sifatnya masih prediksi. Hanya data historis yang dapat menyajikan angka pasti karena merupakan informasi atas peristiwa yang sudah terjadi. Pada umumnya ukuran kuantitatif ini dalam rentang tertentu, misalkan:

  1. Lebih dari 10 kali kejadian dalam satu tahun
  2. 9 – 10 kali kejadian
  3. 6 – 8 kali
  4. 3 – 5 kali
  5. ≤ 2 kali kejadian dalam satu tahun.

Penyajian likelihood lain dapat juga berupa probabilitas kemungkinan kejadian dalam % misalkan:

  1. Kemungkinan terjadinya lebih dari 90%
  2. Kemungkinan kejadian antara 75-90%
  3. Kemungkinan  kejadian antara 50-75%
  4. Kemungkinan kejadian antara 25-50%, dan
  5. Kemungkinan kejadian tidak lebih dari 25%.

Semua kemungkinan keterjadian ini merupakan pilihan yang harus disepakati dan didefinisikan dengan definisi yang sama. Penetapan likelihood pada umumnya merupakan kesepakatan dari para risk owner/risk champion.

Dampak – Impact

Setelah menetapkan kemungkinan kejadian dalam kurun waktu masa depan maka pilar berikutnya adalah penetapan besaran kerugian (jika risiko didefinisikan sebagai potensi penghambat) yang akan dialami perusahaan jika peristiwa yang diduga akan terjadi ini menjadi nyata. Jika likelihood parameternya adalah kemungkinan frekuensi keterjadian peristiwa yang teridentifikasi, maka dalam impact akan sangat bervariasi.

Sebagaimana likelihood, dampak juga akan dikelompokkan sesuai dengan besaran kerugian yang berpotensi dialami oleh organisasi atau perusahaan ketika peristiwa yang tidak diinginkan itu terjadi. Umumnya pengelompokkan besaran kerugian akan sama dengan kelompok likelihood sehingga nantinya ketika disandingkan dalam grafik yang menunjukkan kombinasi keduanya akan membentuk persegi. Jika mengacu pada likelihood yang diasumsikan memiliki 5 (lima) kelompok maka potensi kerugian akan disajikan:

  1. Kerugiannya sangat besar bahkan catastrophic atau kerugian yang total
  2. Kerugiannya besar
  3. Kerugiannnya medium
  4. Kerugiannya kecil, dan
  5. Kerugiannya sangat kecil.

Kerugian secara umum memang bersifat ukuran keuangan, namun pada banyak proses atau fungsi serta kegiatan dampak yang ditimbulkan bisa juga sulit untuk dinilai secara moneter. Untuk itu diperlukan pembahasan bersama oleh para penanggung jawab kegiatan untuk mendefinisikan besaran kerugian yang kemudian dibagi, misalkan dalam lima kelompok yang mencerminkan kerugian dari sangat kecil sampai dengan sangat besar.

Kombinasi Likelihood – Impact

Setelah para risk owner dan pemangku kepentingan mensepakati besaran probilitas kejadian atau likelihood dan besaran kemungkinan kerugian yang akan terjadi, maka kombinasi keduanya akan dituangkan dalam tabel heatmap. Tabel heatmap memiliki ciri adanya warna-warna tertentu yang melambangkan keterkaitan antara parameter absis (sumbu x – horisontal) dengan parameter ordinat (sumbu y – vertical).  Dalam pengelolaan risiko kombinasi antara likelihood dengan impact untuk risiko yang sama akan menetapkan kuadran atau posisi risiko tersebut berada dan memiliki indikasi warna tertentu. Warna atau posisi dalam tabel heatmap memiliki definisi sendiri.

Risk Heat Map – A Powerful Visualization Tool | Balbix

  

Dukungan Sistem Informasi

Pengelolaan risiko yang menjadi dasar dalam pemberian perhatian di masa depan dimana manajemen akan menetapkan fokus atas potensi-potensi kejadian yang dapat terjadi akan terbantu dengan tabel heatmap. Penetapan likelihood, prediksi impact yang relevan, penetapan titik kombinasi risiko baik ketika inheren maupun risiko residual setelah implementasi rencana mitigasi dapat dilaksanakan secara manual atau berbantuan sistem informasi. Praktek kegiatan ini akan sangat kompleks dan membutuhkan akurasi yang tinggi karena berkaitan dengan ketetapan pengambilan kepitusan dimasa depan. Untuk itu otomasi proses menjadi dukungan memiliki peran yang signifikan. Pengelolaan risiko umumnya dituangkan dalam Sistem Informasi Manajemen Risiko (SIMKO).

Read more


News

PELAKSANAAN DIKLAT AUDIT INTERNAL SECARA VIRTUAL DI BULAN FEBRUARI 2023

11 Feb 2023

PPA&K kembali menyelenggarakan diklat. Kali ini ada tiga diklat mengenai Audit Internal yang dilaksanakan, antara lain Diklat Dasar-Dasar Audit, Audit Operasional dan Audit Internal Berbasis Risiko. Pembukaan diklat dilakukan pada 6 Februari 2023 secara virtual melalui Zoom Meeting dengan diikuti oleh peserta dari BUMN, Perumda, dan Universitas. 

Adapun pelaksanaan diklat Audit Internal di PPA&K sudah berbasis kompetensi BNSP, sehingga standar pendidikan yang digunakan sudah diakui dan teruji sesuai dengan kebutuhan. Seperti yang kita ketahui posisi sebagai Audit Internal di perusahaan sangat membutuhkan keahlian khusus dalam menilai dan meningkatkan efektivitas sebuah perusahaan. Maka dari itu, para Auditor wajib dibekali dengan ilmu yang didapatkan dari pendidikan dan pelatihan, terlebih para fasilitator di PPA&K merupakan orang-orang yang sudah berpengalaman menjadi praktisi dan akademisi di bidang audit internal selama belasan tahun. 

Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi, menyampaikan pentingnya fungsi dari auditor internal dalam menentukan keberlangsungan aktivitas di sebuah perusahaan. 

"Auditor internal bisa dikatakan sebagai 'leher' dari Direktur Utama. Betapa pentingnya saran dan rekomendasi Bapak dan Ibu semua dalam oengambilan keputusan untuk perusahaan oleh Direktur Utama," ujar Bapak Supriyadi.

Tak hanya itu, Bapak Supriyadi juga mengingatkan tantangan yang harus dihadapi oleh seorang Auditor Internal yaitu skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2022 turun empat poin menjadi 34 atau peringkat 110 dari 180 negara yang di survey. Padahal sebelumnya skor Indonesia adalah 38 pada tahun 2021. Skor nilai 0 berarti negara tersebut sangat korup, sedangkan 100 berarti sangat bersih dari korupsi. Maka dari itu, diharapkan agar para peserta mengikuti diklat dengan baik supaya bisa mengimplementasikan teori yang sudah didapatkan.

"Ini lah tantangan kita bersama sebagai Auditor Internal. Mohon berikan masukan-masukan yang terbaik bagi perusahaan kita dalam mendeteksi dan memberantas korupsi," tutup Bapak Supriyadi.

Pelaksanaan diklat virtual Audit Internal dimulai pada tanggal 6 Februari 2022. Diklat Audit Internal Berbasis Risiko telah selesai pada 10 Februari 2023. Diklat Dasar-Dasar Audit akan selesai pada 15 Februari 2023. Sedangkan Diklat Audit Operasional akan selesai pada 14 Februari, dilanjutkan dengan uji kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Audit Internal (LSPAI) pada 15 Februari 2023.

Read more

RISIKO DAN MANAJEMEN RISIKO : KONSEP TERKINI YANG TERNYATA TELAH DITERAPKAN DALAM KESEHARIAN

08 Feb 2023

Dalam triwulan ke 4 tahun 2022, kelompok usaha BUMN mendapatkan arahan baru dari ultimate shareholder yaitu kementerian BUMN melalui terbitnya Peraturan Menteri BUMN nomor 5 Tahun 2022 tentang Manajemen Risiko. Melalui peraturan ini seluruh BUMN berikut dengan anak perusahaan dan perusahaan yang terafiliasi dengan BUMN wajib menyelenggarakan manajemen risiko. Dengan manajemen risiko yang efektif memberikan keyakinan bahwa tujuan yang direncanakan akan tercapai dan pada akhirnya BUMN tersebut akan meraih “nilai” yang harapkan.

Nilai disini mengandung banyak makna dan sangat tergantung pada apa yang menjadi angan atau impian dari BUMN tersebut setelah melewati satu periode. Nilai ini dapat berupa:

  1.  pencapaian laba sesuai atau bahkan melebihi dari yang dianggarkan
  2. Pencapaian pendapatan usaha yang sesuai dan atau melebihi rencana
  3. Penguasaan pangsa pasar dalam persentase tertentu
  4. Pertumbuhan asset sesuai target,
  5. Dan berbagai parameter lainnya.

Nilai ini dapat diraih dengan gemilang karena berbagai faktor yang mengganggu dapat dimitigasi dengan baik sehingga tidak memberi dampak negatif. Kesiapsediaan jajaran manajemen melakukan mitigasi atas berbagai potensi gangguan ini karena jajaran manajemen telah memprediksi sebelumnya dan kemudian dengan berbekal pada prediksi tersebut, maka dirumuskan strategi yang jitu yang kemudian membuahkan hasil. Kesemua rangkaian ini merupakan hasil dari manajemen risiko yang efektif.

Menteri BUMN melalui Peraturan Menteri tersebut melakukan penegasan kembali dan instruksi bagi BUMN untuk menerapkan manajemen risiko dalam pengelolaan badan usaha plat merah tersebut. Menteri menginginkan semua BUMN dapat berperan optimal sesuai perannya yaitu:

  1. menjadi agen pembangunan yang mewakili negara menyediakan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan masyarakat yang tidak disediakan oleh sektor privat
  2. menjadi kontributor dalam keuangan negara melalui pemenuhan kewajiban perpajakan dan juga kontribusi melalui Deviden atas kinerja yang berhasil diraih.

Untuk dapat mencapai peran ideal ini maka pengelolaan risiko menjadi sangat penting. Melalui pengelolaan risiko, Direksi beserta jajarannya akan berhati-hati dalam menjalankan perusahaan dan telah bersiap diri menghadapi berbagai potensi gangguan yang dapat berpengaruh terhadap kinerja.

Kegiatan pengelolaan risiko, sejatinya bukan merupakan praktik bisnis atau kegiatan yang baru didesain dan dilaksanakan. Pengelolaan risiko ternyata telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bahkan pada kegiatan personal. Pepatah “Sedia Payung sebelum Hujan” merupakan salah satu bentuk pengelolaan risiko baik dengan makna tersurat ataupun tersirat. Penyediaan payung merupakan bentuk mitigasi atas potensi gangguan yang mungkin terjadi. Hujan dalam pepatah tersebut merupakan “gangguan”. Apabila tidak diantisipasi dengan baik, tubuh yang basah karena kehujanan akan bisa berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kesehatan. Kesehatan yang terganggu merupakan kondisi yang tidak diinginkan, sehingga harapan badan senantiasa sehat dalam waktu tertentu menjadi tidak tercapai.  Gangguan kesehatan karena kehujanan ini bisa sangat bervariatif tergantung tingkat kerentanan tubuh manusia.

Perumpamaan ini juga memberi makna bahwa hujan sebagai faktor yang dapat mengganggu tidak memiliki kepastian dalam keterjadiannya. Di tengah musim hujan, kecenderungan akan terjadinya hujan sangat tinggi, namun tidak dapat dipastikan juga apakah hari ini akan hujan, tetap ada kemungkinan hujan tidak terjadi. Demikian juga sebaliknya, di tengah musim kemarau, tidak ada yang bisa memastikan hujan tidak akan terjadi. Seringkali kita menemukan anomali hujan turun di tengah musim kemarau.

Sedia payung sebelum hujan merupakan praktek dalam pengelolaan risiko secara personal. Hal ini menunjukkan ternyata risiko dan manajemen risiko secara sederhana bukan merupakan konsep baru melainkan sudah diterapkan oleh manusia dalam kehidupan sehar-hari.

Untuk memberikan pemahaman bersama mengenai Peraturan Menteri BUMN Nomor 5 Tahun 2022 mengenai Manajemen Risiko, PPAK akan mengadakan lokakarya yang akan membahas mengenai segi-segi yang ada dalam peraturan tersebut berikut dengan implikasinya. Peraturan menteri ini tidak hanya sekedar membahas pengelolaan risiko, melainkan memberi implikasi pada bidang-bidang lain yang terkait secara signifikan antara lain terhadap struktur organisasi dan portofolio BUMN, Fungsi Audit Internal, Organ Dewan Komisaris, dan juga aspek pengendalian internal.

 

 

Read more

DIKLAT DASAR-DASAR AUDIT JANUARI 2023 SUDAH DIBUKA

18 Jan 2023

Mengawali Tahun baru 2023, PPA&K sudah melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat). Diklat yang dilaksanakan kali ini adalah Dasar-Dasar Audit, diselenggarakan di Green Forest Hotel Bogor, Jawa Barat. Diklat ini berlangsung mulai tanggal 16 sampai dengan 26 Januari 2023.

Kegiatan ini dibuka oleh Ibu Eri selaku Manager Diklat. Beliau mengucapkan terima kasih kepada para peserta yang telah memilih PPA&K sebagai tempat dilaksanakannya diklat. Dihadapan para peserta yang semuanya merupakan Satuan Pengendali Internal (SPI) perusahaan, Ibu Eri menjelaskan peran penting kinerja SPI dan auditor internal yang saling berkaitan dalam upaya mencapai visi, misi, dan tujuan dari sebuah perusahaan. 

“Tugas utamanya adalah menjadi ‘polisi’ di perusahaan. Mengidentifikasi temuan dan memeriksanya,” kata Ibu Eri dalam sambutannya. 

Ibu Eri mengimbau para peserta untuk tidak malu bertanya kepada fasilitator yang akan memberikan materi. Seperti yang diketahui fasilitator PPA&K merupakan para praktisi dan akademisi profesional dan berpengalaman. 

“Silahkan Bapak dan Ibu memanfaatkan waktu untuk berdiskusi dengan para fasilitator mengenai permasalahan di perusahaan Bapak dan Ibu semua, supaya setelah kembali dari diklat ini Bapak dan Ibu bisa menerapkan di perusahaan masing-masing,” lanjutnya. 

Diklat Dasar-Dasar Audit merupakan salah satu diklat yang rutin di laksanakan setiap bulan dan merupakan jenjang pertama dalam Program Pelatihan Audit Internal. Peserta akan mengikuti diklat tersebut selama 10 hari. Setelah selesai mengikuti Diklat Dasar-Dasar Audit, para peserta bisa menempuh jenjang berikutnya yaitu mengikuti Diklat Audit Operasional.

Selain diklat Audit Internal, adapun diklat lain yang diselenggarakan oleh PPA&K, mulai dari Audit Forensik, Good Corporate Governance, Risk Management, Akuntansi, Keuangan, hingga Perpajakan.

Read more

IN HOUSE TRAINING MANAJEMEN RISIKO BATCH 2 BAGI PT PERKEBUNAN NUSANTARA VIII, PESERTA SEMAKIN AKTIF BERDISKUSI

29 Dec 2022

Setelah diselenggarakannya In House Training (IHT) Manajemen Risiko Batch 1, PPA&K kembali dipercaya untuk menyelenggarakan Batch 2 bagi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Kegiatan ini dilangsungkan di Kantor Pusat PTPN VIII, Bandung, Jawa Barat, pada 26 sampai 27 Desember 2022.

Para peserta berasal dari berbagai unit kerja di PTPN VIII, mulai dari kantor direksi hingga bagian kebun. Seperti batch pertama, pada batch kedua ini peserta lebih aktif dalam berdiskusi mengenai risiko yang melekat pada manajemen usaha unit kerjanya. Diskusi semakin aktif saat para peserta bersedia untuk menampilkan manajemen risiko dari masing-masing unit kerja. hal tersebut membuat para peserta sangat antusias dalam memahami penjelasan dari fasilitator yang sudah berpengalaman di bidang manajemen risiko. 

Atas pengalaman dan penjelasan fasilitator tersebut, peserta bisa mengetahui cara mengidentifikasi, menilai dan memetakan risiko yang akan terjadi.

“Dengan mengikuti kegiatan ini pastinya wawasan dan pengalaman saya dapat bertambah, juga dapat terimplementasi dalam pekerjaan saya,” ujar Dina Novelia, peserta yang memberikan kesan terhadap IHT Manajemen Risiko Batch 2 PTPN VIII.

Sejalan dengan itu peserta lain, Khairullah Alatas, juga merasa wawasannya mengenai manajemen risiko dapat bertambah, dan bekal ilmu yang sudah didapatkan dari fasilitator bisa berguna untuk diimplementasi agar kedepannya dapat lebih baik lagi.

“Saya berharap pelatihan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan sampai dengan tingkat BOD (Dewan Direksi), supaya bisa terimplementasi secara total di kantor kami,” kata Khairullah.

IHT Manajemen Risiko Batch 2 ditutup dengan dihadiri oleh Direktur operasional PPA&K, Bapak Budi Hanta. Kemudian dihadiri oleh Senior Executive Vice President PTPN VIII, Bapak Wispramono Budiman, dengan didampingi oleh Kepala Bagian Keuangan dan Manajemen Risiko, Ibu Mira Sumirah. Tidak ketinggalan kehadiran dari Bapak Mohammad Rizqa, selaku Fasilitator.

Terima kasih kepada PTPN VIII yang secara penuh memberikan kepercayaan dalam pelaksanaan IHT Manajemen Risiko Batch 1 dan Batch 2. Sampai jumpa pada pelatihan selanjutnya.

Read more


News

DIKLAT CERTIFIED GOVERNANCE OVERSIGHT PROFESSIONAL (CGOP) PERIODE DESEMBER 2022 TELAH SELESAI

28 Dec 2022

PPA&K telah selesai melaksanakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Certified Governance Oversight Professional (CGOP). Kegiatan ini dilaksanakan di Grand Inna Malioboro, Yogyakarta, pada 19 sampai 23 Desember 2022 dan diikuti oleh para komisaris, Komite Audit, Komite Good Corporate Governance, juga BUMN/BUMD. 

Selama mengikuti diklat para peserta sangat antusias dalam menerima materi dari fasilitator yang sudah berpengalaman dan profesional di bidang Good Corporate Governance (GCG) seperti Bapak Tumpal Pakpahan dan Bapak Ivan Irawan. Pada sesi pembelajaran, fasilitator memberikan kesempatan bagi para peserta untuk bertanya dan juga menjawab pertanyaan studi kasus dari fasilitator. Sehingga pada diklat CGOP peserta dapat berpartisipasi secara aktif dan diklat berjalan dengan efektif. 

Pada kegiatan diklat CGOP ini PPA&K bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Mitra Kalyana Sejahtera (LSP MKS) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Para peserta diklat yang sudah  selesai mengikuti diklat dan memenuhi syarat bisa melaksanakan ujian agar mendapatkan gelar sertifikasi CGOP. 

Setelah mengikuti diklat ini, peserta diharapkan mampu dan menerapkan apa yang telah dipelajari kedalam pekerjaannya. Dengan mengikuti Diklat CGOP peserta akan mendapat pemahaman pada bidang tata kelola di bidang pengawasan dan pembinaan tata kelola publik, serta manajemen risiko berbasis tata kelola dengan tugas melakukan peninjauan dan pengembangan praktik tata kelola. 

 

Read more

ANTUSIASME PESERTA DARI PT PERKEBUNAN NUSANTARA (PTPN) VIII YANG MENGIKUTI IN HOUSE TRAINING MANAJEMEN RISIKO BATCH 1

26 Dec 2022

Manajemen risiko menjadi fokus yang sedang menjadi perhatian belakangan ini, terlebih saat keluarnya Peraturan Menteri BUMN Nomor Per- 5/MBU/09/2022 tentang Manajemen Risiko pada BUMN. Seperti yang diketahui, risiko pada perusahaan merupakan tanggung jawab dari semua unit kerja, sehingga kemampuan dalam manajemen risiko perlu ditingkatkan dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) agar risiko yang timbul dapat dimanfaatkan sebagai peluang bagi perusahaan. 

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII memberikan kepercayaan bagi PPA&K untuk menyelenggarakan In House Training (IHT) Manajemen Risiko batch pertama bagi 42 pegawainya. Kegiatan ini dilangsungkan di Kantor Pusat PTPN VIII yang berada di Bandung, Jawa Barat, pada 22 sampai 23 Desember 2022. 

PPA&K selaku penyelenggara sudah matang mempersiapkan fasilitator yang akan membekali para peserta. Para fasilitator yang dilibatkan selama IHT berlangsung adalah para praktisi dan akademisi yang sudah puluhan tahun mendalami bidang manajemen risiko. 

“Selama dua hari kedepan, Bapak dan Ibu semua akan menerima teori dan melakukan praktik yang meliputi praktik mengidentifikasi risiko, penilaian risiko, evaluasi, dan mitigasi atau upaya mengurangi risiko,” Ujar Bapak Supriyadi, Direktur Utama PPA&K, dalam sambutannya.

?Selain itu, Direktur PTPN VIII, Bapak Didik Prasetyo, mengingatkan bahwa risiko bisa terjadi dimana saja dan juga memberikan dukungan kepada para peserta agar setelah mengikuti kegiatan IHT ini dapat memahami, menerapkan, dan mengimplementasikan ilmu yang telah didapat secara konsisten dalam pekerjaan.

“Bapak dan Ibu semua tidak perlu tegang dalam pelatihan ini. Mari kita ikuti in house training ini dengan suka cita dan penuh semangat,” kata Bapak Didik.

PTPN VIII merupakan salah satu perusahaan BUMN yang mengelola, mengolah, dan memasarkan hasil perkebunan seperti kelapa sawit, karet, teh, aneka kekayuan, dan tanaman lain. PTPN VIII telah mengikuti setidaknya tujuh jenis diklat di PPA&K, yaitu Dasar - Dasar Audit, Audit Operasional, Diklat Khusus bagi Kepala SPI, Komunikasi dan Psikologi Audit, EDP Audit, dan Profesional Internal Auditor. Terima kasih kepada PTPN yang telah memberikan kepercayaan kepada PPA&K. Sampai jumpa pada diklat selanjutnya.

Read more

PPA&K MELANGSUNGKAN DIKLAT KORPORASI SECARA VIRTUAL PERIODE DESEMBER 2022

06 Dec 2022

PPA&K sebagai lembaga yang fokus pada pendidikan dan pelatihan, berkomitmen membangun Sumber Daya Manusia yang unggul dan berkompeten. Seperti di penghujung tahun 2022, PPA&K kembali membuka diklat secara virtual. Kali ini yang diselenggarakan adalah diklat Dasar-Dasar Audit, Qualified Risk Management Analyst (QRMA), dan Analisis Laporan Keuangan.

Diklat ini diikuti oleh peserta yang berasal dari BUMN, BUMD, dan instansi pendidikan diantaranya: PT Hutama Karya (Persero), PT Sarinah, PT Garam, PT PG Rajawali II, PT Jakarta Tourisindo, IAIN Metro Lampung, IAIN Alauddin Makassar, IAIN Curup, IAIN Kendari, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, dan Universitas Kristen Wira Wacana Sumba.

Sambutan hangat disampaikan oleh Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi, kepada para peserta yang sudah meluangkan waktunya untuk menggali ilmu di PPA&K. Tak lupa beliau memberikan arahan agar peserta mempergunakan waktu selama diklat untuk menggali ilmu dari para fasilitator yang mengajar. 

“Karena fasilitator kami sudah lebih dari 20 tahun berpengalaman di bidangnya, teori dan praktik sudah pasti dikuasai,” ujar Bapak Supriyadi.

Mengenai waktu pelaksanaan, diklat periode Desember ini dilakukan secara serentak dimulai pada 5 Desember 2022. Sedangkan waktu penyelesaiannya akan dilakukan di tanggal yang berbeda. Diklat Dasar-Dasar Audit akan selesai pada 14 Desember 2022. Kemudian Diklat Analisis Laporan Keuangan akan selesai pada 8 Desember 2022. Sedangkan Diklat QRMA akan selesai pada 9 Desember dan akan melakukan uji kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi – Mitra Kalyana Sejahtera (LSP MKS) pada 14 Desember 2022

Beberapa dari peserta yang mengikuti diklat periode Desember 2022 sebelumnya sudah pernah mengikuti diklat di PPA&K. Artinya, PPA&K dapat dipercaya sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang Auditor, Tata Kelola Perusahaan, Manajemen Resiko, Akuntansi, Keuangan, dan Perpajakan.

Read more

IN HOUSE TRAINING PERSIAPAN DAN UJI KOMPETENSI CERTIFIED FORENSIC AUDITOR (CFRA) DI LINGKUNGAN INSPEKTORAT DAERAH PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA SE-KALIMANTAN TIMUR

23 Nov 2022

Fraud merupakan sebuah kecurangan yang terjadi pada sebuah instansi/perusahaan yang diakibatkan oleh orang maupun kelompok yang berasal dari dalam maupun dari luar instansi/perusahaan itu sendiri. Jika itu terjadi, bukan hal mudah dalam mengungkap dan membuktikan fraud itu terjadi karena pada dasarnya fraud adalah hal yang disengaja dan disembunyikan. 

Demi mewujudkan tata kelola yang baik, perusahaan harus memiliki sumber daya yang ahli untuk mencegah, mendeteksi, dan memastikan adanya fraud atau tidak. Maka dari itu Instansi/perusahaan harus memberikan bekal kepada para pegawainya yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) Internal Audit khususnya Audit Operasional dan Audit Kecurangan, sebaiknya mengarahkan untuk mengikuti diklat Audit Forensik. Seperti yang dilakukan oleh Inspektorat Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota Se-Kalimantan Timur yang mempercayakan Persiapan dan Uji Kompetensi Certified Forensic Auditor (CFrA) kepada PPA&K, selaku lembaga pendidikan dan pelatihan. 

Secara tatap muka, diklat Persiapan dan Uji Kompetensi CFrA dilaksanakan di Swiss-Belhotel Balikpapan, Kalimantan Timur, dan dibuka oleh Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi, pada 21 November 2022. 

Bapak Supriyadi menjelaskan tujuan dari diklat ini adalah untuk membekali pesertanya agar bisa membuktikan, mengungkapkan, menyelesaikan, serta penelusuran dan pemulihan aset yang diakibatkan oleh adanya kecurangan di sebuah instansi/perusahaan. Penyelenggaraan diklat ini juga didampingi oleh fasilitator yang sudah berpengalaman di bidang audit forensik dengam materi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan instansi/perusahaan sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Bidang Audit Forensik (SKKNI AF).

“Jadi setelah mengikuti diklat ini Bapak dan Ibu bisa langsung melakukan uji kompetensi sertifikasi auditor forensik, dan semoga Bapak dan Ibu bisa menerapkan ilmu yang sudah didapatkan dalam mengatasi fraud di instansi tempat Bapak dan Ibu bekerja,” tegas Bapak Supriyadi. ?

Diagendakan diklat Persiapan dan Uji Kompetensi Certified Forensic Auditor (CFrA) di Lingkungan Inspektorat Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota Se-Kalimantan Timur akan berlangsung selama 10 hari, mulai 21 November hingga 1 Desember 2022 dengan diikuti oleh 38 pegawai.

Read more


News

AKTIF SEBAGAI LEMBAGA DIKLAT, PPA&K MEMBUKA DIKLAT TATAP MUKA PERIODE NOVEMBER 2022

18 Nov 2022

PPA&K telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) sejak didirikan pada tahun 1984. Hingga tahun 2022 ini, PPA&K masih aktif dan terus mengembangkan program diklat agar tetap menjadi lembaga terpercaya dan handal dalam pengembangan SDM bagi kebutuhan intasnsi/perusahaan. 

Pada bulan November 2022 ini, PPA&K kembali menyelenggarakan diklat yang dilaksanakan secara tatap muka, di Green Forest Hotel Bogor. Diklat yang dilaksanakan antara lain, Dasar-Dasar Audit, Komunikasi Psikologi Audit, Akuntansi Badan Layanan Umum (BLU), dan Manajemen Piutang BLU

Pembukaan diklat dilakukan sebanyak dua gelombang. Pada gelombang pertama dilakukan pada 14 November 2022 ditujukan untuk Diklat Dasar-Dasar Audit dan Komunikasi Psikologi Audit. Sedangkan pada gelombang kedua untuk Akuntansi BLU dan Manajemen Piutang BLU pada 17 November 2022.

Pada pembukaan gelombang kedua Direktur utama PPA&K, Bapak Supriyadi, menyampaikan pentingnya diklat bagi para peserta yang memiliki latar belakang bidang ekonomi, terlebih yang bekerja pada perusahaan berbadan layanan umum. 

“Kalau akuntansi BLU, nanti pasti outputnya ada saatnya Bapak-Ibu harus menulis laporan. Bukan hal mudah menulis laporan, kita butuh ketelitian dalam melakukannya,” kata Bapak Supriyadi dalam sambutannya. 

Bapak supriyadi juga menyinggung sedikit mengenai Manajemen piutang BLU yang merupakan sejumlah transaksi yang wajib dibayarkan kepada perusahaan berbadan layanan umum yang biasanya muncul akibat dari adanya perjanjian atau hal lain yang sah untuk ditagih. 

“Maka dari itu, diklat ini bertujuan agar Bapak-Ibu bisa mengelola piutang BLU yang tertib, efektif, efisien, dan tentunya bisa dipertanggungjawabkan,” tambahnya. 

Diagendakan diklat akan selesai pada waktu yang berbeda. Diklat Akuntansi BLU selesai pada 20 November, Manajemen Piutang BLU selesai pada 22 November, Komunikasi Psikologi Audit pada 23 November, dan Dasar-Dasar Audit akan selesai pada 24 November 2022. 

Read more

IN HOUSE TRAINING (IHT) PERSIAPAN DAN UJI KOMPETENSI CERTIFIED GOVERNANCE PROFESSIONAL (CGP) BAGI LINGKUNGAN INSPEKTORAT PROFINSI DAN KABUPATEN/KOTA SE-KALIMANTAN TIMUR

14 Nov 2022

Tata Kelola Perusahaan/Good Corporate Governance (GCG) merupakan hal yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan instansi/perusahaan dalam jangka panjang. Faktor internal seperti budaya perusahaan dan mekanisme kerja manajerial adalah pendorong bagi keberhasilan penerapan GCG. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah keahlian khusus agar setiap pelaksanaan tugas di sebuah perusahaan dapat berjalan dengan semestinya.

 

PPA&K sebagai salah satu lembaga pendidikan dan pelatihan kali ini dipercaya untuk menyelenggarakan In House Training (IHT) Persiapan dan Uji Kompetensi Certified Governance Professional (CGP) di Lingkungan Inspektorat Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Kalimantan Timur Tahun 2022. Kegiatan tersebut diikuti oleh 62 peserta dan dilaksanakan pada tanggal 8 sampai 11 November 2022 di Hotel Grand Tjokro Balikpapan. 

 

Dua kelas terisi penuh oleh peserta yang antusias menerima materi dari fasilitator yang berasal dari praktisi dan akademisi yang kompeten dan berpengalaman. Selama 4 hari mengikuti IHT para peserta akan dievaluasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Mitra Kalyana Sejahtera (LSP MKS). Di hari terakhir, akan ada uji kompetensi untuk mengukur capaian kompetensi peserta.

 

"Uji kompetensi dari LSP MKS sudah berlisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Pedoman kita dinaungi oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) yang berada dibawah Kementerian Perekonomian, sehingga kami dari PPA&K akan mempersiapkan Bapak dan Ibu sekalian sesuai dengan pedoman dan regulasi yang sah dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan," Ujar Bapak Supriyadi, Direktur Utama PPA&K pada pembukaan IHT.

 

Para peserta memegang peranan penting selama IHT. Efektivitas dari keberlangsungan IHT bergantung pada keaktifan peserta di dalam kelas. Bapak Supriyadi mengimbau kepada para peserta untuk fokus dan tetap semangat dalam mengikuti IHT. 

 

"Ayo kita ikuti diklat ini dengan penuh suka cita, agar bisa berguna untuk kedepannya," tutup Bapak Supriyadi. 

 

Terima kasih kepada Inspektorat Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Kalimantan Timur yang telah mempercayai kegiatan IHT Persiapan dan Uji Kompetensi Certified Governance Professional (CGP) kepada PPA&K. Semoga kita dapat bertemu dalam kegiatan selanjutnya.

Read more

DIKLAT VIRTUAL CLASS PERIODE NOVEMBER 2022 RESMI DIBUKA

07 Nov 2022

Setiap bulannya PPA&K menyelenggarakan Program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) baik secara virtual maupun tatap muka. Pada Senin, 7 November 2022 telah dilakukan pembukaan Diklat Virtual Class Audit Internal dan Manajemen Risiko melalui Zoom pukul 08.00 WIB. Pada Diklat Audit Internal yang diselenggarakan pada bulan ini terdiri dari Diklat Audit Operasional, Diklat Audit Kecurangan, Diklat Khusus Bagi Kepala SPI. Sedangkan untuk Diklat Manajemen Risiko terdiri dari Diklat Qualified Risk Management Professional (QRMP), dan Diklat Qualified Risk Governance Professional (QRGP).

 

Selain peserta diklat, acara pembukaan diikuti oleh Direktur Utama dan Direktur Operasional PPA&K, Para Fasilitator, serta perwakilan dari Lembaga Sertifikasi Manajemen Risiko juga Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Internal.

 

Pada Diklat Virtual kali ini, peserta berasal dari 13 perusahaan, diantaranya PT Angkasa Pura II, RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, Perum Jasa Tirta II, PT Kawasan Industri Terpadu Batang, PT Jasa Industrial Estate Pulogadung, PT Hakkaston, PT Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967, Bank Kalimantan Barat, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, PT Hutama Karya (Persero), PT Pegadaian Galiri Dua Empat, PT Capital Life Indonesia, PT JNE Express. Bapak Supriadi, Direktur Utama PPA&K mengucapkan terima kasih kepada para peserta yang telah mempercayakan penyelenggaraan diklat oleh PPA&K. ??

 

“Kita tahu bahwa diklat ini sangat penting. Apabila pengendalian internal sangat bagus dan risk management juga sangat baik, maka Perusahaan dapat terus berinovasi untuk melakukan ekspansi bisnisnya” kata Bapak Supriyadi.

 

Pada sambutannya beliau sempat menyinggung soal Indeks Persepsi Korupsi yang dimana Indonesia menempati posisi ke-96 dengan skor 38 dari skala 100. Kemudian beliau membahas mengenai tantangan ekonomi yang akan datang, meskipun saat ini kondisi ekonomi Indonesia cukup baik. Menurut IMF, saat ini perekonomian Indonesia masuk peringkat 7 Besar.

 

“Tantangan dari sisi auditor internal maupun dari sisi risk management. Kalau risk management berdasarkan perusahaan nanti memetakan risiko sehingga kedepannya tidak terguncang. Sedangkan dari sisi auditor internal diantaranya, bagaimana kita melakukan insurance yang meyakinkan, terutama korupsi,” pungkasnya.

 

Dijadwalkan para peserta akan memulai pembelajaran tepat setelah acara pembukaan selesai dan setiap diklat yang berlangsung akan berakhir di hari yang berbeda. Diklat Khusus Bagi Kepala SPI dan Diklat QRGP akan selesai pada 10 November 2022, kemudian Diklat Audit Kecurangan akan selesai pada 11 November 2022. Diklat QRMP dijadwalkan selesai pada 14 November 2022, sedangkan Diklat Audit Operasional akan selesai pada 16 November 2022.

 

Selama diklat berlangsung, di setiap akhir sesi pembelajaran akan dilakukan ujian sebagai tes pemahaman materi. Khusus bagi peserta diklat QRMP dan QRGP akan dievaluasi secara langsung oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Mitra Kalyana Sejahtera (LSP MKS).

Read more

PELATIHAN TATAP MUKA KEMBALI DIBUKA, "SELAMAT DATANG PESERTA BREVET PAJAK AB ANGKATAN 83"

05 Nov 2022

Indonesia disebutkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai negara ke 7 dengan Ekonomi Terbesar di dunia, posisi tersebut mengalahkan tingkat perekonomian Inggris dan Prancis. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, yang meyakini ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh hingga akhir tahun 2022 dan tantangan ekonomi yang akan muncul di tahun 2023. 

 

Pertumbuhan ekonomi yang terjadi kini tentunya akan berpengaruh kepada regulasi perpajakan di Indonesia. Maka menjadi keharusan bagi para wajib pajak untuk memahami hal tersebut. Sebagai sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan, PPA&K konsisten dan terus mengembangkan program-programnya. Pelatihan Brevet Pajak AB merupakan salah satu program yang cukup diminati oleh para peserta. 

 

Dikatakan oleh Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi, pada pembukaan kelas Pelatihan Brevet Pajak AB Angkatan 83 yang dilakukan pada 5 November 2022, bahwa PPA&K adalah wadah bagi siapapun yang ingin belajar dan memahami perpajakan. 

 

“Disini kita mempelajari fondasi perpajakan yang regulasinya bersifat dinamis. Jika kita tidak mempelajari mulai dari fondasi maka akan timbul kesulitan dalam memetakan masalah perpajakan,” Kata Bapak Supriyadi. 

 

Pelatihan Brevet Pajak AB Angkatan 83 merupakan pelatihan yang dilakukan secara tatap muka. Bapak Supriyadi menjelaskan ada keuntungan bagi para peserta jika mengikuti pelatihan secara tatap muka, salah satunya adalah dapat langsung berdiskusi dengan para fasilitator yang mengajar. 

 

“Fasilitator kami sudah belasan bahkan puluhan tahun menjadi praktisi atau akademisi bidang perpajakan. Jadi jangan sungkan untuk menggali ilmu dari para fasilitator yang nanti memberikan materi di kelas,” jelasnya. 

 

Dijadwalkan Pelatihan Brevet Pajak AB Angkatan 83 akan melakukan pertemuan setiap hari Sabtu, mulai dari 5 November 2022 sampai 18 Februari 2023. Setelah selesai dan dinyatakan lulus, para peserta akan menerima sertifikat yang dikeluarkan oleh PPA&K dan dapat dipergunakan sesuai dengan kebutuhannya.

Read more


News

PPA&K MENYELENGGARAKAN DIKLAT SERTIFIKASI QRMO OKTOBER 2022

25 Oct 2022

Pada aktivitas perusahaan, ada yang dinamakan peluang dan risiko. Peluang adalah sebuah kesempatan untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan risiko adalah sesuatu yang bisa berdampak buruk bagi keberlangsungan perusahaan. Adanya hal tersebut membuat pelaku usaha harus memahami manajemen risiko agar bisa mengatur strategi dan menerapkan kebijakan untuk meminimalisir suatu hal yang menurunkan kualitas perusahaan. 

PPA&K sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) menyediakan berbagai diklat, salah satunya Diklat Sertifikasi Manajemen Risiko. Pada bulan Oktober 2022 PPA&K menyelenggarakan Diklat yang ditujukan bagi entry level dan staf yang berfungsi sebagai Risk Officer tingkat mula atau disebut Diklat  Sertifikasi Qualified Risk Management Officer (QRMO). Tujuan diadakannya diklat ini adalah untuk memberikan pemahaman dalam mengidentifikasi, mengukur, memetakan, memonitor, dan mengendalikan penanganan risiko di sebuah perusahaan. Kegiatan tersebut dilangsungkan secara tatap muka di Dafam Fortuna Malioboro, Yogyakarta. 

Pada Diklat Manajemen Risiko ini diikuti oleh peserta yang berasal dari Inspektorat Daerah Provinsi Kalimantan Timur, PT LPP Agro Nusantara, dan PT Sawit Sumbermas Sarana, Tbk. Peserta dijadwalkan mengikuti diklat sampai tanggal 20 Oktober 2022. Selama mengikuti diklat, peserta sangat antusias untuk berdiskusi dengan para pengajar yang berpengalaman di bidang Manajemen Risiko. 

Setelah diklat selesai, peserta dijadwalkan mengikuti uji kompetensi untuk mendapat gelar QRMO oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Mitra Kalyana Sejahtera (LSP MKS) pada 21 Oktober 2022. Diharapkan setelah mengikuti sertifikasi ini para peserta dapat menerapkan ilmu yang telah di dapat untuk efektifitas perusahaan.

Read more

PPA&K DIPERCAYA MENJADI PENYELENGGARA IN HOUSE TRAINING BALAI PELATIHAN KESEHATAN CIKARANG 

19 Oct 2022

Membangun sebuah instansi menjadi lebih baik adalah sebuah keharusan bagi orang-orang yang terlibat didalamnya, untuk itu dibutuhkan sebuah tata kelola agar instansi tersebut bisa mencapai tujuannya. PPA&K kerap dipercaya oleh perusahaan besar untuk menyelenggarakan In House Training (IHT) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari sebuah perusahaan. Pada kesempatan kali ini, Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang mempercayakan IHT Satuan Kepatuhan Intern (SKI) dan IHT Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) diselenggarakan oleh PPA&K mulai dari 19 sampai 21 Oktober 2022 di Park Hotel, Jakarta. 

Kerjasama antara Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang dengan PPA&K sudah terjalin cukup lama. Begitu pula dengan penyelenggaraan IHT bukan kali pertama, hal ini diungkap oleh Bapak Supriyadi, Direktur Utama PPA&K. 

“Sudah dua tahun kita tidak bertemu, terima kasih karena untuk kesekian kalinya mempercayakan In House Training untuk diselenggarakan PPA&K,” ujar Bapak Supriyadi pada pembukaan IHT. 

Tujuan dari IHT SKI adalah membekali peserta diklat dengan pengetahuan mengenai pemantauan dan evaluasi tata kelola unit kerja, pemantauan dan evaluasi manajemen risiko, pemantauan dan evaluasi pengendalian intern. Sedangkan IHT LAKIP berjutuan untuk untuk membekali peserta diklat dengan pengetahuan mengenai bagaimana perencanaan strategi sektor private dan publik, keterkaitan manajemen kinerja dengan perencanaan strategi, indikator kinerja, penyusunan LAKIP dan manajemen kinerja. 

Disampaikan oleh Ketua Balai Pelatihan Kesehatan, Bapak Suherman, mengenai SKI dan LAKIP adalah hal yang yang wajib dipahami dalam mengelola sebuah instansi. Terkait dengan LAKIP bukan hanya sekadar program kegiatan dan anggaran saja, melainkan soal target dan bagaimana hasil dari apa yang telah dibuat akan dinilai. 

“Itu semua akan dituangkan dalam bagian dari kinerja. Perjanjian kinerja ini harus dipertanggungjawabkan di setiap kegiatan,” ujar Bapak Suherman. 

Mengenai SKI, Bapak Suherman menjelaskan bahwa itu adalah hal yang menunjang dari sisi managerial sebagai social control. Sangat lah penting untuk dipahami agar saat ada kesalahan sekecil apapun dapat langsung ditindaklanjuti. Hal ini lah yang membuat Balai Pelatihan Kesehatan menilih PPA&K sebagai penyelenggara IHT. 

“karena itu penting dan kita sudah bersinergi maka pilihan yang tepat untuk meminta PPA&K menyelenggarakan pelatihan seperti ini karena materi yang diberikan nanti saya lihat sudah sesuai,” tutupnya.

Read more

DIKLAT KORPRASI TATAP MUKA PADA OKTOBER 2022

17 Oct 2022

Pada dunia kerja tentunya kita membutuhkan pengembangan pengetahuan dan peningkatan keterampilan. Seorang pegawai biasanya akan mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) untuk meningkatkan kedua hal tersebut agar dapat mengerjakan tugasnya dengan maksimal.

PPA&K berkomitmen untuk menyelenggarakan Program Diklat setiap bulan, baik secara virtual maupun tatap muka. Diklat yang diselenggarakan secara tatap muka kali ini berlangsung di Hotel Green Forest, Bogor. 

Terdapat 3 program diklat yang berlangsung, yakni Diklat Dasar-Dasar Audit, Diklat Manajemen Kas, dan Diklat Kepala SPI.

Pada 14 Oktober 2022, dilakukan pembukaan diklat gelombang kedua yang diikuti oleh peserta dari Diklat Manajemen Kas dan Diklat Kepala SPI. Adapun yang mengikuti diklat ini berasal dari berbagai perusahaan, diantaranya PT Semen Baturaja (Persero) Tbk., PT Hutama Karya Infrastruktur, PT Krakatau Daya Listrik, Perumda PDAM Tirtamarta Yogyakarta? UIN Mataram, UIN Raden Intan Lampung, IAIN Sultan Amay Gorontalo, dan Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita

Pembukaan diklat dilakukan oleh Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriyadi. Beliau menyampaikan jika pada era yang semakin maju ini kita juga harus mengembangkan diri dengan mengikuti diklat. 

"Kebaharuan pasti terjadi. Maka dari itu, mari kita jalani diklat ini dengan penuh suka cita. Materi yang Bapak dan Ibu dapatkan sudah pasti materi terbaru dengan instruktur atau pengajar yang profesional dan berpengalaman," ujar Bapak Supriyadi. 

Sebelumnya telah dilakukan pembukaan diklat gelombang pertama pada 10 Oktober 2022 dengan diikuti peserta Diklat Dasar-Dasar Audit. Adapun dari Diklat ini direncanakan akan selesai pada 19 Oktober 2022. Sedangkan untuk Diklat Manajemen Kas dan Diklat Kepala SPI dijadwalkan akan selesai pada 16 Oktober 2022. Khusus Diklat Kepala SPI akan dilakukan uji kompetensi pada tanggal 18 Oktober 2022.

Read more

PPA&K TURUT SERTA PADA KONFERENSI NASIONAL IIA, IMPACTFUL INTERNAL AUDIT IN CHANGING WORLD

14 Oct 2022

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) turut serta dalam Konferensi Nasional yang diselenggarakan oleh Institute of Internal Auditors (IIA) Indonesia dengan tajuk “Impactful Internal Audit in Changing World”. Kegiatan ini dilaksanakan pada 12 sampai 13 Oktober 2022 secara tatap muka di Hotel Four Point by Sheraton, Bali.

Selama dua hari peserta konferensi menerima pemaparan yang diisi oleh lebih dari 20 orang pembicara dan presenter internasional yang membahas isu dan tren saat ini terutama yang berkaitan dengan ekonomi dan globalisasi. Hal itu demi mempersiapkan para professional dalam menghadapi tantangan global, digitalisasi ekonomi, dan teknologi baru.

Tidak hanya mengikuti sebagai peserta konferensi, PPA&K juga membuka stan yang mendukung kegiatan ini. Pada stan PPA&K para peserta konferensi dapat berkonsultasi mengenai pendidikan dan pelatihan terkait dengan bidang Auditor, Tata Kelola Perusahaan, Manajemen Resiko, Akuntansi, Keuangan, dan Perpajakan.

Sejalan dengan tajuk konferensi, PPA&K selalu beradaptasi dengan dunia yang semakin berkembang. Hal ini ditunjukkan dengan materi yang digunakan pada pendidikan dan pelatihan merupakan materi terbaru yang telah disesuaikan. Tidak hanya di bidang Auditor, pada bidang Tata Kelola Perusahaan, Manajemen Resiko, Akuntansi, Keuangan, dan Perpajakan juga diberlakukan hal yang sama.

Oleh karena itu, mari ikuti pendidikan dan pelatihan di PPA&K, To PRESENT The Future Today.

Read more


News

BULAN OKTOBER 2022, PPA&K KEMBALI MENYELENGGARAKAN DIKLAT KORPORASI

03 Oct 2022

Upaya sebuah perusahaan dalam mengembangkan kompetensi korporasi dan sumber daya manusia yang unggul diwujudkan dengan memberi kesempatan kepada para pegawainya untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan bidangnya. Hal ini lah yang membuat Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) konsisten dalam menyediakan ruang bagi para pegawai perusahaan untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapabilitasnya.

Melalui Zoom Meeting pada Senin, 3 Oktober 2022 pukul 08.00 WIB, PPA&K membuka kelas virtual yang terdiri dari kelas Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit, Diklat Pengelolaan Tugas-Tugas Audit, Diklat Qualified Risk Management Analyst (QRMA), dan Diklat Certified Governance Professional (CGP).  Secara keseluruhan peserta diklat berasal dari 11 perusahaan besar, diantaranya PT Pegadaian, Perusahaan Umum Daerah Air Minum Jaya (PAM Jaya), PT Jasa Raharja, PT Kereta Api Logistik, PT Kawasan Berikat Nusantara, PT Indonesia Power, PT Capital Life Syariah, PT Jakarta Tourisindo, PT Perkebunan Nusantara IX, RSAB Harapan Kita, dan RSUP Mohammad Hoesin Palembang.

Seperti biasa Direktur Utama PPA&K, Bapak Supriadi menyambut para peserta diklat dengan suka cita dan berharap apabila diklat telah selesai maka ilmu yang telah didapat bisa diterapkan untuk kelancaran perusahaan. Di sisi lain, diklat ini memiliki tujuan yang sama, yaitu agar peserta dapat mengembangkan diri demi bisa mempertahankan dan memajukan perusahaan serta untuk meminimalisir kesalahan dalam bekerja di perusahaan.

”Disini Bapak dan Ibu akan belajar sesuai dengan kebutuhannya. Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit akan mempelajari ilmu psikologi dan komunikasi yang harus dipahami oleh seorang auditor. Bagi Bapak Ibu yang mengambil Diklat Pengelolaan Tugas-Tugas Audit bisa belajar mengenai kepemimpinan, norma-norma, serta pengelolaan dalam proses audit. Jika Bapak dan Ibu mengambil Diklat QRMA sudah pasti akan belajar mengenai pelaksanaan proses manajemen resiko dan yang mengambil Diklat CGP akan mendapatkan materi bagaimana tata kelola sebuah perusahaan” ujar Bapak Supriyadi.

Adapun diklat yang akan dilakukan ini akan dilaksanakan pada waktu yang berbeda. Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit dilaksanakan pada tanggal 3 sampai 11 Oktober 2022. Kemudian Diklat Pengelolaan Tugas-Tugas Audit dilaksanakan pada tanggal 3 sampai 12 Oktober 2022. Sedangkan untuk Diklat QRMA dan Diklat CGP akan dilaksanakan pada tanggal 3 sampai 7 Oktober 2022. Sebelum dinyatakan lulus, maka peserta akan dievaluasi oleh PPA&K dengan melihat penilaian yang terdiri dari nilai harian dan ujian. Khusus untuk Diklat QRMA dan Diklat CGP CGP akan dievaluasi langsung oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Mitra Kalyana Sejahtera (LSP MKS) berdasarkan aktivitas harian dan hasil uji kompetensi. Selain itu, pada tanggal 12 Oktober nanti akan ada uji Audit Internal 3 Akuntansi dan Keuangan (Auditor Utama) oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Internal bagi peserta Diklat Pengelolaan Tugas-Tugas.

 

Read more

DIKLAT KORPORASI TATAP MUKA BULAN SEPTEMBER 2022 SUDAH DIBUKA

12 Sep 2022

Korporasi merupakan suatu badan usaha yang berjalan sesuai dengan regulasi yang sah dan melibatkan berbagai pihak demi kelangsungan hidupnya. Maka untuk menunjang hal tersebut dibutuhkan sebuah pelatihan khusus bagi para pegawainya agar kualitas suatu badan usaha bisa meningkat.

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) memiliki program Diklat Korporasi dengan tujuan menambah wawasan dan keterampilan peserta sehingga bisa menjadi lebih kompeten dan professional dalam menjalankan tugasnya di perusahaan. Selain dilaksanakan secara virtual, PPA&K juga menyelenggarakan Diklat Korporasi ini secara tatap muka yang rutin dilaksanakan setiap bulan.

Ada tiga Diklat Korporasi yang dibuka secara bersamaan pada 12 September 2022, antara lain Diklat Dasar-Dasar Audit, Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit dan Diklat Teknisi Akuntansi Dasar.  Waktu pelaksanaan masing – masing diklat berbeda, Diklat Dasar-Dasar Audit berlangsung pada 12 sampai 22 September 2022, Diklat Komunikasi dan Psikologi Audit berlangsung pada 12 sampai 21 September 2022 dan Diklat Teknis Akuntansi Dasar yang akan dilaksanakan pada 12 sampai 18 September 2022. Sedangan untuk Diklat Analisis Laporan Keuangan akan dibuka pada 16 September 2022 dan akan berlangsung sampai 20 September 2022 di Grand Forest Hotel, Bogor.

Secara keseluruhan, Diklat Korporasi ini diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai instansi/perusahaan, diantaranya Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Perumda Air Minum Kota Makassar, Perum Jasa Tirta II, Perumda Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara, PT BPD Lampung, PT Petrokimia Kayaku, Perusahaan Umum Daerah Air Minum Kota Surakarta, PT Semen Padang, PT Sinergi Perkebunan Nusantara dan PT Rumah Sakit Pelabuhan.

Bapak Supriyadi selaku Direktur Utama PPA&K menyampaikan harapan dalam sambutannya agar kegiatan Diklat Korporasi ini dapat berjalan dengan lancar dan peserta dapat menerapkan ilmu yang nantinya diperoleh ke dalam perusahaan masing - masing peserta.

“Mari Bapak dan Ibu semua kita semangat dalam menjalankan rangkaian diklat ini supaya saat kegiatan ini selesai maka akan bertambah pula sumber daya yang professional dan berkualitas,” kata Bapak Supriyadi.

Selama diklat berlangsung peserta akan dijadwalkan untuk menerima materi dari fasilitator yang berpengalaman sebagai praktisi dan akademisi di bidang audit dan keuangan. Kemudian peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan mengerjakan latihan soal. Diluar itu, PPA&K juga akan mengalokasikan 1 hari yang akan digunakan para peserta untuk kegiatan outing ke lokasi yang telah ditentukan, dengan tujuan penyegaran peserta ditengah mengikuti jadwal diklat yang begitu padat.

Read more

AUDITOR INSPEKTORAT PROVINSI PAPUA BARAT MENGIKUTI IN HOUSE TRAINING DASAR - DASAR AUDIT

09 Sep 2022

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) telah selesai menyelenggarakan In House Training (IHT) Dasar-Dasar Audit untuk para Auditor dari Inspektorat Provinsi Papua Barat. Pembukaan IHT telah dilakukan pada 29 Agustus 2022. Penyampaian Materi pada IHT ini disampaikan oleh fasilitator yang kredibel dan professional yaitu Bapak M. Sonhadi dan Bapak Tumpal Pakpahan, dimana keduanya merupakan praktisi dan akademisi di bidang Auditor Internal. Selain itu, mereka juga memiliki pengalaman bekerja pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

 

Penyampaian materi pada IHT ini disampaikan oleh fasilitator yang kredibel dan professional, Bapak M. Sonhadi yang memiliki pengalaman bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Bapak Tumpal Pakpahan yang berpengalaman sebagai seorang Akademisi di bidang Audit.

 

Sebelum membahas materi yang pertama, peserta diwajibkan untuk mengisi lembar pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman masing-masing perserta terhadap pengertian dasar audit, sistem pengendalian intern, teknik-teknik audit, penyusunan program kerja audit, kertas kerja audit, dan laporan hasil audit.

 

IHT Dasar-Dasar Audit berlangsung mulai tanggal 29 Agustus hingga 3 September 2022 di Grand Inna Malioboro, Yogyakarta. Selama lima hari mengikuti IHT, peserta tetap antusias untuk mendengarkan materi dari fasilitator dan aktif berdiskusi. Salah satu peserta IHT, Yohana Rante Tasak, menyampaikan besarnya antusias pesertatidak terlepas dari peran PPA&K yang telah menyelenggarakan IHT dengan baik, termasuk menghadirkan fasilitator yang benar-benar memiliki kapasitas ilmu yang luas dalam audit internal.

 

“Kami bersyukur mendapatkan fasilitator yang terbaik, yang mana fasilitator tersebut menyampaikan materi dengan sangat baik, dengan kata-kata yang mudah kami mengerti, dengan kata-kata sehari-hari, dan selalu menyelingi humor agar kami selama dikelas tidak mengantuk,” kata Yohana.

 

Harapan kedepan, Yohana ingin kembali mengikuti IHT lainnya dan PPA&K dapat menyelenggarakan kegiatan tersebut di Wilayah Papua Barat agar semakin banyak lagi peserta yang berkesempatan untuk ikut.

                                                                                                                                               

“Jika ada diklat kompetensi lainnya kami ingin ikut lagi untuk pengembangan kompetensi kami selanjutnya, menjadi auditor yang berintegritas, yang independent, yang objektif dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab,” tutupnya.

 

In House Training Dasar-Dasar Audit yang diselenggarakan oleh PPA&K merupakan pelatihan yang lakukan demi meningkatkan pemahaman dan kemampuan seorang auditor muda dalam melakukan kegiatan audit sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Setelah mengikuti dan dinyatakan lulus sebagai peserta IHT Dasar-Dasar Audit peserta bisa mengikuti diklat Audit Operasional, sebelum nantinya akan mengikuti sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk jenjang auditor melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Audit Internal (LSP-AI).

 

Read more

DIKLAT AUDIT DAN PENGELOLAAN KEUANGAN BLU BULAN AGUSTUS 2022 TELAH SELESAI

31 Aug 2022

Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) telah selesai menyelenggarakan Diklat Audit dan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) yang diikuti oleh peserta yang berasal dari BUMN, BUMD/Perseroda, swasta, institusi Pendidikan dan Rumah Sakit. Kegiatan ini dilaksanakan secara tatap muka di Padjadjaran Suite Resort & Convention Hotel, Bogor, Jawa Barat, mulai pada tanggal 15 Agustus hingga 25 Agustus 2022.

 

Tak hanya satu, PPA&K membuat beberapa Diklat terselenggara bersama, diantaranya: Diklat Dasar-Dasar Audit, Diklat Audit Operasional, Diklat Audit Kecurangan, Diklat Khusus bagi Kepala Satuan Pengawas Internal (KA SPI), Diklat Penulisan Laporan Hasil Audit yang Efektif (PLHAE), dan Diklat Piutang BLU.

 

Peserta diklat turut antusias karena dibekali oleh pengajar yang berpengalaman sebagai dosen Politeknik Keuangan Negara STAN, berpengalaman sebagai auditor pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Republik Indonesia (BPKP-RI), serta para praktisi lain yang kompeten di bidang audit. Antusiasme peserta diklat ditunjukkan dengan semangatnya saat mengikuti diskusi dan pembelajaran sehingga dinyatakan lulus dengan nilai yang baik.

 

Rangkaian diklat ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan dari peserta dan diumumkannya peserta terbaik atau terfavorit selama diklat. Adanya diklat ini membuat pemahaman para peserta bertambah dan diharapkan hal itu akan diimplementasikan di instansi/perusahaan tempat para peserta bekerja.  

 

Setelah melalui rangkaian diklat, bagi peserta yang telah menyelesaikan Diklat Audit Operasional dan memenuhi syarat dilakukan uji kompetensi Auditor Internal 1 (Muda) sedangkan peserta yang telah menyelesaikan Diklat Audit Kecurangan dan memenuhi syarat dilakukan uji kompetensi Auditor Internal 2 (Madya). Bagi peserta yang telah menyelesaikan Diklat Khusus bagi Kepala Satuan Pengawas Internal (KA SPI) dilakukan uji kompetensi Pengelolaan Satuan Pengawas Internal. Masing-masing uji kompetensi tersebut dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Auditor Internal (LSPAI).

 

Read more


News

KINERJA (PERFORMANCE)

21 Aug 2022

KERANGKA KOMPETENSI AUDITOR INTERNAL 2

KINERJA (PERFORMANCE)

Auditor Internal merupakan profesi yang memberikan kontribusi melalui pemberian keyakinan yang memadai (asurans) atas informasi yang diterima Direksi serta memberikan layanan jasa konsutansi kepada mitra dalam organisasi ketika membutuhkan dalam kerangka untuk peningkatan pengelolaan serta memberikan nilai tambah. Kemampuan auditor menjalankan perannya ini akan sangat berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Dengan melaksanakan pekerjaan sebagai auditor dengan menerapkan kompetensi ditetapkan akan menghasilkan kinerja sesuai dengan standar profesi.

Kompetensi terkait kinerja auditor adalah kompetensi yang dibutuhkan untuk merencanakan dan melaksanakan penugasan audit internal yang sesuai dengan standar profesi. Kompetensi yang berkaitan dengan kinerja berikut ini.

No Pengetahuan Uraian terkait pengetahuan
1 Tata Kelola Organisasi Tata kelola organisasi adalah pemahaman mengenai proses pengelolaan organisasi dimana auditor bekerja
2 Fraud - tindak kecurangan Segala aktivitas yang illegal berupa penipuan, tersembunyi, yang merusak kepercayaan, yang dilakukan untuk mendapatkan kekayaan, properti, atau menghindari pembayaan untuk kepentingan pihak tertentu
3 Manajemen Risiko Kompetensi mengenai pengelolaan risiko mulai dari proses identifikasi, analisis, evaluasi, dan penanganan risiko yang berpotensi mengganggu pencapaian tujuan
4 Pengendalian Internal Kompetensi mengenai pengendalian internal adalah pengetahuan mengenai proses yang dijalankan oleh pimpinan dan seluruh personil dalam perusahaan untuk mencapai tujuan
5 Perencanaan penugasan:
  • Tujuan dan ruang lingkup
  • Penilaian risiko
  • Program kerja, dan
  • Sumber daya
Pengetahuan mengenai perencanaan penugasan adalah pengetahuan berkaitan dengan pedoman pelaksanaan pekerjaan audit sesuai dengan standar 2200 - Perencanaan Penugasan
6 Pelaksanaan penugasan:
  • Perolehan informasi
  • Sampel
  • Teknik audit berbantuan komputer
  • Data analitis
  • Bukti audit
  • Pemetaan proses
  • Review analitis, dan
  • Dokumentasi penugasan
Kompetensi atas pengetahuan terkait dengan pelaksanaan penugasan sebagaimana dirumuskan dalam standar 2300 – pelaksanaan penugasan
7 Hasil penugasan
  • Kualitas komunikasi
  • Simpulan
  • Rekomendasi
  • Pelaporan
  • Risiko residu dan penerimaan risiko
  • Rencana tindak lanjut, dan
  • Hasil pemantauan
Kompetensi berkaitan dengan pelaksanaan penyusunan laporan hasil penugasan (standar 2400) dan pemantauan tindak lanjut hasil penugasan (standar 2500)

Ketujuh pengetahuan mengenai pelaksanaan penugasan ini sangat menunjang keberhasilan dalam menjalankan peran memberikan asurans serta mendukung pelaksanaan konsultansi.

Tingkatan pemahaman untuk tiap pengetahuan terkait pelaksanaan penugasan pada tingkatan penguasaan terurai berikut ini.

No Pengetahuan General Awareness Applied Knowledge Expert
1 Tata Kelola Organisasi Menjelaskan konsep pengelolaan organisasi Melakukan deteksi berkaitan dengan kebijakan tata kelola, penerapan tata kelola, dan struktur proses tata kelola Memberikan rekomendasi untuk perbaikan dan peningkatan terkait kebijakan, proses, dan struktur tata kelola organisasi
2 Fraud - tindak kecurangan Mengetahui mengenai berbagai jenis tindak kecurangan, risiko kecurangan, dan memahami tanda indikasi terjadinya tindak kecurangan (red flag) Melakukann evaluasi mengenai potensi terjadinya kejahatan dan bagaimana organisasi mendeteksi dan mengelola risiko fraud, menyusun rekomendasi untuk melindungi dan mendeteksi fraud, dan mengedukasi untuk peningkatan kesadaran akan tindakan fraud Menerapkan teknik audit forensik dalam pencegahan dan pendeteksian fraud
3 Manajemen Risiko Mampu menjelaskan konsep dasar mengenai risiko dan pengelolaan risiko; menjelaskan kerangka kerja pengelolaan manajemen risiko Menggunakan kerangka kerja pengelolaan risiko dalam mengidentifikasi potensi tantangan, menilai efektifitas manajemen risiko dalam proses dan fungsi Mampu melakukan penilaian efektifitas identifikasi dan pengelolaan risiko
4 Pengendalian Internal Mampu mengindentifikasi jenis pengendalian Mampu menggunakan kerangka kerja untuk menilai efektifitas dan efisiensi pengendalian internal Melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi pengembangan pengendalian internal; melakukan penilaian atas implementasi pengendalian internal
5 Perencanaan penugasan:
  • Tujuan dan ruang lingkup
  • Penilaian risiko
  • Program kerja, dan
  • Sumber daya
Menjelaskan peran dan aktivitas utama dalam menetapkan tujuan, evaluasi kriteria, dan ruang lingkup penugasan Menentukan tujuan, evaluasi kriteria, dan lingkup penugasan Melakukan evaluasi atas tujuan dan ruang lingkup untuk peningkatan kualitas penugasan
Menjelaskan tujuan dalam melaksanakan asesmen risiko selama peencanaan penugasan Menyelesaikan penilaian risiko secara detail termasuk penetapan risiko dan pengendalian utama Melakukan evaluasi kualitas proses manajemen risiko selama penugasan
Mampu menjelaskan tujuan dari program kerja penugasan Mampu melakukan penyusunan program kerja penugasan Mampu melakukan penilaian atas kualitas program kerja penugasan
Mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi perencanaan kebutuhan staf untuk melaksanakan penugasan dan mampu melakukan penyusunan rencana penggunaan sumber daya lainnya terkait penugasan Mampu menetapkan jumlah staf yang dibutuhkan dan sumber daya dalam penugasan Mampu melakukan evaluasi atas penggunaan staf auditor dan sumber daya lain dalam penugasan
6 Pelaksanaan penugasan:
  • Perolehan informasi
  • Sampel
  • Teknik audit berbantuan komputer
  • Data analitis
  • Bukti audit
  • Pemetaan proses
  • Review analitis, dan
  • Dokumentasi penugasan
Mampu menjelaskan tujuan survey pendahuluan dalam penugasan, penggunaan checklist, dan kuesioner terkait risiko-kontrol Mampu melaksanakan survey pendahuluan terkait lingkup penugasan, menyusun dan mengembangkan kuesioner serta checklist terkait risiko-kontrol serta mampu melakukan pemeriksaan informasi yang relevan selama penugasan Mampu melakukan evaluasi atas aktivitas pengumpulan data dan informasi terkait penugasan
Menjelaskan berbagai pendekatan dalam penetapan jumlah sampel termasuk kelebihan dan kekurangannya Mampu menerapkan teknik sampel yang sesuai Mampu melakukan evaluasi atas kegiatan penetapan sampel dalam proses penugasan
Mampu menjelaskan tujuan, kelebihan, dan kekurangan penggunaan teknik audit berbantuan computer Mampu menggunakan teknologi audit berbantuan computer Mampu melakukan evaluasi atas penggunaan teknologi audit berbantuan komputer selama proses penugasan
Menjelaskan analisis data, proses analisis data, dan penerapan analisis data dalam pekerjaan audit internal Mampu menggunakan teknik analisis data Melakukan evaluasi atas penggunaan analisis data dalam pekerjaan audit internal
Mampu mengidentifikasi sumber-sumber potensial untuk perolehan bukti audit Mampu melakukan evaluasi atas kesesuaian, kecukupan, dan keandalan sumber potensial terkait bukti Mampu mengembangkan pedoman untuk dijadikan dasar mengenai kesesuaian, kecukupan, dan kehandalan bukti
Mampu menjelaskan tujuan, kelebihan, dan kekurangan teknik audit yang melakukan pembandingan Mampu menerapkan pendekatan analitis yang sesuai dan teknik pembandingan proses Mampu melakukan evaluasi efektifitas pelaksanaan teknik audit mapping process
Mampu menjelaskan tujuan, kelebihan dan kekurangan dari berbagai teknik analisis review Mampu menentukan dan Menerapkan teknik analisis review yang sesuai Mampu melakukan evaluasi atas penggunaan teknik analisis review selama proses penugasan
Mampu menjelaskan mengenai pentingnya dokumentasi kertas kerja terkait penugasan Mampu menyusun kertas kerja penugasan dan mendokumentasikan Mampu melakukan evaluasi atas dokumentasi penugasan
7 Hasil penugasan
  • Kualitas komunikasi
  • Simpulan
  • Rekomendasi
  • Pelaporan
  • Risiko residu dan penerimaan risiko
  • Rencana tindak lanjut, dan
  • Hasil pemantauan
Mampu menjelaskan elemen dari laporan hasil penugasan Mampu menunjukkan komunikasi hasil penugasan yang berkualitas, termasuk dalam komunikasi pendahuluan dengan klien penugasan Mampu melakukan evaluasi atas dokumen komunikasi hasil penugasan
Mampu menentukan elemen dari simpulan hasil penugasan Mampu menyusun dan mengembangkan simpulan hasil penugasan Mampu melakukan evaluasi atas simpulan hasil penugasan
Mampu menjelaskan pentingnya menyajikan rekomendasi Mampu merumuskan rekomendasi yang menjaga dan meningkatkan nilai organisasi Mampu melakukan evaluasi atas rekomendasi penugasan
Menjelaskan proses penyusunan dan penyampaian pelaporan Mampu melakukan penyusunan laporan antara, laporan akhir, perolehan persetujuan, serta melakukan distribusi kepada pihak terkait Melakukan review dan memberikan persetujuan atas laporan penugasan termasuk distribusi laporan hasil penugasan
Mampu menjelaskan tanggung jawab Kepala Audit Internal dalam mengidentifikasi dan menilai risiko sisa (residual risk) dan proses untuk mengkomunikasikan risiko yang diterima manajemen Mampu melakukan identifikasi risiko residu Melakukan penilaian dampak dari resiko sisa serta mengkomunikasikan kepada para pihak yang berkepentingan
Mampu menjelaskan hasil penugasan dan menjelaskan tujuand dari pelaksanaan tindak lanjut Melakukan penilaian atas hasil penugasan, termasuk rencana tindak lanjut Mampu melakukan evaluasi atas hasil penugasan yang dilakukan oleh unit audit internal
Mampu menjelaskan pentingnya pemantauan dan pelaksanaan tindak lanjut berdasar disposisi dari hasil penugasan Mampu melakukan pemantauan dan pelaksanaan tindak lanjut hasil penugasan untuk kemudian dikomunikasikan kepada manajemen dan direksi Mampu melakukan evaluasi atas proses pemantauan dan pelaksanaan tindak lanjut hasil penugasan.

Demikian uraian mengenai kompetensi auditor internal dalam bagian kedua yang berisikan mengenai bagaimana pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan ketentuan dalam standar. Kemudian juga diuraikan mengenai pelaksanaan pengetahuan terkait pelaksanaan penugasan untuk setiap jenjang kualifikasi dari auditor tersebut.

Bagaimana penguasaan kompetensi anda semua terkait pelaksanaan pekerjaan auditor internal ini?

Read more

PROFESIONALISME

14 Aug 2022

KERANGKA KOMPETENSI AUDITOR INTERNAL 1

PROFESIONALISME

Profesional merupakan pelaksana atau orang yang memenuhi kualifikasi dalam satu profesi. Profesional merupakan atribut atau kelengkapan yang harus dikuasai oleh orang yang menjalani profesi tersebut. Demikian juga dengan auditor internal yang profesional.

Auditor internal yang profesional adalah auditor internal yang memiliki kompetensi sesuai dengan yang dibutuhkan. Kompetensi terkait profesionalisme adalah kompetensi utama yang dibutuhkan untuk menunjukkan kewenangan, kredibilitas, perilaku etis terkait pelaksanaan audit internal. Profesional ini berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan yang melekat dalam diri auditor.

Pengetahuan berikut ini menunjang dan berkaitan dengan profesionalitas auditor internal menurut kerangka kompetensi tahun 2020.

No Pengetahuan Uraian terkait pengetahuan
1 Misi Audit Internal Misi Audit Internal yang dirumuskan oleh IIA Global dalam IPPF:
To enhance and protect organizational value by providing risk-based and objective assurance, advice, and insight
2 Piagam Audit Internal Piagam audit internal menurut standar 1000 IPPF:
The internal audit charter is a formal document that defines the internal audit activity's purpose, authority, and responsibility. The internal audit charter establishes the internal audit activity's position within the organization, including the nature of the chief audit executive’s functional reporting relationship with the board; authorizes access to records, personnel, and physical properties relevant to the performance of engagements; and defines the scope of internal audit activities.
3 Independensi Organisasi Independensi Organisasi menurut standar 1110 IPPF:
Organizational independence is effectively achieved when the chief audit executive reports functionally to the board.
4 Individual Objectivity Obyektivitas Individu menurut standar 1120 IPPF:
Internal auditors must have an impartial, unbiased attitude and avoid any conflict of interest
5 Ethical Behavior Kode Etik menurut IPPF:
  1. Integrity
  2. Objectivity
  3. Confidentiality
  4. Competence
6 Due Professional Care Due Professional Care menurut standar 1220 IPPF:
Internal auditors must apply the care and skill expected of a reasonably prudent and competent internal auditor. Due professional care does not imply infallibility
7 Professional Development Professional Development menurut standar 1230 IPPF:
Internal auditors must enhance their knowledge, skills, and other competencies through continuing professional development

Dari rangkaian pengetahuan-pengetahuan ini berasal dari international professional practice framework (IPPF). Pengetahuan-pengetahuan ini akan membentuk sikap profesional para auditor internal.

Tingkat pemahaman dan penguasaan serta penerapan pengetahuan ini akan mencerminkan tingkatan auditornya. Sesuai dengan kerangka kompetensi maka terdapat tiga tingkatan auditor yaitu: general awareness (entry level); applied knowledge; dan expert. Distribusi penguasaan pengetahuan untuk tiap pengetahuan berkaitan dengan profesionalitas berikut ini.

No Pengetahuan General Awareness Applied Knowledge Expert
1 Misi Audit Internal Mengetahui mengenai tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab unit audit internal serta mampu membedakan antara peran asurans dan konsultansi Menunjukan kemampuan untuk melaksanakan penugasan asurans dan konsutansi yang sesuai dengan ketentuan dalam standar Mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasional organisasi melalui pelaksanaan asurans dan konsultansi
2 Piagam Audit Internal Mampu menjelaskan mengenai piagam audit internal termasuk elemennya sesuai dengan standar Penyusunan piagam audit internal sesuai dengan standar dan mendapat persetujuan dari direksi Mampu melakukan evaluasi atas piagam audit internal sesuai dengan ketentuan dalam standar
3 Independensi Organisasi Mampu menjelaskan pentingnya independensi organisasi dan mampu mengidentifikasi elemen yang dapat berdampak pada tingkat independensi Mampu mendeteksi segala sesuatu yang dapat menyebabkan penurunan kualitas independensi organisasi berikut dengan dampak yang ditimbulkan Mampu menyampaikan berbagai hambatan dalam mencapai independensi sesuai dengan ketentuan standar dan mengkomunikasikan dampaknya kepada para pihak terkait
4 Individual Objectivity Mampu menjelaskan mengenai pentingnya obyektifitas bagi auditor internal serta memiliki kemampuan mengidentifikasi faktor yang dapat menurunkan nilai atau kualitas obyektifitas Mampu mendeteksi dan mengelola berbagai kondisi yang dapat menurunkan nilai obyektifitas serta mampu mempertahankan sikap obyektif bagi auditor internal Mengembangkan dan mempertahankan kebijakan mengenai pengelolaan obyektifitas serta memberikan rekomendasi mengenai strategi untuk peningkatan obyektifitas
5 Ethical Behavior Mampu menjelaskan pentingnya kode etik bagi auditor internal serta menyebutkan kode etik bagi auditor internal Menunjukkan kepatuhan pada kode etik yang telah ditetapkan Melakukan penilaian atas kepatuhan terhadap kode etik; serta merekomendasikan strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan standar etika yang tertinggi bagi auditor internal dan fungsi audit internal
6 Due Professional Care Mampu menjelaskan konsep kehati-hatian secara profesional Melaksanakan prinsip kehati-hatian secara profesional Mampu melakukan evaluasi dan membuat simpulan atas kepatuhan pada prinsip kehati-hatian ini.
7 Professional Development Mengakui pengetahuan, keahlian, dan kompetensi lain merupakan sesuatu yang dibutuhkan dalam menjalankan tanggung jawab dalam fungsi audit internal dan mengakomodasi keperluan pendidikan pengembangan berkelanjutan. Menunjukan upaya peningkatan kompetensi melalui Program Pengembangan Profesional Berkelanjutan Melakukan penilaian atas kompetensi yang dibutuhkan dalam melaksanakan tanggungjawab menjalankan fungsi audit internal serta mendorong pengembangan auditor menjadi semakin profesional.

Demikian uraian mengenai kompetensi auditor internal bagian pertama yang menguraikan mengenai atribut-atribut profesional yang seharusnya melekat dalam diri auditor internal berikut dengan tingkat penguasaan materi dalam setiap tingkatan jabatannya.

Bagaimana penguasaan kompetensi anda semua terkait profesionalime  ini?

Read more

PENTINGNYA SEBUAH PERENCANAAN

03 Jul 2022

Dalam berbagai aspek kehidupan, Perencanaan memegang arti sangat penting. Berbagai pendapat para tokoh dunia mengenai pentingnya sebuah perencanaan berikut ini.

“Failing to plan is planning to fail – Allen Lakein – seorang American pakar dalam bidang pengelolaan waktu dari John Hopkins University Harvard Business School”

“A goal without a plan is just a wish – Antoine de Saint – Exupery – Seorang berkebangsaan Prancis,  Berprofesi sebagai Pilot dan juga penulis”

“Plans are nothing; planning is everything – Dwight D Eisenhower – Jenderal Angkatan Darat Komandan Sekutu di Eropa dan Presiden Amerika Serikat ke 34”

“By Failing to prepare, you are preparing to fail – Benjamin Franklin – Presiden Amerika Serikat ke 6”

“Plans are worthless, but planning is invaluable – Peter Drucker – Bapak Manajemen Modern”

Dalam berbagai ungkapan tadi dapat disimpulkan pentingnya sebuah proses perencanaan. Bahkan selembar rencana bahkan tidak memiliki arti jika tidak dikuti dengan proses atau kegiatan penyusunan rencana. Sebuah tujuan dan cita-cita yang hendak dicapai atau target yang ingin direalisasikan tanpa sebuah rencana adalah hanya sekedar impian.

Rencana dalam berbagai kajian Bahasa merupakan sebuah kata benda dalam hal ini adalah suatu produk yang berisikan rancangan yang hendak dicapai. Dalam Bahasa inggris mengutip dari oxford dictionary online, rencana (plan) merupakan “noun – something that you intend to do or achieve”.

Aktivitas untuk menyusun rencana adalah proses perencanaan atau planning. Dalam aktivitas ini terdapat proses penyusunan atau pembuatan rencana. Dalam proses perencanaan ini berbagai kondisi di masa depan dihadirkan sehingga para penyusun mendapat gambaran yang memadai mengenai kondisi yang akan dicapai di masa depan. “Planning is bringing the future into present so that you can do something about it now – Quote ini juga dirumuskan oleh Allen Lakein. Hal ini juga dinyatakan oleh Mahathir Mohamad “Planning means looking ahead”.

Perencanaan juga memegang peranan penting dalam aktivitas atau kegiatan yang akan dijalankan oleh auditor internal di masa depan. Perencanaan merupakan bentuk mitigasi dari risiko ketidakjelasan arah yang hendak dicapai di masa depan. Dalam rangkaian kegiatan auditor internal terdapat dua jenis perencanaan yang berkaitan dengan durasi waktu pelaksanaannya. Perencanaan yang pertama adalah perencanaan penugasan selama satu tahun atau lebih (annual plan). Termasuk dalam hal ini adalah proses penyusunan rencana strategis dengan durasi waktu lebih dari satu tahun.

Jenis perencanaan kedua adalah perencanaan penugasan (engagement planning). Perencanaan penugasan adalah tahapan yang harus dilakukan sebagai bentuk persiapan sebelum melaksanakan penugasan. Persiapan ini dilakukan baik untuk penugasan asurans maupun konsultansi. Dengan perencanaan penugasan maka proses pelaksanaan penugasan akan terarah dan mencapai hasil sesuai dengan yang ditetapkan dalam tujuan penugasan.

Selain memberi arah dan petunjuk untuk melaksanakan kegiatan selama kurun waktu tertentu, perencanaan juga merupakan suatu tools untuk melakukan pengendalian pada saat perencanaan telah diimplementasi menuju suatu pencapaian kinerja. Dengan pengendalian maka arah pencapaian sasaran dapat dijaga dan dalam hal terdapat deviasi antara yang direncanakan dengan yang terealisasi maka melalui penjelasan dapat dilakukan sebagai hasil dari pengendalian.

Perencanaan juga dapat merupakan suatu tools untuk melakukan penilaian. Media perencanaan merupakan sumber utama dalam penilaian atas efektifitas dan efisiensi pelaksanaan suatu kegiatan.

Perencanaan tanpa pelaksanaan merupakan sesuatu yang sia-sia.

Quotes berikut ini sangat memberikan inspirasi terkait pelaksanaan perencanaan menuju kesuksesan.

“Plan your work for today and every day, then work your plan – Margaret Thatcher – Perdana Menteri United Kingdom”

“Before anything else, preparation is the key success – Alexander Graham Bell Ilmuwan Amerika kelahiran Britania Raya Penemu Telepon”

“Plans are only good intentions, unless they immediately degenerate into hard work – Peter Drucker”,

“if Plan A fails, remember there are 25 more letters – Chris Guillebeau – Pengarang warga negara Amerika”.

Read more

STANDAR AUDIT INTERNAL - UKURAN MUTU BAGI PROFESIONAL DAN PRAKTISI AUDIT INTERNAL

26 Jun 2022

Fungsi audit internal pada saat ini sudah merupakan suatu profesi. Sebagai suatu profesi maka kontribusi dari auditor internal harus memiliki batasan mutu sesuai dengan yang dibutuhkan oleh para pengguna jasa auditor internal. Untuk dapat memberikan kontribusi dengan mutu sesuai harapan maka pelaksanaan pekerjaan memerlukan suatu standar. Standar menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki definisi ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan. Ukuran mutu ini akan menjadikan hasil pekerjaan auditor sesuai dengan ekspektasi dari para pemangku kepentingan khususnya pengguna laporan auditor.

Auditor internal dalam melaksanakan pekerjaan secara universal telah memiliki rumusan mengenai standar profesi. Standar profesi ini menjadi bagian dari kerangka kerja praktek profesional secara internasional – International Professional Practice Framework (IPPF). Standar ini dirumuskan oleh organisasi profesi yang menaungi para praktisi dan juga mitra dari profesi. IPPF untuk audit internal secara global dirumuskan oleh The Institute of Internal Auditor (IIA).

IIA menetapkan standar memiliki 4 (empat) fungsi. Ke empat fungsi ini antara lain:

  1. Sebagai pedoman yang harus dipatuhi berkaitan dengan hal-hal yang wajib dalam kerangka profesi (IPPF),
  2. Memberikan pedoman dan petunjuk untuk melaksanakan berbagai layanan audit internal yang memiliki nilai tambah,
  3. Standar sebagai dasar untuk melakukan evaluasi atas kinerja unit audit internal
  4. Dengan menerapkan standar, audit internal mendorong proses dan operasional organisasi menjadi lebih baik.

Penjelasan dari masing-masing fungsi berikut ini.

  1. Pedoman yang harus dipatuhi sebagai bagian dari pedoman wajib dalam kerangka profesi
    Standar audit merupakan bagian dari pedoman wajib yang harus dipatuhi. Pedoman wajib dalam IPPF ini antara lain: definisi dari pekerjaan audit internal, prinsip dasar, kode etik, dan standar. Dalam pedoman wajib ini mendefinisikan berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan audit internal termasuk infrastruktur yang harus disediakan dan interaksi dengan mitra kerja serta pemangku kepentingan.
    Pedoman wajib ini merupakan pedoman yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh auditor internal dan unit kerja audit internal.
  2. Memberikan pedoman dan petunjuk untuk melaksanakan berbagai layanan audit internal yang memiliki nilai tambah
    Auditor Internal dan mitra auditor memiliki ekspektasi yang sama yaitu pelaksanaan hasil pekerjaan audit internal memberikan kontribusi dalam perbaikan perusahaan secara keseluruhan. Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka auditor internal menetapkan pelaksanaan pekerjaan yang memiliki nilai tambah.
    Dalam mencapai pelayanan audit internal dengan nilai tambah, organisasi profesi merumuskan berbagai ketentuan yang meliputi infrastruktur dan pelaksanaan pekerjaan yang dapat memberikan nilai tambah bagi organisasi.
  3. Standar sebagai dasar untuk melakukan evaluasi atas kinerja unit audit internal
    Selain berfungsi sebagai pedoman bagi auditor dalam bekerja, maka standar juga berfungsi sebagai kriteria atau kondisi ideal untuk menilai pelaksanaan pekerjaan audit internal. Dalam evaluasi ini penilaian dilakukan dengan mengacu pada standar sehingga berkaitan dengan penilaian infrastruktur kelembagaan dan proses pelaksanaan pekerjaan auditor.
  4. Dengan menerapkan standar, audit internal mendorong proses dan operasional organisasi menjadi lebih baik
    Dengan melaksanakan fungsi sebagai audit internal yang berkualitas dan sesuai dengan standar profesi ini maka akan memberi dampak pada percepatan dan perbaikan berkelanjutan atas proses dan operasional organisasi menjadi lebih baik.

Standar audit internal ini dirumuskan oleh The International Internal Audit Standard Board (IIASB). IIASB merupakan satu organ yang menjadi bagian dari tata kelola IIA Global. Rumusan oleh IIASB ini kemudian sebelum diterbitkan dibahas dan disetujui oleh The International Professional Practice Framework Oversight Council (IPPFOC).

Sistematika Standar Audit Internal berikut ini.

Bagian Penjelasan
Standar

Pernyataan mengenai persyaratan minimal dalam pelaksanaan profesi audit internal yang kemudian juga dijadikan sebagai dasar dalam penilaian efektifitas kinerja dari unit audit internal ini. Standar ini terdiri dari dua kelompok besar yaitu standar atribut dan standar kinerja.

Standar atribut adalah Standar yang mencantumkan mengenai karakteristik organisasi yang harus dipenuhi atau diakomodasi dan para pihak yang terkait dengan pelaksanaan fungsi audit internal. Dalam standar, kelompok standar atribut merupakan standar yang dimulai dengan angka 1 dalam penetapan kode standar.

Standar kinerja adalah standar yang menjelaskan bagaimana pelaksanaan audit internal dan memberikan kriteria yang dapat digunakan dalam penilaian kinerja pelaksanaan audit internal. Kelompok standar kinerja dimulai dengan angka 2 dalam sistematika penomoran standar.

Interpretasi Dalam setiap standar, pada beberapa bagian dilengkapi dengan interpretasi yang memberikan penjelasan detail mengenai istilah atau konsep yang dicantumkan dalam standar. Interpretasi ini diberikan untuk memberikan batasan pengertian sehingga multi interpretasi tidak terjadi.
Glossary Standar juga dilengkapi dengan glossary atau penjelasan umum mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam standar. Dengan adanya glossary ini maka kesepemahaman global dapat tercapai dan silang pendapat karena perbedaan penafsiran tidak terjadi

Kemudian IIA Global juga sudah melengkapi standar ini dengan Pedoman Implementasi atas setiap standar. Dalam pedoman implementasi diuraikan mengenai bagaimana penerapan dan praktek dari standar tersebut. Dengan berbagai kelengkapan standar ini diharapkan unit / fungsi audit internal dapat melakukan penerapan standar baik melalui adopsi menjadi bagian dari infrastruktur unit kerja audit internal atau menyatakan langsung mengacu pada standar internasional.

Read more


News

PRINSIP-PRINSIP DASAR FUNGSI AUDIT INTERNAL (CORE PRINCIPLES)

19 Jun 2022

Tulisan ini masih merupakan rangkaian dari penulisan sebelumnya yang membahas mengenai standar profesi audit internal. Standar bersama dengan prinsip dasar dan kode etik serta definisi pekerjaan audit internal merupakan kelompok Pedoman yang wajib (mandatory) dipersiapkan dan dilaksanakan agar pelaksanaan pekerjaan audit internal efektif, efisien, dan sesuai dengan ekspektasi para pemangku kepentingan. Pada bagian ini akan diulas mengenai Prinsip-prinsip dasar.

Dalam glossary dinyatakan Core Principles merupakan:

“The Core Principles for the Professional Practice of Internal Auditing are the foundation for the International Professional Practices Framework and support internal audit effectiveness”.

Dari definisi tersebut tercantum jelas bahwa prinsip-prinsip ini merupakan basic atau foundation yang diyakini akan memberikan dasar bagaimana praktek audit internal ini akan efektif.

Prinsip dasar ini merupakan serangkaian kondisi dan infrastruktur yang harus disediakan agar dapat memberikan bukti nyata bahwa pelaksanaan fungsi audit internal ini akan efektif. Selain itu penerapan semua prinsip secara terintegrasi dan kohesif akan menjadikan fungsi audit internal selain efektif juga akan mencapai tingkat efisiensi yang paling maksimum. Hal ini tercantum dalam pengantar mengenai core principles.

Upaya untuk pemenuhan semua prinsip dasar ini merupakan suatu perjuangan jangka panjang karena harus meyakinkan semua pihak untuk membantu audit internal memenuhi sebagian atau seluruh prinsip. Dalam prinsip-prinsip tersebut, pada umumnya membutuhkan persetujuan dan kesediaan unit kerja lain untuk dapat memenuhinya. Cara untuk pemenuhannya bisa jadi sangat berbeda namun diharapkan semua prinsip ini hadir dan berfungsi serta saling berintegrasi. Ketidaktersediaan satu prinsip atau lebih akan dapat menjadikan fungsi audit internal tidak akan memberikan yang terbaik bagi organisasinya.

Prinsip-prinsip dasar ini terurai berikut.

Menunjukkan Integritas Audit Internal sebagai satu fungsi dan juga sebagai individu harus senantiasa menunjukkan integritas dalam aktivitas sehari-hari.
Menunjukkan Kompetensi dan Kehati-hatian/kecermatan secara professional Dalam memberikan jasa asurans dan juga konsultansi, Fungsi audit internal harus mampu menunjukkan kompetensi dalam menguasai permasalahan yang sedang direview serta dalam pelaksanaan pekerjaannnya harus dilaksanakan dengan penuh kecermatan dan kehati-hatian sebagaimana seorang professional.
Bertidak objektif dan bebas dari pengaruh pihak lain (independen) Pekerjaan berupa penilaian kesesuaian (asurans) yang dilakukan oleh auditor internal harus dilaksanakan dengan menjunjung tinggi obyektifitas dan terbebas dari pengaruh siapapun terutama pihak yang berkepentingan sehingga tidak terdapat konflik kepentingan. Pelaksanaan pekerjaan dengan obyektif ini akan memberikan keyakinan bahwa penilaian yang dilakukan adalah sesuai dan tanpa ada pengaruh dari siapapun.
Sejalan dengan strategi, tujuan, dan risiko organisasi Kontribusi hasil pekerjaan audit internal harus senantiasa searah dan sejalan dengan strategi, tujuan, sasaran, dan juga fokus pada risiko-risiko utama organisasi. Kesesuaian ini sangat penting dan menjadi fokus utama karena dengan demikian maka pencapaian kinerja organisasi secara keseluruhan telah diiringi dengan pelaksanaan asurans dan konsultansi di dalamnya.
Diposisikan secara memadai dan sumber dayanya tercukupi Unit kerja audit internal harus ditempatkan dalam posisi yang memungkinkan untuk menerapkan prinsip independensi. Penetapan tingkatan ini sangat krusial untuk memitigasi dari risiko hambatan struktural. Untuk itu diperlukan komitmen dari Direksi dan juga para manajemen senior mengenai posisi ini. Kemudian untuk dapat melaksanakan tugas-tugasnya, fungsi audit internal membutuhkan berbagai sumber daya seperti sumber daya auditor, anggaran, teknologi, dan sumber daya lain yang relevan. Dan seluruh kebutuhan ini hendaknya harus tercukupi dan dipenuhi oleh Direksi.
Menunjukkan hasil pekerjaan yang berkualitas melalui program penilaian dan pengembangan kualitas ini dilaksanakan secara berkelanjutan Kepala audit internal harus memprogramkan dan menjalankan program penilaian kualitas hasil pekerjaan audit internal dan dalam hal terdapat ketidaksesuaian maka terdapat program pengembangan yang berkelanjutan. Program ini dikenal dengan nama Quality Assurance and Improvement Program. Program ini merupakan program yang wajib dilaksanakan dan menjadi bagian dari standar atribut.

 

Mampu berkomunikasi secara efektif Pelaksanaan pekerjaan audit internal sangat membutuhkan interaksi dengan pihak terkait dalam organisasi. Untuk dapat melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan dan proses penilaian informasi dapat terjalin dengan baik, maka auditor harus mampun berkomunikasi secara efektif sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan penugasannya.
Menyajikan Asurans berbasis risiko Dalam melaksanakan penugasan asurans maka auditor harus fokus pada prioritas organisasi. Hal ini umumnya terjadi dalam situasi adanya keterbatasan sumber daya. Maka untuk dapat berkontribusi secara efektif dan sesuai dengan strategi organisasi, maka auditor harus melaksanakan penugasan dan program kerja dengan berbasis pada risiko.
Fokus pada wawasan, pro aktif, dan Fokus pada masa depan Dalam melaksanakan penilaian atas pelaksanaan pekerjaan, auditor juga diharapkan memberikan penilaian pada pelaksanaan tata kelola yang saat ini berjalan dan memberikan berbagai masukan untuk peningkatan proses atau insight. Auditor menjalankan peran melakukan penilaian kedalam ini sudah menjadi bagian dari inisiatif auditor dan dalam hal terdapat saran perbaikan maka bertujuan untuk menjadikan masa depan lebih baik, lebih efisien, dan lebih efektif.
Mendorong perbaikan organisasi Hasi pelaksanaan asurans dan konsultansi tidak hanya berfokus pada penilaian evaluasi kesesuaian melainkan juga harus berfokus pada pemberian saran-saran yang menjadi bagian dari perbaikan organisasi secara berkelanjutan.

Demikian semua pilar-pilar yang menjadi prinsip dasar bagi auditor internal dalam menjalankan perannya pada setiap organisasi. Pemenuhan prinsip-prinsip ini memerlukan waktu yang tidak sebentar serta membutuhkan infrastruktur dan program yang memadai.

PPAK siap menjadi mitra anda dalam mengelaborasi dan memenuhi infrastruktur prinsip-prinsip dasar in sehingga fungsi audit internal para mitra menjadi lebih efektif, efisien, dan berkualitas tinggi.

Read more

RAGAM KONSULTASI DALAM AUDIT INTERNAL

18 Apr 2022

Auditor Internal sesuai dengan definisinya pada saat ini melaksanakan dua kegiatan utama yaitu melakukan kegiatan assurance dan kegiatan konsultasi. Melalui dua kegiatan ini, auditor internal akan memberikan nilai tambah serta peningkatan dan perbaikan dalam operasional kegiatan perusahaan. Kegiatan assurance secara umum telah dimengerti dan diselenggarakan oleh unit kerja audit internal. Sementara itu tidak sedikit audit internal yang memerlukan penjelasan mengenai bentuk dan penyelenggaraan kegiatan konsultasi. Pada artikel ini akan disajikan mengenai segala hal mengenai Konsultasi.

Kegiatan konsultasi adalah aktivitas pemberian saran (advis) bagi klien atau unit kerja, dimana sifat dan ruang lingkup kegiatannya berdasarkan kesepakatan bersama antara auditor sebagai konsultan dan unit kerja dan/atau proses sebagai klien atau mitra, yang dimaksudkan untuk memberikan nilai tambah dan peningkatan dalam tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian tanpa auditor internal dipersepsikan menjadi penanggung jawab dari kegiatan. Inisiatif atas terselenggaranya kegiatan konsultasi ini dapat berasal dari auditor internal maupun dari unit kerja.

Kegiatan asurans dan konsultasi memiliki persamaan dan perbedaan.

Persamaan kedua kegiatan yang merupakan kontribusi dari unit kerja audit internal adalah memberikan nilai tambah dan peningkatan dalam kegiatan operasional. Kemudian semua kontribusi audit internal ini membantu organisasi mencapai tujuan melalui evaluasi dan peningkatan dalam pengelolaan risiko, pengendalian, dan tata kelola.

Hal yang membedakan antara asurans dengan konsultasi berikut ini:

  1. Para pihak yang terkait dengan kegiatan penugasan
    Dalam kegiatan asurans para pihak yang terkait penugasan ada tiga yaitu auditor internal sebagai pemberi asurans, Pimpinan organisasi sebagai pihak yang diberikan keyakinan oleh auditor, dan Unit kerja sebagai pihak yang direview.
    Dalam kegiatan konsultasi secara umum kegiatan terselenggara antara dua pihak yaitu pihak auditor sebagai konsultan dan pihak unit kerja sebagai klien.

  2. Penetapan tujuan dan ruang lingkup
    Dalam kegiatan asurans tujuan dan ruang lingkup kegiatan penugasan merupakan kewenangan auditor internal.
    Sedangkan dalam kegiatan konsultasi tujuan dan ruang lingkup merupakan kesepakatan kedua belah pihak yaitu konsultan dengan klien.

Kegiatan konsultasi sangat cair dan dapat beragam jenis bentuk pelaksanaannya. Bentuk kegiatan konsultasi adalah untuk memenuhi kebutuhan manajemen. Dan upaya pemenuhan kebutuhan manajemen atau unit kerja ini dapat terselenggara dalam berbagai bentuk baik kegiatan formal maupun kegiatan yang informal. Auditor Internal harus merespon semua permintaan kebutuhan manajemen ini baik secara formal maupun informal. Selain itu kegiatan konsultasi juga dapat terselenggara dengan auditor internal sebagai inisiatornya.

Ragam kegiatan konsultasi antara lain: 1) Pemberian saran dan masukan (advisory); 2) Peningkatan kompetensi melalui pemberian kegiatan pelatihan (training); dan 3) Bersama unit kerja melaksanakan suatu aktivitas sehingga aktivitas tersebut menjadi sesuai melalui fasilitasi.

  1. Pemberian saran dan masukan (advisory)
    Pada umumnya kegiatan konsultasi berupa pemberian masukan atau saran (advis). Inisiator kegiatan ini dapat dari audit internal sebagai konsultan maupun dari unit kerja atau klien.
    Unit kerja membutuhkan masukan dan saran dalam hal terdapat kebutuhan untuk peningkatan efektifitas dan efisiensi atas proses bisnis dan kegiatan tertentu. Ragam kegiatan konsultasi antara lain:
    • Permintaan saran dalam proses desain pengendalian atas suatu kegiatan unit kerja agar pengendaliannya efektif dan efisien,
    • Permintaan saran dalam pengembangan kebijakan dan prosedur unit kerja
    • Berpartisipasi dalam pemberian saran atas kegiatan proyek yang beresiko tinggi
    • Pemberian saran dalam hal terdapat permasalahan dalam pengamanan dan keberlangsungan kegiatan, dan
    • Pemberian saran dalam peningkatan kegiatan pengelolaan risiko organisasi.

    Konsultan dapat juga berinisiatif memberikan saran (advis) dalam hal auditor mendapatkan informasi yang berpotensi berpengaruh pada kegiatan unit kerja. Informasi ini bisa berbentuk regulasi baru, teknologi baru, perkembangan baru, risiko baru, dan berbagai hal lainnya.
  2. Peningkatan kompetensi melalui kegiatan pelatihan (training)
    Kegiatan konsultasi berikutnya adalah penyelenggaraan kegiatan pelatihan. Audit internal dengan pengalamannya selama ini memiliki berbagai pengetahuan termasuk yang spesifik termasuk pengetahuan yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan unit kerja. Bentuk pengetahuan antara lain pemahaman atas regulasi, penilaian dan pengelolaan risiko, serta berbagai aspek pengetahuan lainnya. Dan kemudian auditor internal sebagai konsultan memberikan edukasi melalui kegiatan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan dan peningkatan kompetensi dari unit kerja.
    Inisiator kegiatan pelatihan dapat melalui auditor dan juga unit kerja. Tema dan content pelatihan merupakan kesepakatan kedua belah pihak.
  3. Fasilitasi suatu kegiatan
    Kegiatan konsultasi berupa fasilitasi terlaksana dimana auditor bersama klien menjalankan kegiatan. Dengan kontribusi auditor melalui fasilitasi menjadikan kegiatan lebih baik dan lebih berkualitas. Berbagai jenis kegiatan yang umumnya dapat difasilitasi oleh auditor antara lain:
    • Fasilitasi pelaksanaan kegiatan penilaian risiko
    • Fasilitasi penilaian mandiri atas pengendalian
    • Fasilitasi dalam pekerjaan re-desain pengendalian dan juga kebijakan dan prosedur
    • Sebagai penghubung (liaison) antara manajemen dengan pihak eksternal seperti akuntan publik, pemerintah, dan mitra lain dalam pelaksanaan kegiatan tertentu
    • Melakukan fasilitasi dalam melakukan analisis dan investigasi pasca adanya kejadian yang berdampak signifikan karena kegiatan yang terhenti.

Semua informasi di atas merupakan ragam kegiatan terkait konsultasi. Semua kegiatan ini hendaknya terdokumentasi oleh unit kerja audit internal sebagai bentuk pelaksanaan kegiatan konsultasi terutama kegiatan yang belum tercantum dalam program kerja tahunan.

Read more

ASURANS, KONSULTASI, INDEPENDENSI, DAN OBYEKTIFITAS

12 Apr 2022

Lanjutan: Memposisikan Independensi dan Obyektifitas dengan Benar

Pada tahun 1999, The Institute of Internal Auditors (IIA) Global telah merumuskan aktivitas atau kegiatan audit internal secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu asurans dan konsultasi. Kegiatan audit internal didefinisikan sebagai aktivitas asurans dan konsultasi yang independen dan obyektif yang didesain untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasional organisasi. Dari definisi tersebut maka penyelenggaraan kegiatan asurans dan konsultasi akan efektif bila diselenggarakan secara independent dan obyektif.

Pada tulisan sebelumnya Bang Odit telah menyampaikan definisi dan positioning dari independen dan obyektif. Dan pada artikel ini akan disampaikan mengenai penerapan kedua hal ini khususnya dalam kegiatan asurans dan konsultasi. Independensi secara langsung tidak memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan asurans dan konsultasi karena berkaitan dengan positioning unit kerja audit internal dalam organisasi.

Kegiatan Asurans merupakan suatu proses pemeriksaan bukti secara obyektif dengan tujuan untuk memberikan penilaian yang independen atas tata kelola, manajemen risiko, dan proses pengendalian (GRC – governance, risk management, and control) dalam organisasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan dan tanggung jawab utama unit kerja audit internal dalam organisasi yaitu memberikan penilaian atas kesesuaian GRC dengan kriteria yang ideal untuk kemudian memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) kepada pihak yang berkaitan. Pelaksanaan kegiatan asurans sangat memerlukan posisi auditor yang obyektif. Dengan posisi auditor yang obyektif maka auditor tidak berada dalam konflik kepentingan dan hasil pelaksanaan kegiatan asurans dapat disajikan dengan keyakinan yang memadai dan tanpa keraguan.

Sedangkan kegiatan konsultasi adalah kegiatan pemberian saran atau advisory yang bentuk dan ruang lingkupnya disepakati bersama antara unit audit internal (sebagai konsultan) dengan unit kerja atau fungsi (sebagai klien) yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah dan peningkatan terkait GRC tanpa menjadikan audit internal sebagai penanggung jawab kegiatan tersebut. Kegiatan konsultasi ini dapat berbentuk pemberian saran atau nasihat, masukan, sebagai fasilitator, dan/atau melalui pelatihan. Kontribusi auditor internal dalam kegiatan konsultasi berpotensi dapat menurunkan nilai obyektifitas. Auditor internal harus berhati-hati dalam menjaga obyektifitas ini.

Penurunan Nilai Dalam Independensi dan Obyektifitas

Penurunan Nilai Independensi

Independensi akan mengalami permasalahan berbentuk penurunan dalam hal terdapat perubahan struktur organisasi. Independensi tercermin dari Unit Kerja Audit Internal secara struktur organisasi bertanggung jawab kepada Board of Directors atau dalam sistem korporasi Indonesia bertanggung jawab kepada Direksi dan juga Dewan Komisaris. Atasan langsung Audit Internal dalam Direksi pada umumnya adalah Direktur Utama. Independensi akan menurun nilainya jika Audit Internal bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit Kerja yang menjadi bagian dari Audit Universe yang merupakan Potensial Auditable Unit.

Penurunan Nilai Obyektifitas

Obyektifitas yang menjadi bagian integral dalam pelaksanaan kegiatan audit internal. Penurunan nilai akan terjadi atau diduga terjadi dalam hal:

Auditor sebelumnya menjadi bagian dari unit kerja yang akan menjadi obyek kegiatan asurans untuk kurun waktu satu tahun sebelumnya atau sesuai dengan ruang lingkup periode yang diaudit

Terdapat kedekatan personal yang relative dekat antara auditor dengan pimpinan atau penanggung jawab unit kerja yang akan di audit

Auditor internal terlalu cepat mengambil simpulan tanpa bukti yang memadai bahwa unit kerja yang diaudit telah efektif melakukan mitigasi risiko pada unit kerjanya

Auditor internal melakukan perubahan program kerja audit atau modifikasi hasil penugasan tanpa alasan dan bukti yang mendukung dan memadai.

Keterkaitan Penugasan Asurans, Konsultasi, dan Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap yang harus dipelihara oleh auditor dalam pelaksanaan penugasan khususnya pelaksanaan penugasan asurans. Sikap ini melekat dalam diri auditor internal. Untuk itu terdapat pengaturan untuk menjaga obyektifitas berikut ini.

Obyektifitas tidak akan terganggu dalam hal auditor melaksanakan tugas konsultasi setelah sebelumnya melakukan asurans.

Pimpinan unit kerja auditor internal harus berhati-hati dalam hal menugaskan auditor untuk melakukan kegiatan asurans setelah yang bersangkutan sebelumnya melakukan kegiatan konsultasi.

Kegiatan konsultasi sangat beragam dan untuk itu auditor internal harus melakukan kajian terkait adanya potensi pelemahan dalam obyektifitas.

Penegakan obyektifitas merupakan syarat utama dalam pelaksanan penugasan asurans sehingga hasil penugasannya akan efektif dan berkualitas.

Lanjutan: Memposisikan Independensi dan Obyektifitas dengan Benar

Pada tahun 1999, The Institute of Internal Auditors (IIA) Global telah merumuskan aktivitas atau kegiatan audit internal secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu asurans dan konsultasi. Kegiatan audit internal didefinisikan sebagai aktivitas asurans dan konsultasi yang independen dan obyektif yang didesain untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasional organisasi. Dari definisi tersebut maka penyelenggaraan kegiatan asurans dan konsultasi akan efektif bila diselenggarakan secara independent dan obyektif.

Pada tulisan sebelumnya Bang Odit telah menyampaikan definisi dan positioning dari independen dan obyektif. Dan pada artikel ini akan disampaikan mengenai penerapan kedua hal ini khususnya dalam kegiatan asurans dan konsultasi. Independensi secara langsung tidak memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan asurans dan konsultasi karena berkaitan dengan positioning unit kerja audit internal dalam organisasi.

Kegiatan Asurans merupakan suatu proses pemeriksaan bukti secara obyektif dengan tujuan untuk memberikan penilaian yang independen atas tata kelola, manajemen risiko, dan proses pengendalian (GRC – governance, risk management, and control) dalam organisasi. Kegiatan ini merupakan kegiatan dan tanggung jawab utama unit kerja audit internal dalam organisasi yaitu memberikan penilaian atas kesesuaian GRC dengan kriteria yang ideal untuk kemudian memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) kepada pihak yang berkaitan. Pelaksanaan kegiatan asurans sangat memerlukan posisi auditor yang obyektif. Dengan posisi auditor yang obyektif maka auditor tidak berada dalam konflik kepentingan dan hasil pelaksanaan kegiatan asurans dapat disajikan dengan keyakinan yang memadai dan tanpa keraguan.

Sedangkan kegiatan konsultasi adalah kegiatan pemberian saran atau advisory yang bentuk dan ruang lingkupnya disepakati bersama antara unit audit internal (sebagai konsultan) dengan unit kerja atau fungsi (sebagai klien) yang ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah dan peningkatan terkait GRC tanpa menjadikan audit internal sebagai penanggung jawab kegiatan tersebut. Kegiatan konsultasi ini dapat berbentuk pemberian saran atau nasihat, masukan, sebagai fasilitator, dan/atau melalui pelatihan. Kontribusi auditor internal dalam kegiatan konsultasi berpotensi dapat menurunkan nilai obyektifitas. Auditor internal harus berhati-hati dalam menjaga obyektifitas ini.

Penurunan Nilai Dalam Independensi dan Obyektifitas

Penurunan Nilai Independensi

Independensi akan mengalami permasalahan berbentuk penurunan dalam hal terdapat perubahan struktur organisasi. Independensi tercermin dari Unit Kerja Audit Internal secara struktur organisasi bertanggung jawab kepada Board of Directors atau dalam sistem korporasi Indonesia bertanggung jawab kepada Direksi dan juga Dewan Komisaris. Atasan langsung Audit Internal dalam Direksi pada umumnya adalah Direktur Utama. Independensi akan menurun nilainya jika Audit Internal bertanggung jawab kepada Pimpinan Unit Kerja yang menjadi bagian dari Audit Universe yang merupakan Potensial Auditable Unit.

Penurunan Nilai Obyektifitas

Obyektifitas yang menjadi bagian integral dalam pelaksanaan kegiatan audit internal. Penurunan nilai akan terjadi atau diduga terjadi dalam hal:

  • Auditor sebelumnya menjadi bagian dari unit kerja yang akan menjadi obyek kegiatan asurans untuk kurun waktu satu tahun sebelumnya atau sesuai dengan ruang lingkup periode yang diaudit
  • Terdapat kedekatan personal yang relative dekat antara auditor dengan pimpinan atau penanggung jawab unit kerja yang akan di audit
  • Auditor internal terlalu cepat mengambil simpulan tanpa bukti yang memadai bahwa unit kerja yang diaudit telah efektif melakukan mitigasi risiko pada unit kerjanya
  • Auditor internal melakukan perubahan program kerja audit atau modifikasi hasil penugasan tanpa alasan dan bukti yang mendukung dan memadai.

Keterkaitan Penugasan Asurans, Konsultasi, dan Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap yang harus dipelihara oleh auditor dalam pelaksanaan penugasan khususnya pelaksanaan penugasan asurans. Sikap ini melekat dalam diri auditor internal. Untuk itu terdapat pengaturan untuk menjaga obyektifitas berikut ini.

  1. Obyektifitas tidak akan terganggu dalam hal auditor melaksanakan tugas konsultasi setelah sebelumnya melakukan asurans.
  2. Pimpinan unit kerja auditor internal harus berhati-hati dalam hal menugaskan auditor untuk melakukan kegiatan asurans setelah yang bersangkutan sebelumnya melakukan kegiatan konsultasi
  3. Kegiatan konsultasi sangat beragam dan untuk itu auditor internal harus melakukan kajian terkait adanya potensi pelemahan dalam obyektifitas.

Penegakan obyektifitas merupakan syarat utama dalam pelaksanan penugasan asurans sehingga hasil penugasannya akan efektif dan berkualitas.

Read more

MEMPOSISIKAN INDEPENDENSI DAN OBYEKTIFITAS DENGAN BENAR

04 Apr 2022

Fungsi Audit Internal sering kali menyebut dirinya baik sebagai unit kerja dan juga auditornya harus senantiasa menjaga independen dan obyektifitas. Kedua istilah ini sering kali digunakan baik secara bersamaan maupun secara parsial yang pada umumnya untuk menyampaikan pesan pentingnya auditor internal untuk menjaga jarak dan tidak terlibat dalam kegiatan operasional unit kerja dalam organisasi. Atas nama Independensi dan obyektifitas juga sering kali auditor internal harus menahan diri untuk tidak terlibat dalam mendukung dan membantu unit kerja lain ketika membutuhkan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman teknis dari auditor internal.

Bagaimana IIA Global menetapkan pengaturan mengenai independensi dan obyektifitas sehingga tepat dalam penggunaannya. Kemudian bagaimana dengan pelaksanaan asurans dan konsultansi? Kerangka Profesional Praktek Internasional (international professional practice framework – IPPF) atas Audit Internal telah menetapkan dengan jelas mengenai Independensi dan Obyektifitas.  Ketentuan pengaturan mengenai Independensi dan Obyektifitas telah dirumuskan dalam:

Kode Etik – Obyektifitas

Prinsip Dasar – Independen dan Obyektif

Standar Atribut – Independensi dan Obyektifitas.

Pengaturan penggunaan diksi Independensi dan Obyektifitas sesuai dengan pengaturan IIA berikut ini. Acuan penggunaan diksi ini adalah Standar Atribut 1100 yang menyatakan:

“The Internal Audit Activity must be independent, and Internal Auditors must be Objective  in performing their work”

Independensi

Penggunaan kata Independensi adalah melekat pada unit kerja atau organisasi yang menjalankan fungsi audit internal (internal audit activity). Dalam menjalankan kegiatannya audit internal harus independen yang berarti bebas dari keadaan dan kondisi yang dapat mengancam kemampuan unit audit internal menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Pelaksanaan pekerjaan audit internal ini akan berpotensi terganggu dalam ketika berada di bawah koordinasi atau menjadi bawahan dari unit kerja yang menjadi bagian dari audit universe (semesta audit).

Semesta audit merupakan seluruh unit kerja dan/atau kegiatan dalam organisasi yang berpotensi menjadi unit kerja/kegiatan yang dapat diaudit oleh audit internal.

Dengan uraian ini maka penggunaan kata independensi akan tepat bila digunakan untuk audit internal sebagai unit kerja.

Obyektifitas

Obyektifitas merupakan sikap moral yang harus dijalankan oleh auditor internal sebagai personil dalam menjalankan kegiatan terkait fungsi audit internal. Obyektifitas merupakan sikap yang senantiasa tidak memihak dalam kegiatan mendapatkan, menganalisis, mengevaluasi, dan melaporkan informasi terkait penugasan yang dilakukan. Obyektifitas selain berada dalam proses penugasan juga menjadi bagian dari kode etik. Pelaksanaan obyektifitas dalam kode etik antara lain:

  • Tidak menjalankan kegiatan yang dapat menurunkan atau diasumsikan menurunkan penilaian yang seharusnya tidak bias serta yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan,
  • Tidak menerima apapun yang dapat menurunkan atau diasumsikan menurunkan pertimbangan profesional sebagai auditor, dan/atau
  • Akan mengungkapkan semua fakta terkait penugasan yang diketahui yang jika tidak diungkapkan akan menimbulkan penafsiran berbeda atas aktivitas yang sedang direview.

Dengan penjelasan ini maka penjelasan penggunaan kata Independensi dan Obyektifitas menjadi jelas. Independensi adalah melekat pada unit organisasi yang melaksanakan fungsi audit internal. Sedangkan Obyektifitas melekat pada auditor atau sumber daya manusia yang sedang menjalankan tugas sebagai auditor internal.

Pada tulisan berikutnya bang Odit akan menguraikan mengenai penerapan independensi dan obyektifitas pada asurans dan pelaksanaan konsultansi.

Read more


News

INTERNAL AUDIT CHARTER

30 Mar 2022

Internal Audit Charter pada saat ini secara umum sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari infrastruktur kelembagaan audit internal. Pada saat ini hampir seluruh unit audit internal telah memiliki Piagam atau Charter. Keberadaan piagam ini secara mendasar merupakan ketentuan infrastruktur yang menurut The Institute of Internal Auditors (IIA) Global harus dimiliki sebagai bagian dari penyelenggaraan fungsi audit internal. IIA telah merumuskan Piagam Audit Internal dalam kelompok standar atribut.

Standar atribut yang merumuskan Piagam tercantum dalam Standar 10000. Piagam Audit Internal (Internal Audit Charter) merupakan dokumen formal yang didalamnya mendefinisikan mengenai tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab unit kerja audit internal. Piagam juga menetapkan posisi unit kerja audit internal dalam organisasi, pola hubungan antara Kepala Audit Internal dengan Direksi dan juga Dewan Komisaris, kewenangan untuk mengakses catatan, personil, dan aset yang relevan dengan penugasan, serta piagam juga mendefinisikan mengenai ruang lingkup dari fungsi audit internal.

Dalam Supplemental Guidance, IIA Global telah menetapkan sejumlah ketentuan harus ada dan tercantum dalam Piagam Audit. Isi Piagam audit internal sesuai pedoman yang dirumuskan IIA Global berikut ini.

No Ketentuan Uraian
1 Misi dan Tujuan Misi unit kerja Audit Internal dirumuskan agar sesuai dengan misi IIA.
Tujuan unit kerja Audit Internal agar sejalan dengan tujuan profesi audit internal sebagaimana dirumuskan oleh IIA.
2 Standar Profesi Audit Internal Dalam piagam dicantumkan mengenai kerangka profesi berikut dengan standar yang menjadi acuan dalam pengelolaan audit internal.
3 Kewenangan Kewenangan ditetapkan dalam Piagam antara lain berkaitan dengan:
  • Kewenangan untuk berinteraksi dengan Direksi dan Dewan Komisaris
  • Kewenangan yang diterima dari Direksi dan Dewan Komisaris untuk mengakses informasi, mengelola unit kerja audit internal, dan kewenangan untuk mendapatkan asistensi dalam hal terdapat keterbatasan kompetensi
4 Independensi dan Obyektifitas Piagam Audit Internal menegaskan posisi Independensi dan senantiasa menjaga sikap obyektifitas
5 Ruang Lingkup Penegasan mengenai ruang lingkup audit internal
6 Tanggung Jawab Dalam bagian ini ditetapkan mengenai hal-hal yang menjadi tanggung jawab audit internal
7 Program Penjagaan dan Peningkatan Kualitas Piagam juga mencantumkan ketentuan mengenai pelaksanaan program Penjagaan dan Peningkatan Kualitas

Berdasarkan uraian di atas maka Piagam Audit Internal bukan sekedar dokumen biasa melainkan dokumen strategis yang menjelaskan mengenai infrastruktur unit kerja Audit Internal sebagaimana yang ditetapkan oleh IIA.

Bagaimana dengan Piagam Audit Internal anda? PPAK dan PT Bumi Pertiwi Mandiri siap membantu Bapak Ibu dalam mereview kesesuaian Internal Audit Charter yang telah dimiliki.

#bang Odit

Read more

LAPORAN AUDIT INTERNAL YANG BERKUALITAS

22 Mar 2022

Laporan hasil audit merupakan muara dari rangkaian pekerjaan penugasan audit internal. Rangkaian pekerjaan yang dimulai dari perencanaan tahunan, perencanaan penugasan, dan pelaksanaan penugasan. Semua simpulan yang diperoleh selam penugasan dituangkan dalam laporan. Laporan ini menjadi media komunikasi antara auditor, penanggung jawab proses bisnis, dan pimpinan organisasi.

Melalui penyampaian laporan maka kebutuhan akan informasi dari seluruh pihak yang berkaitan dapat terpenuhi. Auditor dapat menyampaikan informasi berkaitan pelaksanaan pekerjaan asurans dan/atau konsultansi yang dilakukan. Bagi penanggung jawab proses bisnis dan/atau penanggung jawab kegiatan, laporan ini merupakan simpulan atas kualitas pengelolaan kegiatan yang dijalankan. Saat yang sama bagi pimpinan organisasi laporan yang disampaikan merupakan pemberian keyakinan yang memadai yang disampaikan oleh auditor mengenai informasi dari unit kerja dalam organisasi yang menjadi bawahannya.

Laporan hasil pekerjaan ini merupakan media komunikasi. Standar profesi audit internal yang dirumuskan oleh organisasi profesi audit internal menetapkan standar yang mengatur mengenai penyampaian laporan hasil penugasan dengan nama standar komunikasi hasil penugasan. Dalam standar ini juga dirumuskan sejumlah parameter agar laporan hasil penugasan memiliki kualitas tinggi.

The Institute of Internal Auditors (IIA) Global menetapkan agar pekerjaan asurans dan/atau konsultansi yang telah dilakukan memiliki nilai strategis dan mampu memberikan nilai tambah serta mendapat perhatian yang memadai dari penerima laporan, maka laporan ini harus disajikan dengan kualitas tertentu. Laporan hasil penugasan atau komunikasi hasil penugasan harus memiliki sejumlah parameter agar dapat mencapai kualitas tertentu. Parameter laporan yang berkualitas  antara lain akurat, obyektif, jelas, ringkas, konstruktif, lengkap, dan tepat waktu.

Akurat

Laporan yang disampaikan harus bebas dari kesalahan serta informasi yang terkandung di dalamnya tidak menimbulkan multi tafsir dan distorsi.

Seluruh fakta yang disampaikan adalah fakta yang didukung bukti, mengandung unsur kebenaran yang sangat tinggi. Kemudian pengungkapan fakta harus menyeluruh sehingga terbebas dari distorsi karena multi tafsir.

Obyektif

Komunikasi yang obyektif adalah komunikasi yang disampaikan secara wajar, tidak memihak dan tidak bias yang dihasilkan dari proses penilaian yang seimbang dari seluruh fakta yang seimbang. Salah satu bentuk obyektifitas adalah fokus pada kekurangan yang dijumpai sebagai hasil dari pekerjaan asurans.

Jelas

Komunikasi yang jelas adalah komunikasi yang mudah dipahami dan logis, dan menghindari Bahasa teknis yang tidak perlu dan menyajikan semua informasi yang relevan dan signifikan.

Penggunaan Bahasa atau istilah yang terlalu teknis akan menimbulkan potensi ketidakjelasan dan distorsi.

Ringkas

adalah komunikasi yang langsung pada pokok permasalahan dan menghindari pengulangan Bahasa termasuk informasi yang tidak perlu, tidak signifikan, atau tidak berkaitan dengan penugasan.

Konstruktif

Laporan penugasan harus konstruktif melalui perumusan rekomendasi atas kesenjangan yang teridentifikasi antara kondisi yang ideal dengan fakta yang terjadi.

Dengan saran yang bersifat kontruktif ini menjadikan laporan hasil penugasan memiliki kontribusi dalam peningkatan baik dalam tata kelola, pengelolaan risiko, dan pengendalian.

Lengkap

Informasi yang disajikan dalam laporan lengkap dan tidak terdapat kekurangan fakta yang esensial. Dengan informasi yang lengkap ini para pembaca laporan akan mendapatkan simpulan yang sama dengan yang telah disimpulkan oleh audit internal.

Tepat Waktu

Laporan ini disajikan secara tepat waktu sesuai dengan kebutuhan. Fakta yang disajikan masih relevan antara saat kejadian dengan saat pelaporan. Kemudian unsur lainnya seperti sebab, akibat, dan rekomendasi juga disampaikan secara tepat waktu sehingga tindak lanjut yang dilakukan akan terlaksana sesuai dengan kebutuhan.

Demikian parameter-parameter dari Laporan Hasil Penugasan yang memiliki kualitas yang tinggi.

Bagaimana dengan Laporan Hasil Penugasan unit kerja audit internal anda semua?

Hubungi PPAK untuk bersama melakukan lokakarya dalam peningkatan kompetensi penyusunan laporan hasil penugasan yang berkualitas.

#bang Odit

Read more

AUDITOR IDENTIK DENGAN AKUNTAN?

14 Mar 2022

Saat ini adalah masih menjadi satu fakta bahwa profesi auditor ini identik dengan akuntan. Apakah fakta ini akurat dan sesuai? Jawabannya bisa sesuai dan bisa juga tidak sepenuhnya sesuai.

Profesi auditor, khususnya auditor keuangan menjadi pendapat umum karena secara sejarah formal profesi auditor yang berkontribusi dalam perekonomian adalah keberadaan akuntan publik. Akuntan publik hadir dan menjadi bagian dalam dunia bisnis ketika terjadi problem klasik yang sampai dengan saat ini relevan yaitu problem keagenan (agency problem).

Agency problem merupakan permasalahan dalam bentuk informasi yang tidak simetris (assymetric information). Informasi yang tidak simetris terjadi ketika satu informasi tidak sepenuhnya dipercaya oleh pihak lain yang sangat terkait. Informasi yang tidak simetris dalam hal ini adalah ketika Direksi yang menerima mandat dari pemegang saham menyampaikan informasi mengenai kinerja yang berhasil dicapai kepada pemegang saham. Informasi ini dituangkan dalam Laporan keuangan yang disusun menggunakan standar akuntansi keuangan yang diterima secara umum (general accepted). Pemegang saham tidak langsung percaya dengan informasi yang diterima sehingga terjadi ketidaksesuaian atau assymetric information.

Untuk mengatasi distorsi ini maka pihak yang memiliki kompetensi dalam penyusunan laporan keuangan diminta untuk memberikan pendapat secara profesional mengenai kewajaran dari Informasi yang disajikan oleh Direksi. Hasil audit yang dilakukan secara independen, obyektif, dan kompeten oleh akuntan ini akan menjadikan informasi yang disajikan diterima semua pihak termasuk pemegang saham dan pihak pemangku kepentingan.

Fakta ini kemudian mendunia dan menjadi pendapat umum bahwa auditor itu identik dengan akuntan. Fakta ini benar dalam hal audit keuangan untuk menilai kewajaran laporan keuangan dilakukan oleh akuntan publik. Pendapat ini kemudian menjadi pendapat umum bahkan sampai ke ranah audit internal. Dalam ranah audit internal ternyata memiliki cerita yang berbeda.

Dalam konteks audit internal di dalam perusahaan/organisasi maka pendapat auditor harus akuntan tidak sepenuhnya sesuai. Berbeda dengan akuntan publik, audit internal harus memberikan asurans atau memberikan penilaian kewajaran informasi yang dihasilkan oleh seluruh unit kerja di bawah Direksi. Unit kerja di bawah direksi sangat beragam. Kompetensi akuntan sangat terbatas.

Untuk auditor internal diperlukan kompetensi yang tidak hanya berlatar belakang akuntan, namun juga dibutuhkan kompetensi dan pemahaman dan pengalaman lain yang relevan dengan proses bisnis yang harus diberikan penilaian atau asurans. Dengan ini maka selain akuntan, auditor internal juga dapat berlatar belakang lain. Kompetensi utama yang dibutuhkan oleh auditor internal adalah pemahaman akan proses bisnis perusahaan..

Oleh: Bang Odit

Read more

ASAL KATA AUDIT = MENDENGAR?

10 Feb 2022

Kata audit yang saat ini kita asosiasikan sebagai aktivitas melakukan pemeriksaan atas suatu informasi ternyata memiliki akar sejarah yang tidak berkaitan dengan aktivitas pemeriksaan. Audit berasal dari kata dalam bahasa latin yaitu “Audere” yang memiliki makna mendengar. Dengan makna ini maka secara epistimologi audit justru memiliki akar kata yang sama dengan audio atau suara. Pada saat ini rasanya tidak ada keterkaitan antara audit dengan audio.

Dari kata audere hingga kemudian membentuk kata audit merupakan sejarah yang Panjang. Mengapa audit memiliki kata dasar audere atau aktivitas mendengar yang secara umum tidak memiliki keterkaitan secara langsung. Hal ini tidak terlepas dari aktivitas audit atau evaluasi dan verifikasi secara independent dan obyektif telah berlangsung sejak jaman pra sejarah dimana bidaya tulis menulis belum menjadi bagian dari aktivitas.

Pada masa itu seorang maharaja memiliki sejumlah daerah taklukan. Masing-masing daerah taklukan ini wajib menyerahkan upeti sebagai komitmen sebagai daerah taklukan sebagai kontribusi dari penguasaan dan perlindungan yang diberikan oleh sang maharaja. Dengan belum digunakannya media tulis maka seorang raja akan memerlukan konfirmasi validitas dan akurasi dari besaran upeti yang dikirimkan dari masing-masing daerah jajahan. Untuk itu raja akan mengutus stafnya yang dipercaya untuk mencari informasi dan mengandalkan pendengaran ke masing-masing daerah kontributor upeti. Hasil pendengaran ini kemudian disampaikan ke raja dan kemudian dibandingkan dengan fakta upeti yang diterima. Kontribusi dari informan raja ini merupakan aktivitas audere yang kemudian berevolusi menjadi kata audit.

Praktik Maharaja dalam melakukan validasi besaran upeti yang diterima ini ternyata sejalan dengan kaidah audit saat ini. Kesesuaiannya antara lain dalam hal independensi dan obyektifitas. Petugas yang dikirimkan adalah petugas kepercayaan raja yang tidak memiliki keterkaitan dengan daerah jajahan sehingga hasil pendengarannya menjadi handal dan tidak terdistorsi.

Dalam perkembangan saat ini aktivitas audit sudah sangat kompleks. Saat ini penggunaan teknologi sudah menjadi bagian dari pekerjaan dan aktivitas auditor. Aktivitas auditor tidak lagi hanya sekedar mendengar namun telah jauh lebih kompleks. Namun terdapat satu hal yang paling mendasar yaitu Independensi dan Obyektifitas. Kontribusi audit dan khususnya audit internal akan sangat handal jika auditor senantiasa menerapkan independensi dan obyektifitas.

Read more


News

PROGRAM PENGENDALIAN GRATIFIKASI ATAS PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

06 Jan 2022

Indikator/Parameter penilaian dan Evaluasi atas penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN salah satu indikator atas Komitmen terhadap Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) adalah Perusahaan melaksanakan program pengendalian gratifikasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, diantaranya ditandaI dengan:

1. Perusahaan memiliki ketentuan/kebijakan tentang Pengendalian Gratifikasi

2. Perusahaan melaksanakan upaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap kebijakan/ketentuan gratifikasi;

3. Perusahaan mengimplementasikan pengendalian gratifikasi.

4. Perusahaan melaksanakan program pengendalian gratifikasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Read more

PERAN AUDIT INTERNAL DALAM MENGHADAPI TANTANGAN RISIKO PANDEMI COVID 19

04 Jan 2022

Tanpa disadari, pandemi Covid 19 telah berdampak  terhadap keberlangsungan  berbagai sektor kehidupan seperti sektor pemerintahan, sosial ekonomi, dan bisnis. Dampak yang timbul akibat pandemi Covid 19 ini  dirasakan oleh pemerintah, perusahaan, dan juga masyarakat umum. Dalam proses bisnis, pandemi Covid 19 telah mempengaruhi kegiatan operasional yang dijalankan oleh suatu entitas perusahaan. Pandemi Covid 19 juga mendatangkan risiko  yang mungkin terjadi dalam keberlangsungan bisnis seperti risiko penurunan pendapatan dan kerugian, pengurangan produktivitas karyawan, dan penurunan investasi. Berbagai alternatif kebijakan dan terobosan perubahan dirancang untuk memastikan kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan namun juga tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan semua pihak.

Salah satu perubahan yang diterapkan akibat pandemi Covid 19 adalah perubahan sistem kerja dari yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka menjadi sistem kerja jarak jauh atau work from home.  Sistem kerja jarak jauh atau work from home secara tidak langsung telah mengubah pola kerja sebuah organisasi atau perusahaan. Semua kegiatan pekerjaan  dilakukan secara online dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk tetap memastikan aktivitas perusahaan berjalan dengan baik. Sejalan dengan hal tersebut dibutuhkan pengendalian internal yang baik untuk menjamin keberlangsungan aktivitas perusahaan di tengah kendala yang dihadapi.  Dalam hal ini, peran audit Internal sangat dibutuhkan untuk menilai berbagai risiko yang mungkin terjadi selama penerapan kebijakan baru yang diterapkan oleh suatu perusahaan. Audit Internal berperan penting dalam membantu perusahaan memahami dampak Covid 19 dan  menciptakan pengendalian internal yang efektif untuk meminimalisasi kemungkinan risiko yang dihadapi.

Pada dasarnya, risiko tidak dapat dihindari  dari aktivitas bisnis perusahaan, sehingga diperlukan manajemen risiko yang baik untuk mengatasi kemungkinan- kemungkinan buruk yang akan dihadapi. Auditor internal suatu perusahaan harus mampu menilai dampak operasional yang timbul akibat pandemi Covid 19 dan menyesuaikan rencana audit untuk tetap menjaga kelangsungan bisnis agar tujuan dan nilai perusahaan yang dikehendaki tetap tercapai. Auditor internal dintuntut untuk proaktif dan terus berperan dalam membantu perusahaan menghadapi dampak krisis akibat pandemi Covid 19. Auditor internal juga dapat memberikan masukan terkait perubahan prioritas perusahaan dan menjamin penerapan manajemen risiko yang baik di tengah pandemi Covid 19. 

Berikut beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh auditor internal dalam memberikan jaminan berkelanjutan atas suatu kegiatan operasional perusahaan selama pandemi Covid 19:

Memahami dan menilai berbagai risiko perusahaan.

Seorang auditor internal harus mampu menilai berbagai risiko langsung yang terjadi dalam perusahaan baik itu risiko yang terkait dengan tata kelola perusahaan, komunikasi, kegiatan operasional dan pelaporan. Prosedur penilaian risiko dan pemahaman audit yang baik sangat dibutuhkan untuk menjalankan pengendalian internal perusahaan. Auditor internal hendaknya dapat mengevaluasi risiko- risiko tambahan yang muncul sepeti gangguan operasional pada setiap perubahan model bisnis yang diakibatkan oleh pandemi.

Menilai manajemen krisis dan rencana kelangsungan bisnis termasuk pengaturan terhadap pemanfaatan teknologi informasi.

Auditor internal menilai apakah manajemen telah mengindentifikasi siginifikansi risiko bisnis yang muncul dan bagaimana kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Auditor internal juga harus terbiasa dengan remote auditing atau audit jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi sebaik mungkin.

Memberikan masukan terkait risiko - risiko langsung yang dihadapi perusahaan.

Auditor internal hendaknya mampu menemukan potensi kerugian yang mungkin terjadi dan mencari cara untuk menangani risiko tersebut. Auditor internal perlu melakukan analisis yang mendalam untuk dapat memberikan rekomendasi kepada manajemen perusahaan terkait langkah - langkah perbaikan yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak akibat risiko yang terjadi.

Beradaptasi dengan sistem kerja jarak jauh dengan tetap menunjukkan kinerja yang efektif.

Auditor perlu menyesuaikan diri dengan pola kerja jarak jauh dengan tetap menjaga komunikasi yang baik kepada semua pihak seperti regulator, manajemen perusahaan, dan pihak- pihak yang mendukung berlangsungnya tata kelola perusahaan  yang baik.  Auditor internal juga dapat menerapkan sistem remote auditing atau proses audit jarak jauh dimana bukti - bukti audit yang diperlukan menggunakan data elektronik. Digitalisasi metode audit seperti remote auditing perlu dirancang untuk memastikan proses audit tetap berjalan lancar dan efisien.

Memperbaharui rencana audit sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Auditor internal tidak boleh memaksakan pelaksanaan audit yang sudah tidak relevant dengan prioritas manajemen dan profil risiko yang dihadapi perusahaan. Auditor perlu memberikan konfirmasi dan informasi tentang rencana perlunya perubahan rencana audit yang sesuai dengan risiko perusahaan yang sedang dihadapi. Audit Internal juga harus berkontribusi dalam menyusun rencana audit sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi perusahaan.

Tindakan yang efektif dan tepat sasaran merupakan kunci keberhasilan  perusahaan untuk mencegah dan mengatasi risiko  yang dihadapi. Auditor internal sebagai pihak yang aktif dalam hal pengawasan dan pengendalian  juga harus memberikan dukungan penuh terhadap perusahaan untuk menjamin keberlangsungan proses bisnis dan tercapainya  tujuan  serta nilai perusahaan di tengah masa- masa sulit akibat pandemi Covid 19.

Sumber: Mazars

Read more

INDIKATOR ATAS KOMITMEN TERHADAP PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK/GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

12 Nov 2021

Berdasarkan Surat Keputusan Sekretaris Kementerian BUMN Nomor: SK-16/S.MBU/2012 tentang Indikator/Parameter penilaian dan Evaluasi atas penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN Terdapat 6 (enam) aspek pengujian/indikator atas Komitmen terhadap penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG), yaitu:

1) Perusahaan memiliki Pedoman Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG Code) dan Pedoman Perilaku (Code of Conduct) yang ditinjau dan dimutakhirkan secara berkala;

2) Perusahaan melaksanakan Pedoman Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG Code) dan Pedoman Perilaku (Code of Conduct) secara konsisten;

3) Perusahaan melakukan pengukuran terhadap penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG);

4) Perusahaan melakukan koordinasi pengelolaan dan administrasi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN);

5) Perusahaan melaksanakan program pengendalian gratifikasi sesuai ketentuan yang berlaku; 6) Perusahaan melaksanakan kebijakan atas sistem pelaporan atas dugaan penyimpangan pada perusahaan yang bersangkutan (whistle blowing system)

Read more

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) - DEFINISI, PRINSIP, TUJUAN PENERAPAN DAN ASPEK

04 Nov 2021

Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor Per-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada Badan Usaha Milik Negara mendefinisikan Tata Kelola Perusahaan yang baik/Good Corporate Governance (GCG) adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha. Prinsip GCG dikenal dengan istilah TARIF yakni (Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, Fairness) 

Berdasarkan SK Sekretaris Kementerian BUMN Nomor: SK-16/S.MBU/2012 tentang Indikator/Parameter penilaian dan Evaluasi atas penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN menyatakan bahwa aspek penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN meliputi: (1) Komitmen terhadap penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) secara berkelanjutan, (2) Pemegang Saham dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)/Pemilik Modal, (3) Dewan Pengawas/Dewan komisaris, (4) Direksi, (5) Aspek Lainnya.

Tujuan penerapan GCG yaitu untuk mencapai kesinambungan usaha (sustainablity) perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan (stakeholder) . terdapat beberapa tujuan penerapan prinsip GCG sebagai berikut : 

1. Mengoptimalkan nilai BUMN agar budaya saing nasional maupun internasional sehingga keberadaan BUMN mampu berdampak signifikan terhadap kemajuan bangsa dan negara 

2. Mendorong Pengelolaan BUMN secara profesinal, efisien, efektif serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian organ Persero / organ Perum

3. Mendorong agar keputusan dan tindakan Organ Perusahaan BUMN dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan

4. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional dan meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional 

 

Read more


News

DISTORSI PESAN AKIBAT MISPERSEPSI DALAM KOMUNIKASI AUDIT

03 Nov 2021

Inti dari sebuah komunikasi adalah ‘penyampaian pesan’ dari komunikator kepada komunikan. Komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang disampaikan komunikator dapat diterima dan dipahami oleh komunikan. Efektivitas komunikasi bergantung pada kemampuan komunikator dan komunikan dalam menyampaikan dan mengartikan sebuah pesan. Seorang komunikator yang dipersepsikan sebagai orang yang ramah dan suka menolong, ketika bertanya ‘dimana rumah anda?’ kepada komunikan akan diartikan sebagai ajakan untuk menjalin persahabatan. Sebaliknya, jika pertanyaan ‘dimana rumah anda’ keluar dari mulut seseorang yang dipersepsikan sebagai orang yang kasar dan suka berbuat onar maka akan diartikan sebagai ancaman oleh komunikan. Jika seseorang salah mempersepsikan lawan bicara, maka akan terjadi distorsi pesan yaitu kesalahan dalam mengartikan pesan.

Salah seorang pakar komunikasi, Jalaluddin Rakhmat (2008: 98), menjelaskan bahwa kegagalan komunikasi dapat terjadi akibat dari persepsi yang salah terhadap lawan bicara. Persepsi komunikator terhadap komunikan, begitu juga sebaliknya, akan menentukan apakah pesan yang disampaikan oleh kedua belah pihak akan mengalami distorsi atau tidak. Dalam kaitannya dengan komunikasi audit, auditor cenderung dianggap sebagai pihak yang memiliki posisi yang lebih dominan dibandingkan auditee. Ketidaksetaraan tersebut akan berimplikasi terhadap cara pandang auditee terhadap auditor. Segala hal yang disampaikan oleh auditor, memiliki kemungkinan untuk dianggap sebagai sebuah ‘serangan’ oleh auditee. Jika hal ini terjadi, maka auditee akan merespon dengan sesuatu yang bersifat defensif. Ketika sebuah pemeriksaan dilakukan oleh seorang auditor level junior kepada auditee dengan jabatan tinggi dan usia yang jauh lebih tua, maka ada kemungkinan auditor akan merasakan ketidaksetaraan posisi. Jika, auditor level junior tersebut mempersepsikan auditee sebagai pihak yang lebih kuat dan dominan, maka auditor bisa saja mengartikan pesan yang disampaikan auditee sebagai sebuah intimidasi. Distorsi pesan dalam proses komunikasi pun tidak bisa dihindari.

Untuk menghindari terjadinya distorsi pesan dalam komunikasi audit, hal yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa persepsi kita terhadap orang lain mungkin salah. Komunikasi interpersonal akan menjadi lebih baik bila kita mengetahui bahwa persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru (Jalaluddin Rakhmat, 2008). Informasi tentang auditor ataupun auditee sebelum proses pemeriksaan harus dilihat sebagai informasi yang independen dan tidak perlu dinilai sebagai baik atau buruk karena mungkin saja saat proses audit, ada fakta-fakta lain yang kita temukan. Keterbukaan terhadap kemungkinan munculnya fakta yang berlawanan dengan informasi yang dimiliki sebelumnya, akan membantu kita dalam mengartikan pesan secara objektif sehingga tujuan komunikasi dapat tercapai.

Sumber:

Rakhmat, Jalaluddin. (2008). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.        

Read more

MENGELOLA KECEMASAN DALAM KOMUNIKASI PADA PENUGASAN AUDIT

27 Aug 2021

Tugas audit yang melibatkan entitas dan auditee yang baru dikenal bisa saja dialami oleh auditor internal. Dalam melakukan penugasan audit terhadap entitas dan auditee yang baru dikenal, auditor internal akan menunjukkan salah satu dari dua kemungkinan perasaan yaitu perasaan positif dan perasaan negatif. Perasaan positif yaitu adanya antusiasme dan perasaan senang untuk melakukan pemeriksaan terhadap entitas dan auditee yang tidak dikenal sebelumnya. Perasaan negatif yaitu rasa cemas dan khawatir karena belum memiliki informasi yang memadai tentang entitas dan auditee yang baru dikenal. Informasi yang tidak memadai tentang auditee yang baru dikenal akan membuat auditor internal kesulitan dalam memprediksi apa yang akan terjadi saat proses pemeriksaan dan bagaimana strategi yang tepat untuk menghadapinya. Kecemasan yang dialami oleh auditor internal ini akan berdampak pada komunikasi yang dilakukan selama penugasan audit seperti yang dikatakan oleh Gudykunst (2005: 285) bahwa “mengelola kecemasan dan ketidakpastian merupakan proses utama yang mempengaruhi komunikasi seseorang dengan orang yang tidak dikenal”.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh auditor internal untuk mengurangi kecemasan dalam komunikasi dengan auditee yang baru dikenal. Pertama, mencari informasi yang akurat tentang auditee sebelum pelaksanaan audit. Informasi tentang auditee dapat berupa latar belakang budaya auditee, pandangan auditor lain terkait auditee, pandangan auditee lain yang sudah dikenal tentang auditee, dan informasi lain yang relevan.  Selain itu, perlu juga untuk mencari kesamaan antara auditor dengan auditee, jika terdapat banyak keterkaitan antara auditor dan auditee, maka hal tersebut dapat menurunkan kecemasan yang dialami oleh auditor internal. Hal tersebut sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa “Peningkatan jaringan/ networks antara individu dengan orang yang tidak dikenal akan menghasilkan penurunan kecemasan dan peningkatan kemampuan individu tersebut untuk secara akurat memprediksi perilaku mereka” (Gudykunst, 2005: 302 – 303).

Kedua, komunikasi yang efektif dihasilkan dari pengelolaan kecemasan dan ketidakpastian secara mindfull. Mindfullness berarti seseorang harus dapat menerima hal-hal baru dan memberikan perhatian penuh kepada proses komunikasi yang sedang berlangsung. Langer (1989) berpendapat bahwa mindfullness mencakup menciptakan kategori baru, terbuka terhadap informasi baru, dan mengenali perspektif orang asing (Gudykunst & Kim, 2003: 39-40). Keterbukaan terhadap perspektif baru dari auditee yang baru dikenal akan membantu auditor internal untuk memahami auditee secara utuh. Pemahaman yang baik terhadap auditee memudahkan auditor internal untuk menemukan gaya komunikasi yang tepat selama proses audit. Saat komunikasi telah berjalan dengan efektif, maka kecemasan yang dialami oleh auditor internal akan berangsur-angsur hilang.  

Sumber: Diana, A & Lukman, E. (2018). Pengelolaan Kecemasan dan Ketidakpastian dalam Komunikasi Antar Budaya antara Auditor dan Auditee. Jurnal Komunikasi Indonesia. VII (1), 99-108.

Read more

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)-DEFINISI, PRINSIP, TUJUAN PENERAPAN DAN ASPEK

07 Jul 2021

Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor Per-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik pada Badan Usaha Milik Negara mendefinisikan Tata Kelola Perusahaan yang baik/Good Corporate Governance (GCG) adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha.

Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) meliputi:

  1. Transparency, keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan   mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan;
  2. Accountability, kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif;
  3. Responsibility, kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat;
  4. Independency, perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat; dan
  5. Fairness, keadilan dan kesetaraaan didalam memenuhi hak-hak Pemangku Kepentingan (Stakeholders) yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.

Tujuan penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN adalah (1) Mengoptimalkan nilai BUMN agar berdaya saing nasional maupun internasional, sehingga keberadaan BUMN mampu berdampak signifikan terhadap kemajuan bangsa dan negara, (2) Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efisien dan efektif serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian organ persero/organ perum, (3) Mendorong agar keputusan dan tindakan organ Perusahaan BUMN dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, (4) Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional dan meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional.

Tujuan jangka pendek penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) adalah (1) Meningkatkan transparansi pengelolaan perusahaan, (2) Optimalisasi biaya modal, (3) Mencegah penyalahgunaan wewenang, (4) Meningkatkan nilai tambah bagi stakeholders, (5) Meningkatkan arus investasi kedalam perusahaan, (6) Mendorong pengambilan keputusan yang profesional, (7) Meningkatkan kinerja karyawan dan perusahaan. Sedangkan tujuan jangka panjang penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) adalah (1) Membentuk corporate culture yang baik, (2) Menjaga kredibilitas dan image perusahaan, (3) Mendorong kemajuan perusahaan secara berkesinambungan.

Berdasarkan SK Sekretaris Kementerian BUMN Nomor: SK-16/S.MBU/2012 tentang Indikator/Parameter penilaian dan Evaluasi atas penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN menyatakan bahwa aspek penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) pada BUMN meliputi: (1) Komitmen terhadap Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) secara berkelanjutan, (2) Pemegang Saham dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)/Pemilik Modal, (3) Dewan Pengawas/Dewan komisaris, (4) Direksi, (5) Penguatan Informasi dan Transparansi, (6) Aspek Lainnya.

Seluruh aspek tersebut menjadi landasan bagi seluruh organ perusahaan dalam penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG). Selanjutnya secara berkala setiap 2 (dua) tahun dilakukan asesmen penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) oleh asesor independen. Pada tahun berikutnya setelah asesmen GCG dilakukan evaluasi/reviu sebagai program untuk mendeskripsikan tindak lanjut penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik/Good Corporate Governance (GCG) yang meliputi evaluasi hasil penilaian dan tindak lanjut atas rekomendasi perbaikan.  

Read more

MEDIA PENINGKATAN KOMPETENSI PADA ERA "THE NEW NORMAL"

20 Apr 2020

Sampai dengan awal tahun 2020, Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan (PPA&K) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang audit internal, audit forensik, manajemen risiko, Good Corporate Governance, Akuntansi, Keuangan dan Perpajakan secara tatap muka langsung. Peserta dan fasilitator wajib hadir secara fisik di ruang-ruang kelas yang bertempat di berbagai kota yaitu Puncak Bogor, Yogyakarta, Malang dan Bandung.

Diawali di Wuhan RRC, pandemi Covid-19 menyebar hampir ke seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Pandemi Covid-19 memberi dampak cepat dan luar biasa bagi kesehatan dan menjalar ke segenap sisi kehidupan. Untuk menghindari penyebaran Covid 19 yang lebih luas, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan menjaga jarak (Physical Distancing)  lebih 1 (satu) meter dari orang lain. Penerapan ketentuan tersebut diantaranya work from home (WFH), menghindari pertemuan besar dan transportasi umum. Berkat teknologi informasi yang begitu maju, kita masih bisa tetap berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus berada dalam ruangan yang sama secara fisik.

Pada masa pascapandemi Covid-19 sebagai the new normal, diprediksi ada tren perubahan sosial, lingkungan dan bisnis. Interaksi fisik akan semakin terbatas namun interaksi digital selama masa WFH akan bertahan menjadi opsi utama dalam beraktifitas. 

Sebagai strategi untuk menghadapi kondisi saat ini dan pascapandemi Covid 19, PPA&K telah membangun portal Pembelajaran Jarak Jauh atau e-learning dengan nama PPA&K Virtual Class. Portal tersebut akan menghubungkan peserta baik dengan fasilitator maupun panitia dalam proses diklat.

Proses diklat setidaknya terdiri atas 3 (tiga) jenis aktivitas. Pertama, aktivitas diklat berupa pembahasan konsep dan diskusi studi kasus menggunakan metode komunikasi pada waktu yang telah ditentukan (real time) dengan kehadiran fasilitator dan peserta. Dengan metode tersebut diharapkan peserta dapat mengikuti waktu diklat setiap hari secara terstruktur dan adanya interaksi dengan fasilitaor dan peserta lainnya. Fasilitas yang digunakan adalah Video Conference dengan memanfaatkan diantaranya google meet/zoom/m-teams.  

Kedua, peserta melakukan pembelajaran mandiri dengan membaca atau mendengar materi diklat diantaranya adalah e-book/slide/mediavisual/audiovisual yang diterima oleh peserta. Pembelajaran mandiri tidak terikat pada jadwal yang ketat, tidak memerlukan komunikasi antara fasilitator dan peserta pada waktu yang bersamaan. Pembelajaran mandiri memerlukan motivasi dan kesungguhan dari diri sendiri.

Ketiga, peserta diberikan penugasan atau ujian atas materi diklat yang telah ditentukan waktu penyelesaiannya pada platform PPA&K Virtual Class. Aktivitas tersebut guna mengevaluasi atas capaian tujuan dan sasaran diklat.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS: Ar-Rad :11). “Tujuan dari belajar adalah terus tumbuh. Akal tidak sama dengan tubuh, akal terus bertumbuh selama kita hidup.” Mortimer J. Adler. (Filsuf Amerika)

Semoga krisis ini menjadikan kita semua terus berbenah, berubah dan bertumbuh serta lebih maju dan kuat lagi.

Read more


News



Request information Do you have some questions? Fill the form and get an answer!

Request information